Konflik Berdarah Palestina-Israel: Pandangan Prof Rashid Khalidi dan Sikap Kita (2)

Sebelumnya: Konflik Berdarah Palestina-Israel… (1)

Bagi Palestina, berdirinya Liga Arab terbukti gagal mencegah berdirinya  negara Yahudi di Palestina.

Dan itulah yang membuat aktivis/milisi Hamas dan Jihad Islami nekad dan memilih mati syahid dengan cara membalas serangan Israel dengan roket-roket yang relative terbatas daya jangkau dan kekuatannya.

Namun AS/Barat  mungkin mulai menyadari bahwa  konflik Israel-Palestina tidak bisa diselesaikan dengan perang dan aksi militer, meski Israel merupakan salah satu negara dengan alat militer terbaik di dunia. Karena di atas Israel-AS masih ada kekuatan rakyat Palestina, kaum Muslim sedunia, simpatisan ummat Kristiani/Yahudi sedunia yang berakal sehat dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bahkan sangat mungkin diaspora orang Palestina dan Arab di  Eropa dan AS kelak bakal membalas menyerang  AS, Israel dan sekutunya, dengan aksi  terorisme, atau dengan dukungan politik, sokongan moral, bertambahnya  populasi  kaum Muslim di Barat, meluasnya Islamisasi di Eropa/AS dan sebagainya. Semua itu jadi keniscayaan karena ada kekuatan yang Maha Kuasa dan Maha Mutlak di atas sana.

Korban Serangan Israel: Warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel ke Gaza, Palestina.

Prof.Khalidi sering membandingkan kelemahan pengambilan keputusan Palestina, terutama sebelum tahun 1948, dengan perilaku penduduk Yahudi di Palestina di bawah Inggris yang lebih terorganisir, yang dikenal sebagai yishuv.

Khalidi dalam buku ‘’Iron Cage’’ menyodorkan pertanyaan pedihnya tentang apa yang disebut orang Palestina sebagai ‘’ al nakba’’, malapetaka – “mengapa masyarakat Palestina hancur begitu cepat pada tahun 1948, mengapa tidak ada perlawanan yang lebih terpadu terhadap proses perampasan, dan mengapa 750.000 orang melarikan diri dari rumah dalam beberapa bulan?. ”

Khalidi memiliki data tentang  kumpulan pelaku eksternal sendiri: penguasa kolonial Inggris seperti Lord Balfour, yang menolak untuk mengakui hak-hak nasional non-Yahudi; dukungan finansial yang boros untuk imigrasi Yahudi; romantisme dan sinisme para pemimpin Arab, yang baru lahir dari inkubator kolonial.

Seperti Inggris sebelumnya, Khalidi berpendapat, Amerika Serikat “secara konsisten mengutamakan kepentingan populasi Yahudi di negara itu daripada penduduk Arabnya,” dengan cara membantu Israel untuk mendorong “Palestina  ke sudut yang mustahil, ke dalam sangkar besi” (iron cage), dari mana, ia mencemaskan , negara Palestina yang layak mungkin, pada akhirnya, tidak akan muncul.

Prof Rashid Khalidi

Tapi Khalidi  juga banyak  mengkritik dan menyalahkan orang Palestina – atas persaingan di antara keluarga kaya Palestina yang bersaing untuk melayani tuan kolonial mereka, juga kritiknya pada  para pemimpin yang gagal melihat dampak Hitler pada imigrasi Yahudi ke Mandat Palestina,termasu kkritiknya  bagi mereka yang salah mengelola Palestina  tahun 1936 -39

Juga kritiknya atas Pemberontakan Palestina melawan Inggris dan terutama untuk Yaser Arafat, yang, bersama dengan rekan-rekannya di Fatah dan Organisasi Pembebasan Palestina, yang  menjadi topik dan  tempat khusus dalam pemikiran Khalidi tentang kegagalan Palestina untuk merdeka dan berdaulat penuh.

 

Sejarah Palestina akan berguna bagi orang Amerika untuk memahami bahwa pada awal tahun 1930-an, orang Yahudi hanya berjumlah 17,8 persen dari populasi Palestina di bawah colonial Inggris, dan  imigrasi tahunan Yahudi  menurun menjadi hanya beberapa ribu setahun.

Tetapi pada akhir tahun 1930-an, Khalidi menulis, “setelah kebangkitan Hitler, Naziisme Hitler  mendorong kedatangan tahunan puluhan ribu pengungsi,” populasi Yahudi meningkat menjadi lebih dari 30 persen. Pada tahun 1935 lebih dari 60.000 orang Yahudi pergi ke Palestina, yang setara dengan seluruh penduduk Yahudi pada tahun 1919. Bahkan pada tahun 1948 terdapat 600.000 orang Yahudi hingga 1,4 juta orang Arab di Palestina Britania, dan orang Arab memiliki hampir 90 persen dari semua tanah pribadi.’’

Orang-orang Yahudi tidak memulai pertempuran, tetapi dari Maret hingga Oktober 1948, sedikit lebih dari setengah populasi Arab – 750.000 orang, menurut perkiraan Prof Khalidi, telah melarikan diri, atau dipaksa melarikan diri atau dibuang. terusir dari daerah yang menjadi bagian dari negara baru Israel. Setelah pertempuran dihentikan pada tahun 1949, Israel menguasai 78 persen dari wajib Palestina, dibandingkan dengan 55 persen yang dialokasikan berdasarkan rencana pembagian Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Seperti generasi baru sejarawan Israel, Prof. Khalidi menegaskan bahwa tanah air Yahudi di Palestina berarti bahwa banyak dari mayoritas Arab yang sudah ada sebelumnya, yang memiliki sebagian besar tanah pribadi, harus dipindahkan atau “dialihkan paksa,” oleh kaum Yahudi penganut  Zionisme.

Dalam Iron Cage (Sangkar Besi), Prof Khalidi memberikan  perspektif dan jawaban lain untuk kalangan pembaca Barat dalam soal Palestina. Dia memberikan deskripsi yang relatif tidak memihak tentang Palestina pada periode pemerintahan Ottoman dan Inggris, dan tentang sifat masyarakat Arab sebelum kombinasi Zionisme dan Nazisme yang menyebabkan peningkatan aliran orang Yahudi kelahiran Eropa untuk menetap di Tanah Suci (Yerusalem/ Palestina).

Kolonialisme Balfour

Prof. Rashid Khalidi memiliki sekumpulan pelaku eksternal tersendiri: penguasa kolonial Inggris seperti Lord Balfour, yang menolak untuk mengakui hak-hak nasional non-Yahudi; dukungan finansial Barat yang boros untuk imigrasi Yahudi; romantisme dan sinisme para pemimpin Arab, yang baru lahir dari inkubator kolonial.

Seperti Inggris sebelumnya, dia berpendapat, Amerika Serikat “secara konsisten mengutamakan kepentingan populasi Yahudi di negara itu daripada penduduk Arabnya,” membantu Israel untuk mendorong “Palestina ke sudut yang mustahil, ke dalam sangkar besi” dari mana, ia menyarankan , negara Palestina yang layak mungkin, pada akhirnya, tidak akan muncul karena kolonialisme-imperialisme Barat yang mendukung Israel itu.

Tapi Khalidi juga banyak menyalahkan orang Palestina – atas persaingan di antara keluarga kaya Palestina yang bersaing untuk melayani tuan kolonial mereka, untuk para pemimpin yang gagal melihat dampak Hitler pada imigrasi Yahudi ke Mandat Palestina, bagi mereka yang salah mengelola tahun 1936 -39 Pemberontakan Palestina melawan Inggris dan terutama untuk Yasir Arafat, yang, bersama dengan rekan-rekannya di Fatah dan Organisasi Pembebasan Palestina, memiliki tempat khusus di pemikiran Khalidi tentang kegagalan Palestina.

HAMAS VS ISRAEL

Dalam konflik Palestina-Israel 2021 ini, untuk pertama kali sejak 20 tahun terakhir, serangan roket kelompok Hamas dan Jihad Islami dari Gaza ke Israel berbeda dengan perang tahun 2009, 2014, dan 2018. Sebelumnya, Hamas dan Jihad Islami hanya menargetkan titik-titik militer dan strategis Israel saja, namun kali ini lepas kontrol, 100 roket lebih ditembakkan setiap hari ke seluruh Israel tanpa pandang bulu.

Jubir Hamas, Abu Ubaidah malah mengatakan, “Kami siap untuk menghajar Israel dengan roket hingga 6 bulan ke depan”, artinya paling tidak Hamas dan Jihad Islami memiliki setidaknya 25.000 roket di gudangnya yang entah di mana lokasinya, dengan asumsi satu hari lebih dari 100 roket ditembakkan perhari.  (Prof Amal Fathullah Zarkasyi, Mantan Rektor Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo,2021)

Apa yang dilakukan Hamas dan Jihad Islami merupakan tindakan yang tidak pernah berani dilakukan oleh negara manapun di dunia, setidaknya dalam 40 tahun terakhir. Siapa yang berani menembakkan 150 roket ke Israel? Beranikah  Turki? Mesir? Arab Saudi? Iran? Menurut Amal Zarkasyi, pembahasan menarik dalam konflik ini adalah kemampuan roket Hamas dan Jihad Islami yang mampu membuat Iron Dome kewalahan.

Gegara ini, sejumlah negara yang ingin membeli Iron Dome dari Israel seharga miliaran US dollar berpikir ulang, termasuk Arab Saudi dan Emirates. Bagaimana tidak, roket seharga 500-800 US dollar bisa membuat Iron Dome kewalahan, padahal 1 misil Iron Dome harganya minimal 42.000 US dollar.

Lebih empat puluh tahun terjadi ketidakseimbangan persenjatan antara Israel dan Palestina, terumata antara Hamas dan Jihas Islami versus Israel.

Meski persenjataan Hamas sama sekali tak sebanding Israel, Hamas kemarin  telah mengancam bakal membalas serangan Israel atau  jika di kemudian hari Israel tidak membuka lagi lintasan-lintasan penyeberangan. Sebaliknya, Israel memperingatkan bahwa mereka akan menyerang lagi jika Hamas dibiarkan mempersenjatai diri lagi. Perang Hamas-Israel  kini  berkecamuk lagi sampai entah kapan.

Selanjutnya: Konflik Berdarah Palestina-Israel… (3)

0

Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.