Jauharotina Alfadhilah S1 Universitas al-Azhar Mesir; S2 Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel; Dosen IAINU Tuban

Sunan Bonang Menjelaskan Fana’ dalam Tauhid dan Kemungkinan Melihat Allah

4 min read

Source: historyofcirebon.id

Istilah fana’ yang selalu condong pada suatu hal yang mistis yang dialami dan dirasakan oleh seorang sālik ketika telah sampai pada maqām tertinggi, menjadikan siapa saja yang mengalaminya merasa bahwa hanya Allah wujud yang sesungguhnya, bahkan seringkali ia lebur dalam wujudnya sendiri.

Dalam hal ini Sunan Bonang senada dengan sufisme Abū Hāmid al-Ghazālī dalam memaknai fana’. Ia menegaskan bahwa fana’ yang dimaksudkan bukanlah peleburan atau kesirnaan jasad, namun hati. Hati yang dimaksudkan oleh Sunan Bonang bukanlah segumpal daging dan darah, namun sebuah “intisari” yang sangat lembut yang terdapat pada jiwa seseorang.

Ia juga menentang paham ittihād atau wahdat al-wujūd atau manunggaling kawula gusti dengan mengusung istilah baru, yaitu padudoning kawula gusti. Padudoning kawula gusti atau ke-bukan-an hamba-Tuhan merupakan antithesis dari manunggaling kawula gusti-nya Syeh Siti Jenar yang berarti bahwa Tuhan tidak dapat disamakan dengan makhluk. Hal ini ia nyatakan dalam Primbon Bonang:

”Padoedoning kawoela goesti tegese: sifating pangeran tan kadi sifating machluq, sifating machluq tan kadi sifating pangeran”. [B.J.O. Schrieke, Het Boek Van Bonang, Pupuh: 3, 96.]

Artinya: “Ke-bukan-an hamba-Tuhan, maksudnya adalah bahwa sifat Tuhan tidak seperti sifat makhluk, sifat makhluk tidak seperti sifat Tuhan.”

Dengan konsep padudoning kawula gusti, Sunan Bonang menegaskan bahwa Allah dan manusia merupakan dua wujud yang berbeda. Masing-masing berdiri sendiri sebagai pribadi yang tak mungkin lebur menjadi satu sebagaimana leburnya setetes air dalam lautan yang luas.

Manusia tetaplah makhluk yang diciptakan dan Tuhan adalah zat Yang Menciptakan. Keduanya tidak akan bisa bersatu meski ia telah sampai pada taraf tertinggi yakni maqām fana’.

Sunan Bonang menjelaskan makna dari konsep fana’ dengan merujuk pada ayat QS. al-Rahmān [55]: 19-20 yang artinya:

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.

Menurut Sunan Bonang, pengertian barzah pada ayat 20 adalah sebagai sekat yang berlaku seperti dinding, sehingga menjadikan keduanya tidak dapat bercampur. Dari penjelasan ayat tersebut, maka ungkapan “gharaqtu fī bahr al-adam”, yang menyatakan adanya dua pribadi yang saling tenggelam dan merasuki tidak akan pernah terwujud dalam kehidupan nyata menurut Sunan Bonang. [Nurkholis & Ahmad Mundzir, Menapak Jejak Sulthanul Auliya’, 112]

Baca Juga  Sosok Kiai Abdul Ghofur, Ulama-Cum-Pengusaha

Ketidaksepakatan Sunan Bonang terhadap panteisme yang menjadi dasar dari paham hulūl ataupun ittihād semakin jelas dengan pernyataannya dalam kitab Bonang:

“Ingsoen anakseni tan antara sapolahingkang sinihan, amenoehi sih noegrahanira dadi nir ananingkang sinihan tan sah anoet inggek ing sihing dhatu’llah.

Mangka matoer Ridjal ing Shaich al-Bari:.. Anenggeh ta reke osiking djiwaraga poeniki sarta lan sih noegrahaning pangeran?

Mangka akecap Shaich al-Bari: E Ridjal! Ija oedjarira ikoe anging maksih amilang paekan ingsoen ta Ridjal, ora mongkono.” [B.J.O. Schrieke, Het Boek Van Bonang. Pupuh: 3, 97]

Artinya: “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya hanya Allah-lah yang cinta-Nya tiada terputus (tanpa perantara), karena cinta-Nya kepada sang kekasih maka segala tingkah lakunya terpenuhi dengan karunia-Nya sehingga adanya kekasih itu lenyap dan selalu mengikuti gerak-gerik cinta zat ilahi.

Lalu berkatalah orang-orang terhadap al-Bari, “Jadi ini berarti bahwa gerak-gerik badan dan jiwa serasi dengan kasih karunia Tuhan?

Al-Bari menjawab: Saudara-saudara, bila anda berkata demikian, maka anda masih menerima adanya kejamakan dalam Keesaan. Aku tidak berpendapat demikian.”

Maqām fana’ merupakan maqām dimana manusia dan Tuhan dapat bertemu. Maqām ini juga menjadikan seseorang yang sampai padanya dapat dikatakan telah mencapai tingkatan tertinggi dalam maqāmat atau tingkatan-tingkatan tasawuf.

Sunan Bonang mengartikan pertemuan antara keduanya sebagai pengetahuan terhadap Tuhan (ma’rifatullah), sehingga dengan tercapainya seseorang pada maqām fana’, bukan berarti bahwa ia telah menyatu dengan Tuhan secara fisik, namun persatuan antara keduanya sesungguhnya hanya ada pada hati, yaitu perasaan yang sangat dekat dengan Tuhan, sehingga seakan-akan tidak ada perbedaan antara keduanya.

Adapun ru’yatulah yaitu kemampuan seseorang untuk melihat Allah. Dalam hal ini Sunan Bonang memberikan penjelasan yang masih berhubungan dengan maqām tertinggi dalam pencapaian seorang sālik, yaitu maqām fana’.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (18): Islam Moderat Dalam Konteks Multi-track Diplomacy

Menurut Sunan Bonang, ru’yatullah merupakan hasil dari kesatuan yang sempurna antara manusia dengan Tuhan, yaitu dalam keadaan menyaksikan (musyāhadah), itupun tidak dengan mata kepala, namun dengan mata hati.

“Ru’jatu ‘llahi iku aroes tan aroes. Mangka aketjap Shaich al-Bari: e Rijal……….! Tegesing ru’jat ikoe: aningali ing Pangeran ing aherat lan mata kepala ing doenja lan mata ati.” [B.J.O. Schrieke, Het Boek Van Bonang , Pupuh: 10, 109]

Artinya: “Ru’yat Allah itu melihat, tetapi tidak melihat. Sheikh al-Bari berkata: Wahai manusia…! Arti ru’yat itu melihat Allah dengan mata kepala di akhirat dan di dunia dengan mata hati”.

Bagi Sunan Bonang, ru’yatullah dengan mata kepala secara langsung hanya dapat dilakukan di akhirat karena hanya di akhirat manusia mampu mencapai kesempurnaan penglihatan. Kemampuan dalam ru’yatullah juga berbeda-beda. Tingkat kesempurnaannya bergantung pada martabat yang telah dicapai oleh seorang sālik. Semakin tinggi derajat atau martabat yang dicapai, maka semakin berkurang penghalang (hijāb) antara keduanya, sehingga pandangan dan penglihatannya menjadi jelas dan terhindar dari keraguan karena Allah telah menyempurnakan penglihatannya. Allah dapat terlihat tanpa kias perumpamaan dan sālik dapat melihat-Nya tanpa perantara.

“Tegese ikoe ta kabeh dening saja moendak martabate sinampoernaken tingale dening pangeran dadi tan sak tingale ing dat-sifat-af’āl ira, mapan kang tiningalan bila tashbīh, kang aningali pon bila tasybīh.” [B.J.O. Schrieke, Het Boek Van Bonang , Pupuh: 10, 109]

Artinya: “Maksudnya itu adalah, semakin tinggi martabat seseorang maka akan semakin sempurna penglihatannya terhadap Allah hingga sampai pada sifat dan perbuatanNya. Allah dapat nampak tanpa perantara dan yang melihat (sālik) juga mampu melihat-Nya tanpa perantara.”

Di samping itu, Sunan Bonang juga menegaskan bahwa kemampuan dalam melihat Allah (ru’yatullah) merupakan suatu hal yang relatif, dimana masing-masing individu tidaklah sama dalam hal kejelasan yang dicapai.

Sunan Bonang mengibaratkannya dengan perumpamaan bulan, dimana semakin bertambahnya bilangan hari maka penampakan bulan akan semakin jelas hingga pada purnama.

Baca Juga  Garis Pemisah antara Sains dan Filsafat dan Kematian Metafisika [Bag 2]

“….Kadi ta angganing sasi tanggal sapisan, ana kang kadi tanggal p(ing) kalih, ana kang kadi tanggal p(ing) tiga- ing oendake ta kadi poernamasada.” [B.J.O. Schrieke, Het Boek Van Bonang , Pupuh: 10, 109]

Artinya: “Seperti bentuk atau wujud bulan, kemunculannya dari hari pertama, kedua, ketiga akan semakin jelas hingga sampai pada bulan purnama.”

Dasar yang digunakan Sunan Bonang dalam menguraikan masalah ru’yat tersebut salah satunya adalah sabda Nabi SAW:

عن جرير قال: كنا جلوسا عند النبي صلى الله عليه وسلم اذ نظر الى القمر ليلة البدر قال: انكم سترون ربكم كما ترون هذا القمر لا تضامون فى رؤيته فإن استطعتم أن لا تغلبوا على صلاه قبل طلوع الشمس وصلاة قبل غروب الشمس فافعلوا

Artinya: “Dari Jarīr r.a, ia berkata: Suatu hari kami pernah bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian pada suatu malam beliau melihat bulan purnama dan berkata: “Kalian kelak akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini.” Tidak ada sesuatupun yang menghalangi penglihatan kalian. Karena itu, jangan sampai kalian lewatkan salat sebelum matahari terbit (salat subuh) dan salat sebelum matahari terbenam (salat ashar). (HR. Bukhārī)” [Lihat: Imam Bukhārī, Sah Bukhārī. Bab. Qawl Allah ta’ālā No. 7434. Jild. 4 (Kairo: Dār al-Hadīth, 2004), 433]

Kemudian beliau membaca ayat:

…. Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Q.S. Qāf [50]: 39)

Sunan Bonang juga beranggapan bahwa mahabbah atau cinta adalah buah dari ru’yatullah. Hal itu tidak lain adalah karena seorang manusia tidak dapat mencintai tanpa mengetahui.

Rasa cinta yang tumbuh dalam hati seseorang adalah akibat dari pengetahuan terhadap-Nya. Ketika seorang sālik telah sampai pada mahabbah, maka hatinya hanya akan terisi dengan Allah dan segala gerak-geriknya hanya akan mengikuti apa yang dikehendaki oleh Allah. [MZ]

Jauharotina Alfadhilah
Jauharotina Alfadhilah S1 Universitas al-Azhar Mesir; S2 Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel; Dosen IAINU Tuban