Hikam Muhtadi Alumnus Universitas Ummul Quro, Mekah.

(Tidak) Enaknya Jadi Anak Orang Sukses

2 min read

sumber: insidesmallbusiness.com.au

Kartini itu anaknya seorang pembantu. Tapi karena benihnya dari seorang bupati, mau tidak mau dia harus ikut role bapaknya. Sebetulnya waktu kecil bahagia dia dengan ibunya. Bercengkerama, bermain, hidup a la kadarnya, dan bahkan tidur, tenang dia bersama ibunya. Tapi begitu umur bertambah, peraturan ke’sukses’an bapaknya mengatur. Hidupnya jadi lain. Apalagi role-role bangsawan dan penjajah juga dipegang teguh pada zaman itu. Kartini ingin berontak. Secara ekonomi, perut dan kemewahan, Kartini tidak kurang satu apapun, tetapi kebebasan dan hati, seperti terpenjara. Mau tahu bagaimana derita batinnya Kartini, bisa dibaca tulisannya yang berjudul, “Door Duisternis tot Licht”. Tulisannya ini masyhur di negeri Belanda. Sampai hari ini.

Sage Stallone itu anak pertama dari si Jhon Rambo, pahlawan fiksi Amerika yang mati-matian dipropaganda menjadi simbol penutup malunya Amerika saat perang Vietnam. Kisahnya, untuk meyakinkan dunia agar Amerika tidak dianggap kalah oleh Vietnam, Rambo, yang seorang diri itu, berhasil melawan seluruh tentara Vietnam satu negara. Pemerannya Sylvester Stallone, ayah Sage dengan mantan istrinya, Sasha Czack. Film Rambo ini sukses dan diangkat berjilid-jilid. Kesuksesan Sylvester berperan Rambo membuatnya menjadi legend film action dunia. Siapapun aktor jago dunia, akan dianggap jago juga jika sudah berperan dan main film bersamanya. Sage mengikuti jejaknya. Tapi tidak mampu. Kesuksesan bapaknya yang setinggi langit itu membuatnya stress. Tercatat pada tanggal 13 Juli 2012, Sage ditemukan meninggal dunia di apartemennya di LA karena overdosis. Fakta menguak penyebab kematiannya ini karena bunuh diri.

Tutankhamun, Firaun paling fenomenal di Mesir. Dia harus didapuk menjadi raja Mesir saat usianya masih sangat belia. Stress berat dia dibuatnya. Kusak-kusuk dalam negri terjadi. Dari panglima tentara, menteri-menteri dan bahkan kyainya negara, berlomba-lomba menjatuhkan kekuasaanya. Ia nyaris terbunuh karenanya. Untungnya dia cukup berani. Untuk membuktikan dia juga bisa jadi raja, dia turun langsung ikut perang dan berhasil membunuh raja yang menjadi nenek moyang penduduk negara Sudan saat ini. Dia berhasil mencabut nyawa raja berkulit hitam ini yang sering menyebutnya, “boy king”, raja tjilik. Tapi sewaktu membunuhnya kakinya patah, dipukul oleh tentara yang menjaga raja. Patah kakinya ini terinfeksi. Setelah perang usai, Tutankhamun mati karena tak tertolong lagi. Apalagi stress yang dialaminya membuat proses bakteri infeksinya ini berhasil menghentikan kerja jantung. Mati dia di hadapan senyuman-senyuman petinggi-petinggi negara yang mengincar kursinya.

Baca Juga  Didi Kempot, Sobat Ambyar, dan Wajah Diri

Entah berapa banyak anak-anak dari keluarga-keluarga super sukses secara dunia ini yang memilih mengakhiri hidup atau pergi dari hegemoni keluarganya. Kabur dari ‘istana’ orang tuanya. Anak-anak dan cucu-cucu kerajaan Inggris, Jepang, Perancis, Korea dan bahkan bangsa-bangsa Arab. Berapa banyak yang memilih mati bunuh diri atau pergi menjauh dari ‘istana’.

Anak-anak para artis, pejabat, aparat, politikus, pengusaha, seniman, dan bahkan kyai-kyai dan pemuka agama. Karena bapak, ibu atau keluarganya terlalu sukses, minder anak ini dengan kejayaannya. Atau berontak dengan segala aturan atau paksaan yang harus dijalani dalam hidupnya. Mereka (ada) yang memilih mati atau kabur pergi dari rumah. Mereka tak peduli orang akan bilang apa. Mereka juga tak gubris omongan orang dengan kehebatan bapaknya dalam berartis, berpangkat, berdagang atau bahkan berkayu atau berpondok. Mereka kabur dan pergi meninggalkan itu semua. Meninggalkan ‘kebesaran’ rumah dan orang tuanya.

Kadang, terlalu sukses secara dunia, tidak selalu bagus. Bisa jadi justru malah menjadi bencana bagi anggota keluarganya. Oke, sandang, papan, makan dan bahkan kemewahan tercukupi. Tapi ternyata hati tidak bisa dipungkiri. Dia (kadang) tidak selalu membutuhkan ke’dunia’annya itu. Kebebasannya terkekang atau sebetulnya ingin mengikuti jejak orang tuanya tapi tidak bisa. Stress dia. Pergi dia dari sana. Kabur, atau malah bunuh diri.

Wa-l-‘iyadzu bi Allah.

Hikam Muhtadi
Hikam Muhtadi Alumnus Universitas Ummul Quro, Mekah.