Herdi Sahrasad Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina

Mengenang Buya Syafii Maarif: Tokoh Muhammadiyah yang Moderat dan Pluralis (1)

2 min read

Tokoh besar dari kalangan Islam itu telah berpulang. Pasca wafatnya Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berpulangnya Prof  Ahmad Syafii Maarif atau yang biasa dipanggil Buya Syafii , telah membuat kita kembali kehilangan  cendekiawan besar penuh dedikasi. Cak Nur, Gus Dur dan Buya Syafii adalah para inteligensia dan guru bangsa yang tangguh dengan segenap pengabdian dan kebesarannya.

Profesor Azyumardi Azra CBE menyampaikan pesan via WA pada kami:’’ “Wafatnya Buya Syafii Maarif pada Jumat 27/5/22 ini adalah kehilangan besar bagi Indonesia. Buya Syafii pecinta Indonesia yang sangat bersemangat dengan Pancasila, NKRI yang bhinneka. Buya Syafii juga penganjur Islam damai, menolak tegas kekerasan atas nama Islam. Tak kurang pentingnya Buya Syafii menjaga Muhammadiyah dari godaan politik kekuasaan; sebaliknya meneguhkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan” .’

Saya pertama kali bertemu Buya Syafii di Yogyakarta ketika diajak Bang Din Syamsuddin dan Bang Azyumardi Azra mengikuti Muktamar Muhammadiyah kurun 1990-an. Sebagai anak pergerakan dan wartawan muda, untuk pertama kali saya melihat bagaimana sosok Buya Syafii yang cerdas dan bernas pemikirannya, mampu menjelaskan dinamika dalam Muktamar Muhammadiyah tersebut secara ringkas dan jernih. Artikulasinya tenang dan mengalir. Muhammadiyah tetap solid dan bergerak maju ke depan dengan visi-misi kebangsaan yang kuat, menjadi teladan civil Islam yang membanggakan .

Kemudian pada waktu WS Rendra (Mas Willy), budayawan besar itu berpulang ke Sang Khalik, saya bertemu Buya Syafii di jalan hendak melayat ke Mas Willy yang disemayamkan di Cipayung Depok, namun tidak tahu tempat yang dituju.  Saya mengantar beliau sampai ke hadapan jenazah Rendra. Setelah beliau mendoakan Mas Willy, maka saya berpamitan untuk kembali pulang ke kampus Paramadina karena ada tugas penelitian. Berbagai pertemuan selanjutnya, meski tidak lama waktunya, makin menorehkan kesan atas beliau yang mendalam bagi saya.

Baca Juga  Hilangnya "Seni" dalam Integralisme Islam-Sains

Kita tahu bahwa Buya Syafii untuk waktu yang lama, menempuh studi dan hidup di lingkungan masyarakat Jawa di Yogyakarta sehingga beliau makin paham nilai nilai dan budaya Jawa. Tutur katanya yang santun, bahkan sering lembut, membuatnya tidak lagi menjadi sosok Minangkabau yang artikulatif keras, melainkan menjadi ulama dan cendekiawan yang teduh, sahaja dan mawas diri ketika harus mengkritik elite kuasa dari Jawa.

Berbagai kalangan mengungkapkan bahwa pada mulanya Buya Syafii adalah seorang tokoh Muhammadiyah fundamentalis-puritan, namun dengan pendidikan dan pergaulan intelektualnya, dia berubah  menjadi tokoh kebangsaan yang visioner, pluralis kritis dan multikulturalis,  sehingga menghantarkannya menjadi ikon lintas agama dan guru bangsa pada abad ini.

Buya Syafii sangat peduli pada keadilan sosial, kesetaraan dan kemanusiaan. Buya menolak kekerasan dan keserakahan. Dalam esainya ‘’Mentereng di Luar, Remuk di Dalam (Kompas 10 Nov.2021)’’ yang saya baca, Buya Syafii  memperingatkan para pejabat publik yang menyimpang, menyeleweng dan tidak amanah, penuh kemunafikan. Kata Buya Syafii: ‘’Panorama “rancak di labuah” atau “mentereng di luar, remuk di dalam” adalah penyakit sosial kronis yang menipu kita selama ini. Sumpah jabatan para birokrat pejabat publik tidak ada pengaruhnya pada perilaku mereka. ‘’

Buya Syafii mencatat temuan temuan tim staf khusus bidang ekonomi tentang betapa kejamnya permainan konglomerat predator itu. “Untuk beras/padi terjadi di beberapa wilayah Jawa Timur, seperti Lamongan, Bojonegoro; di Jawa Tengah, terjadi di Kendal, Pemalang, dan beberapa kabupaten lainnya.”

Buya menambahkan bahwa cengkeraman konglomerat predator itu “mematikan penggilingan-penggilingan kecil yang memiliki modal terbatas. Untuk jagung, juga sudah merambah ke sentra-sentra produksi jagung di Sumbawa, Jawa Timur, Jawa Tengah. Salah satu implikasinya adalah peternak ayam petelur susah mendapatkan jagung, terutama saat bukan panen.’’ Menurut Buya Syafii,  semua itu baru sebuah contoh kecil tentang bagaimana niat baik Presiden itu dipermainkan pada tingkat akar rumput. Menurut Buya Syafii, contoh-contoh semacam ini bisa ditemui hampir di semua lini jaringan birokrasi negara yang sering menjadi perpanjangan tangan konglomerat.

Baca Juga  Barang “Gaib” di Pegadaian

Begitu jelas bahwa apa yang digembor-gemborkan sebagai reformasi birokrasi berjalan sangat lamban, berhadapan dengan mentalitas birokrat yang sudah puluhan tahun karatan.

Selanjutnya: Mengenang Buya Syafii Maarif… (2)

Herdi Sahrasad Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina