Ibnul Jauzi Abdul Ceasar Alumnus Pascasarjana MIAI UII Yogyakarta; Berfokus pada kajian Ekonomi Islam, Filsafat Islam dan Sosio-Keagamaan

Melacak Akar Sejarah Gerakan Purifikasi Dalam Islam

2 min read

Gerakan purifikasi (pemurnian) Islam adalah ide, gagasan, pemikiran, upaya, aktivitas, dan gerakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh muslim yang mereka maksudkan dan tujukan kepada pemurnian ajaran Islam dari segala macam paham, pengaruh, dan praktik-praktik yang tidak bersumber dan berdasarkan kepada ajaran Alqur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

“Kembali kepada Alqur’an dan sunnah”, demikian tema sentral dan seruan yang sering dikumandangkan oleh para tokoh-tokoh kaum puritanis. Gerakan mereka antara lain dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Seruan ini terus terdengar di belahan dunia Islam dengan maksud dan tujuan untuk memurnikan ajaran Islam yang dalam perspektif kaum puritanis muslim telah mengalami kerusakan karena telah terkontaminasi oleh apa yang mereka sebut takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC).

Gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab

Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di ‘Uyainah, Najd, Arab dan hidup pada abad ke-18, antara tahun 1701-1793 M. Dinisbatkan kepada nama Ayahnya, gerakan pemurnian yang ia lancarkan lazim disebut gerakan Wahhabi. Mereka sendiri menyebut diri mereka sebagai kaum “muwahhidun”. Seperti halnya Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abdul Wahhab terkenal sebagai pengikut teologi Ibnu Taimiyah yang bercorak skriptualis, suatu paham teologis yang bertolak belakang dengan teologi Mu’tazilah yang beraliran rasional.

Sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab memulai gerakannya pada tahun 1724 M, ia banyak berpergian ke daerah muslim Timur Tengah. Di sana ia menemukan bahwa banyak ajaran Islam yang telah tercampur dengan praktik-praktik syirik, takhayul, bid’ah, khurafat dan paham-paham sinkretis lainnya. Tampaknya fenomena inilah yang memotivasi Muhammad bin Abdul Wahhab memulai gerakannya.

Setelah Muhammad bin Abdul Wahhab kembali dari perjalanannya dari daerah-daerah Timur Tengah, ia lantas mulai mencetuskan ide dan gerakannya untuk memurnikan ajaran-ajaran Islam dari praktik-praktik syirik, bid’ah, takhayul dan khurafat yang ia nilai telah merusak akidah umat Islam. Tidak butuh waktu lama bagi gerakan wahhabi untuk mendapat dukungan, gerakan ini dengan cepat mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari para pendukungnya bahkan gerakan ini juga sangat memikat Muhammad ibnu Saud dari dinasti Saudi sebagai penguasa lokal yang berkuasa kala itu.

Baca Juga  Pentingnya Keteladanan dan Meneladani

Pada perkembangan selanjutnya Muhammad ibnu Saud bekerja sama dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, menurut perjanjian ini Muhammad ibnu Saud bertanggung jawab pada masalah politik dan militer sedangkan Muhammad bin Abdul Wahhab bertanggung jawab pada masalah agama. Aliansi ini menghasilkan perluasan doktrin Wahhabi dan pembentukan Dinasti Saud di sebagain besar Jazirah Arab.

Muhammad Ibnu Saud memberikan dukungan politik dan kekuatan militer dalam menyebarkan luaskan paham tersebut. Demikianlah ketika agama dan politik telah menyatu, maka dapat menjadi kekuatan yang tangguh dan dahsyat untuk menyebarkan luaskan paham keagamaan dan memperbesar kekuasaan.

Kaum Wahhabi dengan cepat berhasil meraih sukses dalam melancarkan gerakan mereka. Mereka berhasil merebut dan menduduki Kota Makkah pada tahun 1908 dan merebut Kota Madinah hanya selang setahun setelahnya. Bersamaan dengan itu mereka menghancurkan bangunan-bangunan yang ketika itu lazim menjadi tempat-tempat suci pemujaan di kedua kota itu.

Ketika menyerang kota Karbala, dengan dukungan kekuatan politik dan militer dari dinasti Saud, Kaum Wahhabi membunuh setidaknya 5.000 orang Syi’ah, merobohkan kubah-kubah bangunan termasuk kuburan cucu Nabi Muhammad SAW., yaitu Husain dan melakukan perampokan di seluruh kota (Muhammad Iqbal:1966).

Memang dalam upaya mereka membersihkan doktrin Islam dari praktik-praktik yang merusak akidah Islam, kaum Wahhabi kala itu tidak mengenal kompromi dengan siapapun dan tawar-menawar dengan pihak manapun. Menurut mereka kemurnian ajaran Islam harus ditegakkan walaupun mereka harus berkonfrontasi dengan penentangnya. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa salah satu karakteristik gerakan Wahhabi adalah bersifat radikal.

Karena gerakan Wahhabi ini dipandang sebagai ancaman yang berbahaya terhadap daerah-daerah Arab yang dikuasai oleh Turki Utsmani pada masa itu, maka Sultan Turki Abdul Hamid memerintahkan gubernurnya di Mesir, Muhammad Ali, untuk menghabisi gerakan fundamentalis Wahhabi itu.

Baca Juga  Beragama yang "Ngintelek" Itu Perlu

Kendatipun pada perkembangan selanjutnya gerakan radikal dan militan Wahhabi ini dapat ditumpas, namun kemudian bangkit lagi dan bertahan hidup sampai dengan munculnya Abdul Aziz bin Saud, yang pada tahun 1924 berhasil merebut kekuasaan dari Sharif Husain di Mekkah. Sejak itulah telah resmi berdiri Kingdom of Saudi Arabia (KSA) yang kita kenal hingga saat ini.

Menyuarakan Islam Damai Melalui Hikmah dan Mauizhah Hasanah

Dari uraian-uraian yang dipaparkan di atas, dapatlah diketahui bahwa gerakan purifikasi dalam Islam ditujukan untuk memurnikan dam meluruskan kembali ajaran-ajaran Islam yang dinilai oleh kaum puritanis telah bercampur dengan paham-paham sinkretis yang tidak sejalan dengan ajaran-ajaran Islam yang mereka yakini kebenarannya. Dalam melancarkan gerakannya, gerakan Wahhabi menempuh cara yang keras dan tegas dan tidak mau berkompromi dengan pihak manapun demi menegakkan permasalahan yang esensial ini.

Dapat dipahami bahwa gerakan Wahhabi yang demikian itu karena sejatinya mereka sangat menaruh kepedulian terhadap tegaknya Islam yang mereka yakini benar. Namun cara-cara yang radikal dan tanpa kompromi seperti ini terasa tidak pas pada masa ini. Seruan Alqur’an untuk melakukan dakwah dengan hikmah (mengajak orang dengan cara yang arif lagi bijaksana), mauizhah hasanah (mengajak orang dengan tutur kata yang lemah lembut dan baik) dan mujadalah (mengajak orang berdisukusi dengan argumentasi yang baik) akan lebih menarik dan lebih berkesan di hati dan jiwa yang didakwahi. [AA]

Ibnul Jauzi Abdul Ceasar Alumnus Pascasarjana MIAI UII Yogyakarta; Berfokus pada kajian Ekonomi Islam, Filsafat Islam dan Sosio-Keagamaan