Mengenal Orang yang Mengalami Toxic People Di Sekitar Kita (1)

2 min read

Dulu saya mengira orang beracun itu hanya ada dalam buku silat. Tetapi para ahli kesehatan jiwa mengatakan orang beracun itu sungguh-sungguh ada dalam kehidupan nyata.

Saya dulu pecandu berat buku silat. Berbagai macam buku silat sudah saya baca. Dari bacaan itu saya mengenal istilah manusia beracun. Ada beberapa buku silat yg berjudul manusia beracun; seperti Si Racun dari Barat (Chin Yung), Pukulan Hitam (SD Liong), Telapak Emas Beracun, Tangan Berbisa (Khu Lung), dan mungkin ada beberapa lagi. Kesemua itu bercerita tentang orang yang tubuhnya mengandung racun. Sangat berbahaya berurusan dg mereka.

Jika dia menyentuh tubuh seseorang atau orang menyentuh bagian tertentu dari tubuhnya, risikonya sangat besar. Karena racun yang ada pada dirinya akan berpindah ke tubuh orang yang bersentuhan dengannya, dan berakibat fatal (melumpuhkan atau bahkan merenggut jiwa orang tsb). Hanya orang yang tak mengenalnya atau yang betul-betula memahaminya, atau yang meyakini bahwa dia mampu mengatasi dirinya, yang berani dekat atau berurusan dengannya.

Pada umumnya orang, terutama yang jahat, menghindar darinya. Dalam buku silat yang saya sebutkan diatas, mereka (orang beracun itu) adalah pahlawan, para pendekar; tetapi dalam buku silat yang lain, kebanyakan adalah penjahat yang sadis, tanpa belas kasihan, yang pada umumnya hidupnya berakhir tragis (dilumpuhkan oleh racun yang ada tubuhnya sendiri).

Itu kisah dalam buku-buku silat. Saya tidak begitu percaya manusia beracun itu ada dalam kehidupan nyata. Tetapi para ahli kesehatan jiwa belakangan ini mengenalkan istilah toxic people untuk sebuah karakter yang khas. Tidak persis sama dengan versi buku silat. Sama-sama beracun, tetapi karakternya berbeda; terutama dlm buku2 silat yang saya sebutkan di atas.

Baca Juga  Agama Mana yang Paling Benar?

Istilah toxic people sekarang dialamatkan kepada seseorang yang sifatnya atau pribadinya kebanyakan menyusahkan dan merugikan orang lain, baik itu secara fisik maupun emosional. Orang beracun dalam dunia nyata adalah yang menebarkan sesuatu yang negatif ke lingkungan sekitarnya.

Konon toxic people adalah orang-orang yang sulit merasakan kebahagiaan. Hidupnya terus menerus dibayang-bayangi rasa tidak puas, dan sering mengeluh. Hidupnya penuh dengan rasa curiga dan dendam. Memandang orang lain itu sebagai obyeknya semata (untuk diekploitas). Mungkin mereka itu juga yang, dlm bahasa agama, disebut orang2 tak pandai bersyukur, krn dlm dirinya ada penyakit (yang terus menerus bertambah).

Para ahli menyebut toxic people sebagai gangguan kepribadian (personality disorder); yakni cara berpikir, merasa, berperilaku yang berpusat pada diri sendiri. Toxic people kesulitan memahami situasi orang lain. Karakter ini konon terbentuk karena pengalaman dan lingkungan; ada juga yang mengatakan itu bawaan.

Gangguan kepribadian memang persoalan mental, tetapi bukan gangguan mental (mental disorder). Para ahli membedakannya dengan gangguan mental (depresi; gangguan kecemasan; bipolar, perubahan suasana hati yang berlangsung tiba-tiba; skizofrenia, dimana penderita sulit membedakan kenyataan dan khayalan sehingga tidak realistis, suka berhalusinasi). Tetapi kebanyakan ahli tetap menganggapnya sebagai bagian dari gangguan mental.

Ada beberapa ciri toxic, seperti selalu menonjolkan diri bahwa dia adalah yang terbaik; orang terpercaya; egois; ngotot dan meyakini bahwa dirinyalah yang benar, cenderung memanipulasi; ahli berbohong; tidak mempunyai empati; sulit meminta maaf; memandang remeh orang lain, dan lainnya.

Tetapi yang banyak disebutkan (dianggap salah satu yang paling berbahaya) adalah kecenderungan memanipulasi, menguasai dan mengeksploitasi orang. Biasanya toxic people itu (berusaha) mengkaitkan diri dengan orang yang berpengaruh; dalam keluarga, di wilayah kerja atau dlm masyarakat.

Baca Juga  Mendamaikan Agama dan Sains: Belajar dari Pandemi “Maut Hitam”

Mereka sangat ulet mengupayakannya (dengan berbagai cara) untuk merebut kepercayaan yang bersangkutan; tentu dengan memanfaatkan ketulusan dan prasangka baik yang bersangkutan. Jika sudah mendapat kepercayaan maka dia akan lengket; dan berusaha dengan berbagai cara untuk mempertahankannya. Pada tingkat tertentu, dia seperti lintah; lengket, mencengkram dan mengisap; sulit banget lepas

Kedekatannya dengan orang yang berpengaruh, pada gilirannya kemudian digunakan untuk menekan dan mengekploitasi yang lain. Jadi dia tidak hanya mengisap tempatnya bergantung, tetapi juga memeras yang punya hubungan dengan tempatnya bergantung itu atau yang ada disekitarnya.

Untuk itu dia tidak ragu untuk berbohong. Jika kebohongannya terkuak dia akan berupaya dg berbagai cara licik untuk membersihkan diri (misalnya dengan melemparkan kesalahannya itu kepada org lain disekitar tempat itu). Dia juga tidak ragu melakukan intimidasi, bahkan kekerasan. Dia bisa mengkombinasikan berbagai cara (yang mengorbankan orang lain) untuk menutup kesalahannya.

Dia menghasut, menceritakan keburukan-keburukan (sebenarnya kejahatan yang dia lakukan sendiri yang ditempelkan kepada) orang-orang yang dianggapnya menghalangi. Dengan cara itu dia membuat orang-orang yang ada disekitar tempatnya itu saling curiga.

Kata para ahli (menghasut) ini juga adalah salah satu ciri yang paling berbahagia dari toxic people. Karena dengan ulahnya itu orang-orang yang mempunyai hubungan dekat atau bahkan yang bersaudara bisa saling bermusuhan. Kondisi tak stabil itu memang tampaknya menjadi sasaran antaranya; karena situasi seperti itu membuatnya leluasa melakukan aksinya.

Selanjutnya: Mengenal Orang yang Mengalami… (2)