Ali Yazid Hamdani Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

[Resensi Buku] Pandemi, Problem Kemanusiaan dan Keberagamaan

3 min read

Source: lefo.id

Judul Buku: Corona Ujian Tuhan, Sikap Muslim Menghadapinya

Penulis: M. Quraish Shihab

Penerbit: Lentera Hati

Tebal: 136 Halaman

Cetakan: April 2020

ISBN: 978-623-7713-26-5

Sejak awal penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Banyak muncul kesimpangsiuran isu-isu yang beredar di jagat maya. Para pakar menyebut virus ini SARS-CoV-2 yang masih satu keluarga dengan virus corona. Bukan saja karena ke-baruannya yang muncul pertama kali di Wuhan, China. Hingga akhirnya mengglobal, dan saat kini pun obat vaksin belum juga ditemukan. Kajian demi kajian telah dilakukan, penelitian juga telah digalakkan oleh mereka yang memiliki kompeten di bidangnya namun belum juga terpecahkan.

Tak ayal virus ini juga memberikan kontribusi menaikkan indeks kematian daripada sebelumnya, dari yang masih belia hingga yang lanjut usia sekalipun memiliki potensi untuk menjadi sasaran empuk virus corona, Masyarakat desa maupun kota, kiyai maupun santri, bahkan virus ini peduli apakah kita beragama Islam atau bukan, dokter sebagai garda terdepan pun juga mengalami hal yang sama.

Mufasir prolifik Prof. M. Quraish Shihab di tengah kesibukannya melahirkan coretan barunya. Cendekia Muslim Indonesia yang piawai memainkan kata yang kaya akan makna. Tentu saja, beliau tidak akan memberikan secara panjang bagaimana cara menemukan obat vaksin dengan cepat dan tepat, tidak juga berpanjang lebar menguliti apa, siapa, dan bagaimana virus ini. Namun beliau lebih menititktekankan untuk menjawab, merespon serta berusaha untuk meluruskan persoalan yang muncul dengan kacamata Islam yang berasaskan Alquran dan Sunnah.

Kita pernah mendengar di berbagai media sosial, bahwa Covid-19 ini adalah azab dari Allah, Corona adalah Tentara Allah. Hal yang demikian disangkal oleh Beliau, ia memberikan penjelasan secara gamblang dan jelas. Menurutnya, jika saja Corona memang merupakan Tentara Allah tentu yang terjangkit olehnya hanya orang-orang yang dzalim dan berbuat jahat. Sedangkan virus ini menjangkiti siapa saja yang ia kehendaki, tidak pandang bulu entah dia seorang Muslim atau non-muslim, baik atau jahat. (hal 63).

Baca Juga  Benarkah Masjid Tempat Selamat dari Penularan Covid-19? [Bagian 2]

Beliau menguraikan perbedaan antara azab, finah, dan bala’ serta padanan kata yang sama yang diambil dari Alquran. (Hal 6-10) Sayyidina Ali Karrama allhu wajhah berkata: “Kalau ada musibah, jika menimpa yang durhaka, maka itu adab/pendidikan. Bila menimpa yang taat maka itu adalah ujian. Jika nabi dan rasul, maka itulah peningkatan derajat dan kedekatan kepada Allah sedang bila menimpa para wali maka itu adalah penghormatan untuknya.” (hal. 15-16)

Belum juga pemilintiran nash-nash Alquran dan Hadits yang berusaha dicocoklogikan seolah-olah sesuai dengan konteks sekarang, padahal hal demikian tidak sesuai dengan apa yang terjadi.

Banyak kita mendengar dari orang yang dikenal atau memperkenalkan diri sebagai ustadz bahwa, “Kita tidak perlu takut pada virus Corona, kita hanya perlu takut pada Allah. Perkara hidup dan mati ada di tangan Allah bukan terletak pada virus” padahal hal demikian tidaklah perlu dipertentangkan. Bukan berarti kita takut kepada virus berarti menentang dan berani atas kudrat dan iradah-Nya. Memang kematian tiada yang tahu, namun bukan berarti kita harus tetap dengan angkuh gagahnya mengatasnamakan Tuhan atas tindakan cerobohnya.

Steve Jobs pernah mengatakan dalam ceramahnya di Stanford University “Semua yang hidup pasti mati; jika tidak sekarang besok, jika tidak besok lusa, pekan depan, bulan depan, tahun depan, atau sekian tahun lagi, tapi kematian itu pasti tiba. Itu penemuan terbaik tentang dirinya. Setidaknya itu masih menjadi penemuan terbaik manusia hingga saat ini. Hal demikian senada dengan redaksi Alquran yang tertera di beberapa tempat “كل نفس ذاْئقة الموت ”

Dalam agama juga memperkenalkan dharurat dan hajat, yang intinya apabila melanggar ketentuan agama sekalipun/diharamkan. Hal itu dapat dibenarkan jika diduga keras (takut) akan adanya ancaman terhadap jiwa bahkan kehormatan seseorang. (lihat, QS. al-Baqarah [2]: 195 dan QS. Ali Imran [3]: 28 hal. 70) Memang harus diakui Islam memerintahkan berserah diri (tawakal) kepada Allah.

Baca Juga  Ramadan, wie befinden Sie sich? Pengalaman Ramadan di Freiburg, Jogja dan Palembang [Bagian 2]

Namun, apabila kita mau membuka kembali lembaran-lembaran Alquran akan kita temukan bahwa perintah tawakal menjadikan Allah sebagai wakil selalu didahului oleh perintah berusaha. Nabi juga bersabda “اِعْقِلْهَا ثُمَّ تَوَكَّلْ” Tambatlah terlebih dahulu baru bertawakkal. (Hal. 73) Harus didahului dengan upaya sungguh-sungguh yang tidak hanya berpangku pasrah pada Allah semata tanpa adanya usaha.

Pada hakikatnya Islam adalah agama damai bahkan di dalam Alquran disebut sebagai Rahmatan lil A’lamin. Pantaskah jika Islam abai terhadap maslahah kemanusiaan? Dengan dalih agama hingga mempertentang syariat dan realita kehidupan masyarakat. Islam tidak hanya tentang halal dan haram. Jika saja hal itu terjadi, kekakuan yang hanya memuat tentang halal-haram akan membawa pada hal yang bersifat ekslusif.

Menumbuhkan sifat peduli terhadap sesama, tidaklah membatalkan atau bertentangan dengan agama. Kalo boleh menimbang, atas nama kemanusiaan haruslah didahului daripada keberagamaan. Sekalipun berbeda jenis kelamin, ras, suku, bangsa dan agama sekalipun. Setidaknya kita saling bahu-membahu atas nama manusia sebagai mahluk sosial yang mengikat hal ini. Islam adalah agama kemanusiaan bukan turun untuk abai atas kesenjangan sosial yang terjadi. Khususnya di tengah masa pandemi.

Pemahaman lebih nan mendalam teks keagamaan dalam upaya mengontekstualisasikan kehidupan sehari-hari yang begitu dinamis perlu dilakukan upaya ijtihad untuk menjadi jawaban/problem solving yang terjadi dengan tetap berlandaskan kandungan nash-nash Alquran dan sunnah. Hal demikian perlu rasanya untuk memberikan kontra narasi terhadap isu-isu kesimpangsiuran yang seolah-olah bernuansa lebih islami dengan mempertentangkan problem kemanusiaan dengan keberagamaan, padahal keduannya tidaklah bersebrangan. Dengan tetap di bawah naungan sumber Islam untuk mencapai mashlahah yang diinginkan.

Buku tipis yang sangat menarik, penuh kejutan, serta kaya akan hikmah yang terkandung di dalamnya, Prof Quraish ingin memberikan pemahaman lebih mendalam kepada pembaca agar tetap meneguhkan kekuatan ikhtiar dan doa lalu tawakal dalam menyikapi pandemi ini tanpa sifat pesimis dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang disampaikan para ahli.

Baca Juga  Ramadan Di Singapura Yang Tak Seperti Biasanya

Wahai Tuhan Penyingkir keresahan pengenyah kesusahan Wahai Yang mengampuni dosa hamba-hamba-Nya dan merahmati mereka. Singkirkanlah keresahan kami. Enyahkan kesusahan kami jauhkan lah bala’ dan cobaan yang menimpa kami, demikian juga kemahalan dan ketinggian harga-harga serta aneka fitnah dan kerusuhan baik yang tampak maupun yang tersembunyi. (Hal. 118)

Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan. [MZ]

Ali Yazid Hamdani
Ali Yazid Hamdani Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta