Elvina Dora Artanti Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

Pandangan Sosiologi Durkheim tentang Kasus Pembunuhan dan Pemutilasian di Ciamis

2 min read

Di sebuah desa yang tenang di pinggiran kota Ciamis, Jawa Barat, kenyamanan penduduk setempat terguncang oleh tragedi yang mengerikan. Seorang suami yang seharusnya menjadi pelindung bagi istrinya malah berubah menjadi sosok yang sangat kejam.

Ia diduga membunuh istrinya dan memperlakukan tubuhnya dengan kekerasan yang sulit dibayangkan. Hasil dari tindakan brutal ini adalah jasad yang nyaris tidak dapat dikenali. Namun, kisah ini memiliki tikungan yang lebih menyeramkan.

Setelah melakukan tindakan yang keji ini, sang suami mencoba menjual jasad istrinya kepada siapa pun yang bersedia membayar. Hal ini menggambarkan betapa ekstremnya kekejaman yang dapat dilakukan oleh seseorang dan memicu pertanyaan tentang apa yang dapat mendorong seseorang untuk bertindak dengan begitu keji.

Kasus ini menjadi berita yang menggemparkan dan mengejutkan banyak orang di desa kecil itu dan sekitarnya. Warga desa yang biasanya hidup dalam ketenangan dan keharmonisan kini dipaksa untuk menghadapi kenyataan suram dari sisi gelap kemanusiaan.

Banyak yang bertanya-tanya tentang apa yang mendorong seseorang untuk bertindak dengan kekerasan semacam itu terhadap orang yang seharusnya dicintai dan dilindungi. Dalam penelusuran ini, kita tidak hanya mencoba memahami alasan di balik tindakan tragis ini, tetapi juga mengeksplorasi teori sosiologis terkemuka.

Dalam konteks kasus pembunuhan dan mutilasi ini, kita akan menggunakan pendekatan teori sosiologis Emile Durkheim. Emile Durkheim, seorang sosiolog Perancis yang terkenal, dikenal karena kontribusinya terhadap pemahaman kita tentang struktur sosial dan perilaku manusia.

Dalam teori sosiologi Emile Durkheim, salah satu konsep kunci yang akan kita terapkan adalah konsep anomie. Anomie adalah istilah dalam sosiologi yang menggambarkan kondisi kacau tanpa peraturan. Emile Durkheim mendefinisikan anomie sebagai keterasingan dari lingkungan masyarakat yang dialami oleh individu. Secara umum, istilah tersebut juga dapat dikatakan sebagai ketiadaan norma.

Baca Juga  Tentang Ibunda Fatmawati dan Muhammadiyah

Kondisi ini banyak menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat luas. Konsep anomie menurut Emile Durkheim mengacu pada keadaan ketika norma-norma sosial yang mengatur perilaku individu melemah atau rusak, sering kali karena perubahan drastis dalam masyarakat atau kondisi ekonomi yang sulit.

Dalam keadaan anomie, individu merasa kehilangan arah atau tujuan dalam hidup mereka karena norma-norma yang mengatur perilaku menjadi kabur atau tidak jelas. Ini dapat terjadi ketika ada perubahan mendadak dalam struktur sosial atau ketidakstabilan dalam kondisi ekonomi.

Dalam kasus ini, kekerasan yang dilakukan oleh suami mungkin menjadi hasil dari ketidakstabilan ekonomi dan ketidaktentuan sosial yang menghantui, memicu rasa putus asa dan kebingungan tentang nilai-nilai dan tujuan hidup yang dulu jelas.

Dalam analisis kasus pembunuhan dan mutilasi di desa Ciamis, kita juga dapat melihat kontribusi teori anomie Durkheim dalam memahami faktor-faktor sosial yang mungkin memengaruhi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Pertama-tama, kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya menunjukkan ketidakmampuan pelaku untuk mematuhi norma-norma sosial yang mengatur hubungan dalam keluarga. Sebagai suami, ia seharusnya bertindak sebagai pelindung dan penyokong bagi pasangannya, bukan malah menjadi pelaku kekerasan yang mengerikan.

Tindakan mengabaikan norma-norma sosial ini menunjukkan ketidakmampuannya untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial yang mengatur perilaku manusia. Selanjutnya, upaya pelaku untuk menjual jasad istrinya menunjukkan kehilangan arah atau tujuan dalam hidup, yang merupakan ciri khas anomie.

Pelaku tampaknya telah kehilangan pandangan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas yang biasanya dijunjung tinggi dalam masyarakat. Tindakannya mencoba memperlakukan jasad sebagai objek dagang mengindikasikan betapa kaburnya norma-norma sosial yang mengatur interaksi manusia dalam masyarakat.

Baca Juga  Toleransi Umat Beragama

Dengan menerapkan teori anomie Durkheim, kita juga dapat melihat bagaimana kondisi ekonomi yang sulit atau perubahan mendadak dalam struktur sosial dapat memicu perasaan putus asa dan ketidakpastian dalam pikiran pelaku.

Tekanan ekonomi yang berat mungkin telah menciptakan perasaan frustrasi yang mendalam, yang pada gilirannya dapat menyebabkan individu merasa terasing dan kehilangan kendali atas perilaku mereka. Melalui analisis ini, kita dapat melihat bagaimana teori anomie Durkheim membantu kita memahami faktor-faktor sosial dan ekonomi yang mungkin memengaruhi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Hal ini menyoroti pentingnya memahami konteks sosial yang lebih luas dalam memahami perilaku individu dan dampaknya terhadap masyarakat secara keseluruhan. Semoga dengan pemahaman ini, kita dapat mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah terjadinya kekerasan semacam ini di masa depan. [AR]

Elvina Dora Artanti Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya