Argumentasi Eksistensi Tuhan dalam Teologi Asy’ariyyah: Resensi

Ilustrasi Resensi Buku berjudul Argumentasi Eksistensi Tuhan dalam Teologi Asy’ariyyah

Judul: Argumentasi Eksistensi Tuhan dalam Teologi Asy’ariyyah: Menyelami Nalar-nalar Kokoh Para Tokoh Utama Asy’ariyyah
Penulis: M. Minanur Rohman
Penerbit: IRCiSoD
Tahun Terbit: 2025
Tebal: 220 halaman
ISBN: 978-634-7157-08-9

Selama ini, argumen-argumen mengenai eksistensi Tuhan yang banyak dikenal publik umumnya berasal dari pemikir Katolik atau filsuf Barat, seperti Anselmus, Thomas Aquinas, René Descartes, maupun Gottfried Wilhelm Leibniz.

Jarang sekali, atau bahkan nyaris tidak pernah, terdengar pembelaan eksistensi Tuhan yang dikemukakan oleh pemikir Muslim. Seolah-olah persoalan tersebut luput dari perhatian mereka atau dianggap tidak penting.

Namun, buku Argumentasi Eksistensi Tuhan dalam Teologi Asy’ariyyah karya M. Minanur Rohman justru membantah anggapan tersebut. Buku ini menunjukkan bahwa para pemikir Muslim, khususnya dari kalangan Asy’ariyyah, memiliki kontribusi signifikan dalam merumuskan argumen-argumen rasional untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Jauh sebelum para filsuf Barat modern, teolog-teolog Asy’ariyyah terkemuka seperti al-Maturidi, Abu al-Hasan al-Asy’ari, hingga al-Ghazali telah menyusun beragam argumen filosofis untuk menegaskan bahwa alam semesta ini memiliki perancang sekaligus pencipta.

Secara umum, argumen eksistensi Tuhan dalam teologi Asy’ariyyah bersifat a posteriori dan dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama, argumen kosmologis dan teleologis. Argumen kosmologis bertolak dari pengamatan terhadap alam semesta untuk membuktikan adanya penyebab pertama. Sementara itu, argumen teleologis menekankan keteraturan dan tujuan (telos) yang tampak dalam fenomena alam sebagai indikasi keberadaan perancang cerdas, yaitu Tuhan.

Dalam membangun argumen pembuktian eksistensi Tuhan, para teolog Asy’ariyyah berupaya mengharmoniskan dalil ‘aqli (rasional) dengan dalil naqli (wahyu). Premis-premis yang mereka gunakan berangkat dari teks-teks kitab suci, kemudian dielaborasi melalui penalaran logis.

Hal ini berbeda dari pendekatan sebagian filsuf yang kerap menyusun argumen semata-mata berdasarkan rasio atau observasi mandiri, tanpa merujuk pada wahyu, baik untuk diterima maupun disangkal.

Abu al-Hasan al-Asy’ari (873-936 M.) membuktikan keberadaan Tuhan dengan merujuk langsung pada Alquran. Ia mengutip Q.S. al-Mu’minun ayat 14 yang menggambarkan proses transformasi manusia dari setetes air mani hingga menjadi makhluk sempurna. Menurut al-Asy’ari, perubahan bertahap semacam ini mustahil terjadi dengan sendirinya, sehingga meniscayakan adanya sebab eksternal yang mengaturnya.

Argumen serupa juga dikemukakan oleh Fakhruddin ar-Razi (1150-1210 M.), yang mendasarkan pemikirannya pada Surah al-Qiyamah ayat 37-39 dengan memperluas cakupan argumennya. Ia menyoroti keteraturan di alam. Harmoni dan keteraturan benda-benda langit menurutnya mustahil terjadi secara kebetulan. Semua itu menunjukkan adanya perancang cerdas yang mengatur relasi antar-komponen kosmik.

Abu Hamid al-Ghazali (1058–1111 M.) turut memberikan kontribusi penting melalui apa yang dikenal sebagai argumen kosmologi kalam. Dalam Tahafut al-Falasifah, argumen ini digunakan untuk menolak pandangan para filsuf peripatetik seperti Ibn Sina dan al-Farabi yang meyakini bahwa alam bersifat qadim dan tidak memiliki permulaan. Al-Ghazali justru menegaskan bahwa alam bersifat temporal dan diciptakan dari ketiadaan (creatio ex nihilo).

Meski tidak dirumuskan secara eksplisit dalam Alquran, pandangan creatio ex nihilo sering dikaitkan dengan Q.S. al-Baqarah: 117. Dalam hal ini, Al-Ghazali berusaha menunjukkan bahwa segala sesuatu yang bermula pasti memiliki penyebab.

Rangkaian sebab-akibat dalam peristiwa-peristiwa temporal tidak mungkin berlangsung tanpa ujung. Regresi tak terbatas mustahil terjadi. Oleh karena itu, harus ada satu sebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun, dan sebab itulah Tuhan.

Salah satu kelebihan buku ini adalah penyajiannya yang berimbang. Minanur Rohman tidak hanya memaparkan argumen-argumen para teolog Asy’ariyyah, tetapi juga menyertakan kritik atasnya. Argumen kosmologi kalam al-Ghazali, misalnya, meskipun tampak valid secara intuitif, tetap memiliki celah kritik. Secara logis, kita masih dapat membayangkan kemungkinan adanya partikel yang muncul tanpa sebab.

Kemunculan partikel tanpa sebab memang sulit diterima secara intuitif, tetapi ia tetap mungkin secara logis karena tidak melanggar prinsip kontradiksi. Bahkan, dalam mekanika kuantum, terdapat fenomena pada level subatomik yang menunjukkan kemunculan partikel tanpa sebab yang jelas.

Pada bab terakhir, Minanur Rohman menyimpulkan bahwa baik argumen kosmologis maupun teleologis belum cukup kuat ketika dihadapkan pada kritik-kritik filosofis kontemporer. Menurutnya, argumen kosmologis bertumpu pada asumsi metafisis yang masih diperdebatkan, sementara argumen teleologis dinilai lemah karena kurang memiliki landasan ilmiah yang kokoh.

Saya sendiri agak keberatan dengan penilaian tersebut, terutama ketika penulis menempatkan argumen ontologis sebagai alternatif yang lebih unggul. Penilaian ini, menurut saya, terkesan terlalu dini. Kendati demikian, argumen-argumen klasik para teolog Asy’ariyyah tetap memiliki potensi untuk terus dikembangkan, dan kritik terhadapnya pun masih terbuka untuk diperdebatkan kembali.

Secara keseluruhan, buku ini menyajikan pemaparan yang informatif dan relatif komprehensif, meskipun di beberapa bagian terasa kurang elaboratif. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat pemikiran para teolog Asy’ariyyah sering kali tidak tersusun secara sistematis dan tersebar dalam berbagai karya. Justru karena itu, upaya Minanur Rohman dalam merangkai fragmen-fragmen tersebut menjadi sebuah konstruksi argumentatif yang utuh patut diapresiasi.

Pada akhirnya, Argumentasi Eksistensi Tuhan dalam Teologi Asy’ariyyah merupakan kontribusi penting bagi khazanah filsafat ketuhanan. Buku ini berhasil mengangkat kembali argumen-argumen teolog Asy’ariyyah yang selama ini cenderung terpinggirkan, bahkan dalam wacana intelektual Islam sendiri.

Minanur Rohman juga menunjukkan sikap objektif dan kejujuran intelektual dalam memaparkan argumen serta kritik terhadap pemikiran para teolog Asy’ariyyah, meskipun bermazhab yang sama dengan mereka. Sikap semacam ini tidak selalu mudah ditemukan, terutama di kalangan penulis yang kerap terjebak dalam bias ketika memaparkan sebuah produk pemikiran.

Buku ini layak dibaca, terutama bagi mereka yang tertarik pada persoalan pembuktian eksistensi Tuhan dari perspektif Islam. Argumen-argumen yang disajikan menegaskan bahwa keberadaan Tuhan tidak hanya diimani secara dogmatis, tetapi juga dapat ditelusuri melalui jejak-jejak penciptaan-Nya, yang berpijak pada wahyu Alquran.

3
Post Lainnya