Gratia Wing Artha Alumnus Progam Magister Sosiologi UNAIR

Melacak Jejak Multikulturalisme dalam Sistem Sosial Masyarakat Surabaya

2 min read

surabaya
sumber: surabaya.go.id

Sistem sosial adalah suatu hubungan antara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok yang saling berinterdependensi. Sementara itu, multikulturalisme adalah suatu nilai atau budaya yang memiliki keragaman  tersendiri.

Dalam sistem budaya, masyarakat memiliki kesempatan dalam berevolusi melalui perubahan sosial secara berkesinambungan. Dengan istilah lain, rentetan sejarah yang panjang berhasil  membuahkan suatu tatanan kolektif yang  bisa menghasilkan suatu integrasi  di tingkat yang lebih tinggi dan lebih erat.

Secara historis, Indonesia berakar pada tekad yang menekankan cita-cita luhur serta pengakuan terhadap perbedaan-perbedaan sebagai pengikat dan pemersatu bangsa. Persatuan itu terlihat dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Adalah suatu ikhtiar yang menekankan cita-cita kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan sebagai simbol serta perwujudan cita-cita bangsa Indonesia. Dari sini, kita dapat memahami hakikat nasionalisme Indonesia yang seharusnya menekankan dua sumber paling fundamental. Salah satunya adalah kebangsaan yang berpedoman pada nilai-nilai luhur bangsa. Hal ini terlihat dari masyarakat yang kuat dalam menjunjung nilai-nilai kemajemukan dan multikulturalisme, seperti yang terjadi di Surabaya.

Dalam masyarakat majemuk Surabaya, terlihat adanya rasa persatuan dan gotong-royong yang solid dan teratur. Dalam pandangan saya, multikulturalisme masyarakat Surabaya lebih menekankan pada sistem kepercayaan dan saling ketergantungan. Beragam kebudayaan yang mengisi kota Surabaya memengaruhi keberagaman corak kebudayaan masyarakatnya, khususnya sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki corak budaya mengagumkan.

Dalam sejarah, hanya dua kota besar yang memahami hakikat multikulturalisme, yaitu Jakarta dan Surabaya. Kedua kota ini berhasil menyatukan keanekaragaman kebudayaan masyarakat dalam kerangka multikulturalisme. Tugas intelektual dan budayawan adalah meningkatkan multikulturalisme di Surabaya agar mencapai taraf yang dapat membangun masyarakat kita.

Baca Juga  Benarkah Islam Agama Teroris?

Jika dimaksudkan tentang hakikat multikulturalisme yang eksotis, Surabaya sangat layak dijadikan sandaran dalam mengekspresikan wajah multikulturalisme. Terlebih lagi, sebelum dikenal sebagai kota metropolit terbesar kedua di Indonesia, Surabaya sudah dikenal dengan keanekaragaman kebudayaan yang menakjubkan dan disegani oleh negara lain.

Yang paling terpenting  multikulturalisme di kota Surabaya sangat bertingkat. Di kota besar ini kita bisa menemui banyak keragaman budaya. Hal ini terlihat dari gaya bahasa yang digunakan masyarakat Surabaya yang dinilai sangat unik daan menarik.

Keberagaman kebudayaan Surabaya adalah pemersatu kemajemukan masyarakatnya. Berbeda dengan Yogyakarta, yang masih mengandalkan satu unsur budaya sebagai pemersatu, yaitu kebudayaan Jawa Mataraman. Kebudayaan Surabaya terlihat lebih kompleks dibanding kota lainnya, terutama dengan keberagaman kuliner yang menjadi kekayaan masyarakat Surabaya.

Dalam sebuah topik diskusi di sebuah media pernah disebutkan bahwasannya kebudayaan Surabaya adalah kebudayaan multikultural dalam arti yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan masyarakat Surabaya memiliki sifat dan karakter terbuka akan perubahan yang ada, sebagaimana yang sering terlihat dalam sejarah perkembangan kotanya yang selalu mengalami kompleksitas dalam kebudayaannya.

Dalam pandangan Emha Ainun Najib, masyarakat Surabaya memiliki multikulturalisme yang menarik, didasarkan pada sistematika kebudayaan yang dimiliki. Hal ini disebabkan oleh transformasi kebudayaan masyarakat Surabaya yang telah berubah dari yang sederhana menjadi lebih kompleks.

Suatu wacana mengenai perkembangan dan perubahan masyarakat Surabaya akan membawa dampak beragam. Salah satunya adalah perkembangan pola pikir masyarakat yang lebih menghargai keberagaman. Dari sini, saya dapat menyimpulkan bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi di masyarakat Surabaya akan berimbas pada perkembangan politik dan ekonomi mereka.

Pandangan baru mulai terbentuk bagi masyarakat Surabaya yang disebut sebagai multikulturalisme. Oleh karena itu, perkembangan dan perubahan yang terjadi setidaknya harus memberikan warna baru bagi perkembangan dan perubahan budaya bangsa agar menjadi lebih baik.

Baca Juga  Pakaian Bukan Penentu Tingkat Keimanan Seorang Muslim

Pada hakikatnya, segala perubahan dan perkembangan di masyarakat Surabaya secara multikultural akan membawa dampak positif dan negatif bagi mereka. Namun, setidaknya perubahan faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat Surabaya secara multikultural harus dipertimbangkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat Surabaya secara multikultura adalah perubahan kondisi sosial, ekspansi teritorial (peluasan daerah) dan gerak populasi, komunikasi yang bebas, pembagian kerja, tingkat fertilitas (kelahiran) yang berbeda, situasi politik. Namun, ada juga beberapa faktor yang menghambat multikulturalisme budaya Surabaya, seperti perbedaan rasial dan kesukuan, diskriminasi kelas, kemiskinan, perbedaan jenis kelamin.

Berdasarkan hasil pengamatan saya di Gedung Balai Budaya Cak Durasim, kebudayaan masyarakat Surabaya sangat beragam. Keberagaman ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat kota Surabaya. Yang perlu ditekankan dari semua kekayaan budaya Surabaya adalah upaya penguatan toleransi dan multikulturalisme, sehingga menimbulkan dampak positif bagi keberlangsungan kebudayaan masyarakat Surabaya.

Seorang budayawan ludruk asli Surabaya menyatakan bahwa menjaga kebudayaan Surabaya agar tetap dihargai dan dianggap memiliki nilai estetika tinggi oleh masyarakat dunia memerlukan kerja sama antara pemerintah kota dan masyarakat dalam memproklamirkan khazanah kebudayaan Surabaya yang bernilai estetika tinggi.

Perkembangan yang ada dapat membangun khazanah intelektual yang memapankan kehidupan bermasyarakat, membawa kebudayaan masyarakat Surabaya ke arah yang lebih mapan dari masa sebelumnya. [AR]

Gratia Wing Artha Alumnus Progam Magister Sosiologi UNAIR