Dr. Agus Hermanto Dosen Fakultas Syari'ah UIN Raden Intan Lampung

Masihkan Anda Ingin Membujang?

2 min read

kompasiana.com

Membujang adalah membiarkan diri dengan tidak menikah. Benarkah membujang dikarang dalam Islam?. Perlu kita pahami bahwa hukum menikah ada lima yaitu pertama sunah. Hukum awal nikah adalah sunah sebagaimana sabda Nabi, “Nikah adalah sunahku, barang siapa yang tidak menikah maka bukanlah dari kelompok ku”. Maksudnya adalah bukan umat Muhammad.

Hadis ini diawali dengan ungkapan bahwa Nabi juga menikah, dan berpuasa sebagaimana umat pada umumnya. Hukum sunahnya menikah adalah fitrah (logis) bahwa hukum Islam itu tidak bertentangan dengan akal logika sehat manusia yang dianugerahi syahwat yang harus dijaga, dan ketika ia beristri, maka istri nyalah yang akan mengendalikan syahwatnya.

Kedua adalah wajib, suatu pernikahan dikatakan wajib apabila seseorang telah mampu dalam hal harta, kemudian telah memiliki calon yang ideal, dan ada satu kemudharatan jika tidak segera menikah, maka ia wajib segera menikah. Hal ini karena jika berlarut larut untuk tidak segera menikah, akan menimbulkan fitnah. Tidak hanya fitnah kemaluan yang membawa pada kemaksiatan, sebagaimana fitrah pernikahan adalah untuk menjaga syahwat, namun juga ada satu fitnah dari orang lain dalam bentuk membanding-bandingkan satu perempuan dan perempuan lainnya dari keluarga, sahabat, tetangga dan lainnya.

Perbincangan dari orang terdekat terkadang dapat mendatangkan fitnah. Misalnya dengan ungkapan “Wah…. Mau aku kenalkan dengan kawanku, saudaraku, rekanku, dan lainnya”. Namun suatu saat ketika ada problem dalam rumah tangga akan membawa perbandingan “Coba dulu aku sama dia orang yang akan dikenalkan oleh itu… “. Yang tampak adalah kebaikannya, hal ini akan membawa fitnah yang dapat merongrong rumah tangga.

Ketiga adalah mubah. Nikah adalah sesuatu yang bertujuan untuk membangun keluarga yang sakinah. Kemubahan nikah adalah berlaku secara umum bagi seseorang yang telah mampu, dan memiliki calon, maka boleh baginya untuk melakukan pernikahan. Kalau toh ia menunda dibolehkan dengan argumen syar’i yang tidak membawa dampak apa-apa.

Baca Juga  Falsafah Tembang Lir-Ilir Sunan Kalijaga

Keempat, hukum makruh. Makruh adalah sesuatu yang membawa dampak kurang baik, tidak sampai pada kemudhartan. Hal ini seperti halnya seseorang yang hendak menikah, tapi ekonominya masih sederhana, sehingga ia masih berpikir apakah sekiranya mampu membiayai keluarga kelak setelah menikah.

Di sisi lain ia yakin bahwa akan ada keberkahan setelah menikah yaitu akan ada rizki yang didapatkan diluar logika yang sedang ia pikirkan, namun keraguan ini membawa pada hal kurang baik, walaupun tidak membawa kemudharatan yang nyata. Mungkin seseorang merasa kurang dalam ekonomi yang sejatinya hal ini disebabkan oleh hal lain, biasanya ketika seseorang membujang, maka hartanya pun sulit akan terkumpul, berapapun rizki yang didapatkan akan habis dan selalu kurang.

Kelima, hukum haram Hal ini apabila justru dengan menikah akan menimbulkan kemudharatan. Misalnya ada niatan yang buruk terhadap calon pasangannya, hendak menikahi seorang wanita hanya untuk balas dendam, menikahi wanita yang masih menjadi istri orang lain, maupun menikahi wanita yang masih ada hubungan keluarga, baik karena nasab, persuauan, maupun hubungan  semenda, serta hal lain yang justru dengan menikah akan membawa fitnah atau keburukan lainnya.

Ketahuilah, bahwa nikah secara bahasa adalah “wath’u” yaitu halalnya suatu hubungan biologis yang secara syar’i telah dibolehkan karena adanya akad. Bahasa lain dari nikah adalah kawin, yang mana kawin adalah sebuah kata yang sering digunakan oleh selain manusia dan juga manusia yaitu melakukan suatu perbuatan biologis di luar akad nikah. Pernikahan adalah sakral, karena tujuan nikah adalah untuk mendapatkan ketenangan (sakinah),rasa cinta (mawaddah), rasa sayang (rahmah) yang tujuan itu tidak hanya bersifat duniawi, namun juga ukhrawi.

Nabi pernah melarang untuk membujang, sebagaimana keterangan hadis larangan “tabathul”. Timbullah pertanyaan, mengapa sebagian ulama enggan menikah dan tetap membujang? Ya, memang benar bahwa sebagian ulama besar tetap membujang Hal ini dilakukan karena sebuah argumen secara mandiri dan tidak berlaku umum.

Baca Juga  Apakah Berilmu Menjamin Dekat dengan Allah?

Artinya bahwa hukum Islam secara umum berupa syariah yang merupakan fitrah manusia membutuhkan biologis untuk menjaga syahwatnya, namun  para ulama yang menikah justru memiliki satu argumen yang dengan menikah akan mengurangi rasa cintanya pada sang Khaliq, atau argumen lain yang karena menikah ia tidak mampu menulis ilmu Allah.

Sungguh argumen di luar tataran syariah pada umumnya, dan hanya manusia tertentu yang mampu menjalaninya, karena manusia pada umumnya dianugerahi syahwat untuk melakukan pernikahan agar syahwatnya terjaga, bahkan dianjurkan bagi yang telah memiliki keinginan dan belum mampu untuk berpuasa agar pandangan dan kemaluannya terjaga. Wallahua’lam. (mmsm)

Dr. Agus Hermanto Dosen Fakultas Syari'ah UIN Raden Intan Lampung