Mengenal Orang yang Mengalami Toxic People Di Sekitar Kita (2)

2 min read

Sebelumnya: Mengenal Orang yang Mengalami… (2)

Perilaku toxic people hampir sama dengan psikopat, kata para ahli. Jika dia telah berhasil membuat orang lain melakukan apa yang ia inginkan, selanjutnya ia akan melakukan hal-hal yang lebih parah lagi; yang mungkin (bagi korban) memakan waktu lama untuk menyadarinya.

Ciri lain toxic people adalah membawa dirinya ke dalm situasi yang dramatis. Itu terutama terlihat setelah dia gagal. Ketika gagal atau hubungannya terputus, dia memulai konflik, melancar serangan balik yang agak brutal kepada orang-orang yang dianggap telah menggagalkan usahanya (misalnya, menyebar fitnah keji).

Dia akan mendatangi pihak lain, mengadu, dg menempatkan diri sebagai korban yang didzolimi, yang diperlakukan tidak adil, yang dilupakan segala kebaikan yang telah diperbuatnya sekian lama. Padahal dialah sebenarnya yang telah melakukan kerusakan. Tetapi itu kemudian ditempelkan kepada pihak yang dianggapnya telah menyebabkan dia kehilangan pegangan.

Dia akan berupaya agar orang-orang di sekitarnya, atau orang yg dihubungi paling tidak mendukung ceritanya. Tentu dia berbohong, memutar balik fakta atau me-lebih2kan untuk menggiring opini, supaya lingkungannya dan org lain mendukungnya melawan org yg dianggapnya telah membuyarkan mimpinya.

Dia juga bisa memberikan hadiah untuk mengikat kesetiaan orang kepadanya dan ceritanya. Dia biasa melakukan apa disebut emotional abuse (perilaku atau sikap nonfisik yang dirancang untuk mengendalikan, menaklukkan).

Sebenarnya Ini adalah salah satu bentuk kekerasan; kekerasan yg paling halus di antara jenis kekerasan lainnya. Karena kekerasan jenis ini tidak dirasakan dan sangat manipulatif. Salah satu perilaku yg biasanya digolongkan emotional abuse adalah memberikan hadiah secara berlebihan kepada orang lain dg maksud agar si penerima hadiah merasa bergantung dan terikat.

Baca Juga  Mengenang Buya Syafii Maarif: Tokoh Muhammadiyah yang Moderat dan Pluralis (1)

Beberapa ciri lainnya dari toxic people yang dikenali para ahli adalah tidak memiliki empati. Tidak bisa merasakan atau tidak bisa memahami persoalan orang lain. Jika ada yg orang atau keluarga (yang sebelumnya berhubungan dekat dengannya) tertimpa kemalangan, apalagi orang yg dianggap telah menyalahinya, dia tidak akan datang.

Jangankan datang, menyatakan belasungkawa pun tidak. Dia juga sulit sekali meminta maaf; meskipun sudah jelas-jelas bersalah. Dia tak pernah merasa bersalah. Dia menganggap kesalahannya itu disebabkan oleh kesalahan orang lain. Pokoknya bagi toxic people dirinyalah paling benar dan paling hebat. Ini yang oleh para ahli disebut Thanos Syndrome (perasaan paling hebat dan paling benar). Merasa dirinya sudah melakukan yang terbaik. Seringkali mengira semua hal akan berantakan dan berjalan tak mulus jika dirinya tidak ada.

Kata para ahli sangat repot berhubungan dan berurusan dengan toxic people. Sangat menguras energy (karena emosinya sulit ditebak, tidak mau mendengar, meyakini dirinya adalah korban, selalu merasa benar, dan tidak bertanggung jawab) serta juga menguras sumberdaya (karena kecenderungannya melakukan eksploitasi). Kata para ahli toxic people adalah pembohong dan pengkhianat yang sangat berbakat.

Itu sementara catatan saya tentang toxic people; yang saya ambil dari berbagai sumber. Entah benar atau tidak, ada itu yang namanya toxic people dalam dunia nyata. Itu tidak akan merusak keyakinan saya bahwa pada dasarnya orang itu baik. Semua orang lahir dalam keadaan fitrah. Bahwa kemudian ada yang tidak baik, ada yang melakukan kejahatan, ada yang berprilaku seperti yang digambar diatas, itu hal lain.

Itu hal yang datang atau yang muncul kemudian. Itu mungkin terjadi karena lingkungan, karena tekanan kehidupan, atau karena jebakan iblis. Nenek moyang kita dahulu kala telah menunjukkan bahwa kita, manusia, pada dasarnya baik. Kecenderungan merusak setelah sebagian memutuskan menetap, dan semakin parah setelah adanya proyek modernisasi; persoalan semacam personality disorder pun bermunculan.

Baca Juga  Kecendekiawanan, Benarkah Arahnya Berubah?

Dalam dunia (dengan jebakan hedonisme dan pragmatisme) seperti sekarang, itu bisa menimpa siapa saja. Tetapi itu, menurut saya, bisa diperbaiki. Karena pada dasarnya manusia itu baik. Caranya ? Kita bisa bertanya pada ahlinya. Tetapi secara prinsip, mingkin dengan empati dan kasih sayang; dengan komunikasi terbuka dan dengan batasan tegas; dengan kesabaran; jernih agar tidak terjebak dalam permainannya (yang penuh drama); dengan pertolongan profesional saya kira. Mungkin begitu. Entahlah. Wallahu a’lam bisshawab. (MMSM)