Gratia Wing Artha Alumnus Progam Magister Sosiologi UNAIR

Mencari Guru Ideal di Indonesia

2 min read

Sudah jamak terjadi di negeri ini bahwa banyak sekali tenaga pengajar, tetapi sedikit sekali yang menjadi guru. Menjadi guru di sini ialah benar-benar memiliki jiwa seorang guru yang tidak hanya melaksanakan tugas mengajar, melainkan mempunyai tanggung jawab moral untuk mendidik dan membersamai siswa dalam berproses menjadi pribadi yang lebih baik.

Tidak heran, pendidikan di Indonesia masih dikatakan belum mampu mendidik siswa untuk menjadi pribadi yang matang. Hal ini lantaran setiap guru masih belum memahami filosofi tentang menjadi seorang guru. Menjadi seorang guru berarti siap untuk mengemban tugas moral melayani generasi muda untuk menjadi kader masyarakat yang baik.

Perlu untuk direnungkan bahwa filosofi guru (digugu dan ditiru) masih menjadi sekadar slogan kosong tanpa mempunyai makna. Benar saja di Indonesia guru masih mempunyai ego yang kuat sehingga tidak heran menjadikan siswa sebagai objek yang patut untuk patuh, bukan menjadikan subjek yang kreatif dan inovatif.

Maka dari itu, tugas moral yang diemban oleh para guru hanya sekadar nilai-nilai filosofis yang diucapkan ketika Hari Guru, tanpa adanya realisasi menciptakan para guru yang benar-benar menghayati profesi guru.

Mencari guru ideal di Indonesia sama saja dengan mencari titik putih di air yang keruh, terlebih lagi profesi guru dijalankan asal-asalan atau dengan setengah hati, padahal guru merupakan fondasi terpenting dalam membangun manusia Indonesia yang berkualitas.

Jika kualitas para guru cenderung rendah, maka akan berakibat pada degradasi kualitas manusia Indonesia. Dari sinilah guru mempunyai peran penting sebagai mesin pembangunan manusia Indonesia untuk dapat bersaing secara global. Anehnya, di Indonesia, profesi guru hanya dijalani sebagai kegiatan untuk mencari nafkah, tanpa adanya kesadaran dan tanggung jawab sosial yang melekat pada profesi agung tersebut.

Baca Juga  Dramaturgi Pemuka Agama di Indonesia

Menjadi guru tidak harus bersikap seperti malaikat, meski mengemban profesi guru seseorang harus mempunyai budi pekerti yang baik dan mempunyai semangat untuk selalu menjadi pembelajar. Tanpa kemauan guru untuk menjadi pembelajar, profesi guru hanya akan menjadi sekadar profesi yang hanya untuk mencari sesuap nasi belaka dengan mengorbankan masa depan generasi muda Indonesia.

Jelas-jelas kondisi seperti ini akan merusak generasi muda Indonesia secara perlahan-lahan, serta generasi muda Indonesia akan mengalami kemerosotan dalam segi kualitas.

Guru Mengemban Tanggung Jawab Sosial

Banyak yang menganggap menjadi guru adalah profesi yang mudah karena gaji pasti, dan tugasnya hanya mengajar dengan jam kerja yang tidak terlalu menyita waktu. Anggapan khalayak umum justru salah besar karena menjadi guru mengemban tanggung jawab sosial karena guru adalah fondasi penting dalam membangun kualitas manusia Indonesia.

Dalam tradisi Nusantara dulu, profesi guru mempunyai andil besar dalam mendidik para pemimpin masyarakat. Dengan kata lain, memilih profesi guru berarti siap mengemban tugas yang amat berat. Dapat kita baca dalam cerita pewayanagan bagaimana guru Drona mempunyai kedudukan begitu tinggi dengan melatih dan membimbing baik secara fisik maupun mental para pangeran Kerajaan Hastinapura.

Melalui cerita tersebut dapat kita rasakan profesi guru merupakan profesi yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, melainkan orang yang cakap secara intelektual, moral, dan spritual yang mampu untuk menjadi guru. Dengan memilih profesi guru berarti siap dan mampu untuk memikul tanggung jawab yang diberikan masyarakat dan negara di pundak dan otaknya.

Dibutuhkan kesadaran bahwa memilih profesi guru berarti siap untuk mendidik diri sendiri hingga matang terlebih dahulu sebelum mendidik orang lain. Akan tetapi, realitas berkata lain. Di Indonesia menjadi guru dianggap sebagai empunya kebenaran mutlak, padahal guru harus senantiasa belajar, termasuk mau belajar hal-hal baru termasuk pada siswa-siswanya sendiri yang lebih muda.

Baca Juga  Fiqh Dinamis: Yusuf al-Qaradawi dan Tantangan Hukum Islam di Era Teknologi

Memilih menjadi guru berarti mengurangi keangkuhan dan rasa ingin merasa benar karena menjadi guru berarti bersedia untuk menjadi murid sepanjang hayat. Tanpa adanya penanaman filosofi ini, profesi guru hanya akan menjadi suatu profesi yang kosong tanpa ada penghayatan terhadap profesi guru itu sendiri.

Siapkah Kita untuk Menjadi Guru?

Menjadi guru memerlukan kesiapan yang sangat matang karena dengan menjadi guru berarti bersedia untuk hidup sederhana dan berjiwa pencari ilmu. Jika memilih profesi guru tanpa adanya sikap kerendahan hati sebagai pencari ilmu, maka akan  merusak citra profesi guru itu sendiri.

Patut untuk ditekankan bahwa para guru di Indonesia masih belum memperlihatkan jiwa sebagai “guru”. Keseharian yang dilakukan oleh para guru di Indonesia hanyalah keseharian sebagai pengajar, padahal menjadi guru berarti siap dan mampu untuk mengemban tugas mendidik dan membersamai anak bangsa untuk berkembang lebih baik dari generasi sebelumnya.

Hal paling mendasar yang perlu dibangun dalam diri para guru di Indonesia ialah kesabaran untuk mendidik, bukan sekedar menyampaikan ilmu. Terlebih lagi, bagi para guru sekoah dasar perlu dibangun kesadaran untuk mendidik dengan baik bibit-bibit generasi muda yang nantinya akan terus tumbuh dan berkembang.

Oleh karena itu, menjadi guru bukan hanya sekadar ranah untuk mencari nafkah, melainkan lebih terutama ranah pengabdian dan bekerja untuk mendidik generasi penerus bangsa. Membangun kualitas guru di Indonesia tidak dapat dilakukan secara mudah—diperlukan proses yang panjang dan menguras banyak energi.

Tanggung jawab membangun kualitas guru di Indonesia merupakan tugas penting yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh kita bersama. [AR]

Gratia Wing Artha Alumnus Progam Magister Sosiologi UNAIR