Mengenal KH Abdul Hamid Pasuruan dan Karomahnya

Abdul Mu’thi atau yang biasa di panggil dengan sapaan KH. Abdul Hamid Pasuruan. Lahir pada tahun 1333 H atau 1915 M didukuh sumber kepel, desa Sumbergirang, ditengah kota kecamatan Lasem, Rembang, Jawa tengah. Abdul Mu’thi kecil di panggil “Dul” saja. Tetapi, seringkali panggilan ini di plesetkan menjadi “Bedudul” karena kenalannya. Dul memang tumbuh sebagai anak yang lincah , extrovert, dan nakal.

KH Hasan Abdillah Glenmore l, adik sepupu beliau menuturkan bahwa Dul adalah anak yang nakalnya luar biasa. Tapi kenakalan Dul tidak seperti mabuk- mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Dul adalah kenakalan bocah yang masih batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai di pandang “luar biasa”. Sebab, setiap harinya dia jarang dirumah hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang.

Pendidikan pertama Dul adalah kepada ayahnya (KH. Abdul Umar) dan juga kepada ulama-ulama’ Lasem sampai usia sekitar usia sekitar 12 tahun. Ketika mulai beranjak dewasa, beliau mulai gemar belajar kanoragan (semacam ilmu kesaktian), belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. KH. Zaki Ubaid Pasuruan menuturkan bahwa Dul sampai bisa menangkap babi jadi-jadian.

Meski begitu, sejak kecil beliau sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau setidaknya orang besar. Ketika diajak kakeknya. KH. Muhammad Shiddiq (Jember) Pergi haji, Dul bertemu dengan Rosulullah Saw, pada saat haji itulah namanya di ganti menjadi Abdul Hamid.

Setelah itu, usia sekitar 12 tahun, nyantri di pesantren kakeknya yang bertempat di talangsari Jember, yang ada di tengah kota Jember. Setelah itu pindah ke pesantren kadingan Rembang. Belajar berbagai ilmu pesantren seperti fiqih, tafsir dan lain sebagainya. Kepada KH Cholil Bahrun mertua KH Bisri Mustofa. Setelah itu, sekitar 18 pindah ke pesantren Trawas Pacitan, yang di asuh oleh KH Damyathi, pesantren yang juga menjadi tempat KH Ali Maksum menimba ilmu.

Setelah pulang dari Trawas KH Abdul Hamid pulang ke Pasuruan dan menikah sekitar umur 22 tahun dengan Hj. Nafisah, putri KH Akhmad qusyairi Shiddiq, pada tanggal 12 September 1940.

Mulai tahun 1951, mengasuh pondok pesantren Salafiyah Pasuruan, di pondok salafiyah ini lebih banyak diisi jam-jam wirid selain jam ngaji. Semuanya harus diikuti oleh seluruh santri. Kiai Hamid sendiri, tidak banyak mengajar, kecuali kepada santri-santri tertentu yang dipilihnya sendiri. Selain itu, khususnya di masa-masa akhir kehidupannya, ia hanya mengajar seminggu sekali, untuk umum.

Menurut beberapa riwayat, sewaktu berada di Pasuruan Kiai Hamid mempunyai rutinan yakni setiap sore menghadiri pertemuan pengajian dengan metode mudzakarah yang diselenggarakan oleh Habib Ja’far bin Syichan pukul 16.30-19.30 WIB. Dalam pengajian tersebut dihadiri oleh para ulama yang spesifik membahas diniyah ini, dipergunakan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali dalam hal ini Kiai Hamid sering ditunjuk oleh Habib Ja’far sebagai juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan aplikasi masalah dari beberapa poin kalimat. Berkat kumpul dengan para ulama terutama Habib Ja’far kewalian Kiai Hamid mulai tampak, meskipun sebelum bertemu Habib Ja’far kewalian Kiai Hamid sudah ada.

Alkisah, di awal tahun 80-an Kiai Masyhudi melaksanakan ibadah haji, pada saat shalat Jumat di Masjidil Haram. Tanpa sengaja berkenalan dengan seorang syekh dari Bagdad yang bernama Syekh Hasan. Mengingat keduanya memang alim dan fasih, perkenalan berbincangan menjadi akrab diliputi kehangatan dalam bahasa Arab.

Kejanggalan terjadi saat Kiai Masyhudi mengenalkan bahwa dirinya berasal dari Jawa Timur. Syekh Hasan bertanya yang jika di Indonesiakan kurang lebih begini, “Apakah Anda kenal dengan Kiai Abdul Hamid Pasuruan?” Kiai Masyhudi agak kaget dan balik bertanya: “Beliau itu guru kami yang masyhur kealimannya. Ya Syekh Hasan. Dari mana anda mengenal Kiai Hamid?”

Ternyata jawaban Syekh Hasan lebih mengagetkan lagi, yang intinya bahwa ia kenal baik dengan Kiai Abdul Hamid Pasuruan, sebab sang kiai selalu hadir pada acara haul Syekh Abdul Qodir Jaelani di Bagdad. Tidak hanya itu, saat di Bagdad Kiai Hamid selalu bermalam di rumah Syekh Hasan ini rutin setiap tahun.

Singkat cerita, selepas shalat Jumat sebelum keduanya berpisah, Syekh Hasan mengakhiri percakapannya dengan menitipkan salam kepada Kiai Hamid, yang intinya Syekh Hasan menunggu kedatangan Kiai Hamid pada haul Syekh Abdul Qodir tahun depan di rumahnya di Baghdad. Sesampainya di Tanah Air, karena amanah titipan salam Syekh Hasan, Kiai Masyhudi sowan langsung kepada Kiai Hamid. Baru sampai di depan rumah, sang tuan rumah langsung keluar mempersilakan Kiai Masyhudi masuk, seolah sudah tahu maksud kedatangan tamunya. Bahkan Kiai Hamid mendahului menyapa dengan berbisik ke telinga Kiai Masyhudi, “Nak Masyhudi, jangan cerita ke siapa-siapa ya kalau bertemu Syekh Hasan. Salam sudah saya terima, mohon jangan cerita siapa-siapa.”

Mbah Hamid wafat pada hari Sabtu 25 Desember 1982 M tepat pada pukul 03.00 WIB atau dini hari. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 70 tahun dalam hitungan Hijriah. Seorang tokoh besar, tokoh panutan meninggalkan umatnya. Inalilahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

1

Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.