Herdi Sahrasad Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina

Mengenal Yap Thiem Hien Dari Istri Daniel S. Lev (2)

4 min read

SEATTLE: Herdi Sahrasad, Ibu Arlene Lev dan Prof Laurie Sears, University of Washington, Seattle, 2012

Sebelumnya: Mengenal Yap Thiem Hien… (1)

Di bawah ini. izinkan  tinjauan (review)  saya untuk buku karya  Prof Daniel S Lev  sebagai berkas kenangan dengan beliau, Arlene Lev dan Laurie Sears yang kini lama tak berjumpa lagi.

Siapakah aktivis HAM di Indonesia yang tak mengenal Yap Thiam Hien? Thiam Hien lahir di Koeta Radja, Aceh, 25 Mei1913 – meninggal di Brusel, Belgia, 25 April1989 pada umur 75 tahun, dikenal sebagai pejuang HAM dan hukum yang tangguh dan konsisten. Lantas, adakah  aktivis HAM di Indonesia yang tak mengenalnya ? Mungkin nyaris tidak ada.

Dalam kesempatan saya ke University of Washington (UW), Seattle,AS, untuk ”nyanteri”, penelitian independen dalam kerangka riset post doctoral ‘’by my way’’, buku karya Daniel S Lev ini saya peroleh sebagai kenangan atas kebaikan Arlene Lev ( Ibu Arlene) dan Prof Laurie Sears (Ibu Laurie) sejarawan/guru besar UW tersebut.

Sejak lama,  sesungguhnya saya mendengar bahwa, Dan Lev sedang meneliti dan menulis tentang Yap Thiam Hien sebagai pendekar HAM dan Hukum serta Politik.  Dan Lev  tidak hanya mengetahui Thiam Hien dengan sangat baik dan mendalam, Bahkan keduanya bersahabat erat dan bekerjasama bagai sang hero dan  pengagumnya. Sebagaimana ditulis Ben Anderson, Dan Lev dan Thiam Hien berjuang bersama  untuk mewujudkan pembaharuan fundamental atas  kehidupan politik, hukum dan moral di Indonesia.

Sebagaimana dicatat Benedict Anderson, mungkin nyaris tidak ada spesialis Indonesia dari Barat merelakan dirinya untuk hidup sederhana, bekerja  sedemikian tekun, konsisten dan sekeras Dan Lev ini,  meski ia tahu  tugas ini  membuatnya menjadi  semacam Sisiphus Indonesia. Dan Lev mengumpulkan bahan, wawancara dan  melakukan eksplorasi atas diri Thiam Hien semasa sosok ini masih hidup.

Dan Lev mengorek dan menjelajahi dunia lahir batin, dunia luar-dalam pada diri Thiam Hien,  sesuatu yang oleh Thiam Hien sendiri  mungkin dengan rasa berat hati untuk  mengungkapkannya. Namun pada Dan Lev, sungguh  Thiam Hien begitu terbuka atas pemikiran pribadinya, sekali lagi  kepada Dan Lev ketimbang pada orang lain, kecuali pada istri Thiam Hien sendiri. (halaman 5)

Baca Juga  Apakah Rezeki Bertambah Jika Dicari atau Berkurang Jika Tidak Mencari?

Meski Thiam Hien dua puluh tahun lebih tua dari Lev,  menurut  Ben Anderson, kedua sosok itu menjadi dewasa bersama di tengah krisis konstitusi, moral dan  politik yang menghantui Indonesia  pada akhir 1950-an. Orang boleh saja mengatakan keduanya menjadi sosok yang mengalami langsung politik kontemporer Indonesia, bahkan Thiam Hien dan Dan Lev mengalami kemunculan Soeharto setelah pembantaian antikomunis 1965-66 dan  mengalami serta menyaksikan langsung era panjang  represi, korupsi dan kebohongan publik selama kekuasaan Soeharto itu.

Sadar akan  situasi Orde Baru yang kelam itu, Thiam Hien dan Dan Lev berjuang bersama untuk membela kaum tertindas dan lemah, underdog. Keduanya bergerak  membela HAM (hak asasi manusia), dengan persamaan dan perbedaan yang produktif, yang begitu indah dipaparkan dalam buku ini (halaman 7).

Thiam Hien maupun  Dan Lev sama-sama minoritas di negeri masing-masing, dimana yang pertama adalah orang Tionghoa dan menganut Protestan, sedangkan yang terakhir keturunan Yahudi dan agnotis dalam beragama.  Namun  Thiam Hien sebagai imigran di Asia Tenggara  merasa lekat dengan  pengalaman rasisme, anti-Cina dan sejenisnya, suatu hal yang berbeda dengan Dan Lev yang di Amerika sana, orang Yahudi bukanlah minoritas yang dimusuhi atau dicurigai.

Keduanya  yang bersikap  antipenindasan dan  anti-rasisme itu bergolak menyaksikan rasisme, stigmatisasi sosial, streotipe/prasangka  anti-Cina,  diskriminasi, represi periodik dan keburukan sejenisnya di Indonesia. Kondisi ini, memperkuat tekad Dan Lev menyelesaikan biografi Thiam Hien yang dikaguminya ini.

Thiam Hien berjuang menegakkan HAM dan hukum sejak masa kolonial, era Soekarno dan Soeharto, yang membuatnya dikenal  sebagi sosok oposisi sepanjang hidupnya. Dalam upaya memperkuat perlawanannya terhadap penindasan dan tindakan diskriminatif yang dialami keturunan Tionghoa, Thiam Hien ikut mendirikan Baperki pada 1950-an, suatu organisasi massa yang mulanya didirikan untuk memperjuangkan kepentingan politik orang-orang Tionghoa.

Tapi ia berbeda paham politik dengan Siauw Giok Tjhan, salah satu tokoh Baperki saat itu. Ia menentang politik Siauw yang cenderung kekiri-kirian.  Thiam Hien merupakan eksponen Baperki, namun menolak komunisme dan tidak sudi menjadi antek-RRC yang pada masa Orde Lama memiliki kepentingan bercokol di Indonesia, ditandai dengan adanya Poros Jakarta-Beijing. Karena itu Thiam Hien kemudian keluar dari organisasi itu.

Baca Juga  Perdebatan Besar antara Filsuf Rasionalis dengan Filsuf Mistik dalam Filsafat Islam

Namanya  muncul ke permukaan setelah ia terlibat dalam perdebatan di Konstituante pada 1959. Ketika itu, sebagai seorang anggota DPR dan Konstituante keturunan Tionghoa, ia menolak kebijakan fraksinya yang mendapat tekanan dari pemerintah. Ia satu-satunya anggota Konstituante yang menentang UUD 1945 karena keberadaan Pasal 6 yang diskriminatif dan konsep kepresidenan yang terlalu kuat, executive heavy.

Pandangan Thiam Hien terbukti  tepat dan ampuh, karena UUD45 itu banyak disalahgunakan oleh elite penguasa untuk kepentingan kekuasaan semata, melanggar HAM, berlaku korup dan otoriter.

Sebagaimana dicatat Arlene Lev. Thiam Hien memang sosok yang memikat, ia lahir dan tumbuh dari lingkungan ghetto Kutaraja Aceh, lalu memasuki sekolah elite di Jawa dan universitas di Eropa, kemudian menjadi reformis Protestan dan organisasi pendidikan, sampai ke medan pertarungan  politik peranakan Cina di Indonesia, menjadi advokat tangguh di Paradin, terus menanjak sebagai aktivis politik Indonesia dan organisasi hukum dan keagamaan tingkat internasional.

Meski Thiam Hien mempunyai minoritas ganda yakni sebagai keturunan Cina dan penganut Kristen Protestan di tengah bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, namun semangat dan visi perjuangannya melampaui batas  geopolitik,SARA (suku, agama ,ras , antargolongan) dan batas territorial, dari level nasional sampai internasional.

Thiam Hien terus berjuang bagi supremasi hukum atas kekuasaan, sementara politik dan kuasa Orde Lama Soekarno maupun Orde Baru Soeharto selalu  meletakkan  supremasi kekuasaan di atas hukum, suatu ciri negara kekuasaan yang  sama sekali  tidak modern (Arlene Lev. A Steady Course, halaman 337).

Dan Lev meyakini bahwa perjuangan Thiam Hien yang penuh rona dan warna era Orde Lama sampai era Orde Baru akan memberikan dampak konstruktif bagi para aktivis HAM dan pejuang hukum dalam upaya menegakkan hukum dan HAM yang diamanatkan konstitusi. Para aktivis HM dan hokum pasca Orde Baru harus berani membasmi KKN, menangkap dan mengadili koruptor, pelaku pelanggaran HAM dan kejahatan penyalahgunaan kekuasaan yang telahsangat  banyak merugikan rakyat dan bangsa kita.

Baca Juga  Pesantren: Antara Tren dan Persaingan Pasar

Optimisme Thiam Hien yang bercampur aduk dengan penyesalan selama tahun tahun kekuasaan orde Soeharto dan Soekarno, diyakini akan mendapatkan kembali ‘’energi baru’’ dari pergolakan reformasi menyusul ambruknya Orde Baru. Kini, optimisme untuk itu sangat tergantung kepada komitmen dan dedikasi para penegak hukum aktivis HAM dan praktisi hukum di Indonesia  untuk mewujudkan Negara hukum yang lebih baik .

Sudah lama sekali hubungan Dan Lev dan Thiam Hien berlangsung.  Thiam Hien mengabdikan seluruh hidupnya berjuang demi menegakkan keadilan dan hak asasi manusia (HAM).Dan kita tahu namanya diabadikan sebagai nama sebuah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar bagi penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Seperti ditulis Dan Lev,  jalan hidup Thiam Hien berliku, penuh duri dan onak sehingga menarik untuk disimak. Dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang sangat feodalistik, membuat Thiam Hien menarik garis dan hikmah: kondisi lingkungan feodalistik ini telah menempa pribadi cucu Kapitan Yap Hun Han ini sejak kecil bersifat memberontak dan membenci segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan.

Kalau kita periksa rekam jejaknya, sebagaimana termaktub dalam buku Dan Lev ini, pada usia 9 tahun, ibu Thiam Hien meninggal dunia, lalu ia dan kedua orang adiknya dibesarkan oleh Sato Nakashima, seorang perempuan Jepang yang merupakan istri simpanan kakeknya. Namun Satolah yang  ternyata memainkan peranan besar dalam kehidupan Thiam Hien, memberikan kemesraan keluarga yang biasanya tidak ditemukan dalam keluarga Tionghoa serta rasa etis yang kuat,  yang kelak menjiwai kehidupan Thiam Hien di masa dewasa.

Selanjutnya: Mengenal Yap Thiem Hien… (3)

Herdi Sahrasad Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina