Jayyidan Falakhi Mawaza Peneliti di Social Movement Institute Yogyakarta; Mahasiswa Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Ibnu Sina dan al-Razi: Sumbangsih Pemikir Muslim dalam Ilmu Kedokteran

2 min read

 

Pandemi Covid-19 mendadak mengguncang seluruh lini kehidupan manusia. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Dari hari ke hari jumlah korban semakin bertambah. Tak pelak, hal tersebut memunculkan kekhhawatiran berjamaah. Seluruh elemen negara dan masyarakat bersepakat bahwa Covid-19 adalah musuh bersama (common enemy) yang harus dihadapi. Covid-19 merupakan penyakit baru yang masih belum ditemukan obatnya. Para ilmuwan kedokteran dari seluruh dunia, khusnya Eropa, Amerika dan Tiongkok saat ini berlomba-lomba untuk menemukan vaksin dari wabah covid-19.

Jika kita menengok kembali masa keemasan (golden age) kebudayaan Islam, kita akan menemukan bahwa para pemikir Muslim juga memiliki kontribusi besar untuk kemajuan Ilmu kedokteran. Salah satu dari pemikir Muslim tersebut adalah Muhammad bin Zakariya al-Razi yang hidup pada abad IX Masehi. Dia adalah orang pertama yang secara kritis mempertanyakan teori Galen, seorang dokter Yunani kuno, yang memiliki teori bahwa tubuh manusia terdiri dari empat 4 cairan: darah, empedu hitam, empedu kuning dan lendir. Menurut Galen, munculnya penyakit di tubuh manusia  disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan-cairan tersebut.

Muhammad bin Zakariya al-Razi dengan tegas menentang kesimpulan asal-usul penyakit yang dikemukakan oleh Galen. Ia menulis kritik itu dalam sebuah buku berjudul Kitāb al-Shukūk ‘alā Galinus (Kitab Keraguan terhadap Galen). Di dalam buku tersebut al-Razi menyimpulkan bahwa penyakit fisik tak hanya disebabkan oleh cairan atau sebagai hukuman Tuhan seperti yang diyakini oleh orang Eropa abad pertengahan, melainkan disebabkan oleh faktor internal dan eksternal tertentu yang harus dipecahkan untuk mengobatinya.

Maka dari itu, untuk mengobati serangkaian faktor internal dan eksternal tersebut al-Razi mengembangkan obat khusus yang manjur untuk penyakit umum seperti batuk, sakit kepala dan sembelit. Meski begitu, ia tidak mengkhususkan untuk mengobati gejala penyakit tertentu. Dalam Ensiklodepia Kedokteran yang dia tulis, Al-Hāwī, al-Razi menegaskan pentingnya dedikasi pada kemajuan ilmu kedokteran dan pembelajaran terus-menerus tanpa henti.

Baca Juga  Memilih Hewan Kurban Terbaik Menurut Nabi Muhammad

Ar-Razi mempunyai keyakinan bahwa praktik kedokteran merupakan usaha mulia. Seorang dokter dianugerahi kepercayaan Tuhan agar berbuat baik kepada setiap orang yang membutuhkan, orang tak mampu, atau bahkan musuh sekalipun. Tak heran bila ar-Razi juga sering sekali merawat pasien miskin secara gratis di salah satu rumah sakit terkenal di Baghdad. Kontribusi ar-Razi di bidang ilmu kedokteran sangat populer, karena selama berabad-abad karya-karyanya tersebar luas di dunia Islam maupun Eropa.

Selain ar-Razi, pemikir Muslim di bidang kedokteran yang masyhur adalah Ibnu Sina, atau yang dikenal dengan nama Avicenna di dunia Barat. Ia menerapkan rasionalisasi ilmu pengetahuan lain dalam dunia kedokteran. Ia merumuskan sebuah teori kedokteran bahwa semua hal dalam tubuh manusia dapat dipahami melalui rangkaian sebab-akibat. Berdasarkan pengamatan dan penelitian klinis ilmiah bertahun-tahun ia menyimpulkan bahwa sebuah penyakit dapat menyebar melalui udara, air atau tanah. Ia juga menjelaskan bahwa setiap penyakit memiliki karakteristik tertentu, sehingga harus diobati secara khusus.

Ibnu Sina merupakan salah satu pelopor ilmu kedokteran eksperimental. Dalam magnum opusnya, Qānūn fī al-Tibb, ia mengurai bahwa obat-obatan harus diuji di bawah kondisi terkontrol dan tak boleh dipercaya hanya berdasarkan teori. Obat yang tak efektif secara universal atau tidak dapat dibuktikan benar-benar menyembuhkan penyakit, bagi Ibnu Sina, tak ada gunanya. Ia percaya bahwa pengobatan harus melalui ilmu pengetahuan yang rasional dan melalui observasi.

Karyanya menjadi buku teks standar dan menjadi rujukan oleh siapapun yang ingin belajar ilmu kedokteran di seluruh dunia. Sekolah kedokteran Eropa menggunakan terjemahan latin buku-buku Ibnu Sina sebagai rujukan kurikulum pengajaran. Selain itu, buku-buku Ibnu Sina juga dapat dijumpai di Tiongkok pada zaman dinasti Yuan pada abad XIII Masehi.

Baca Juga  Mengapa Harus Menggunakan New-Normal? Apakah Kita Sedang Rindu?

Qānūn fī al-Tibb menuai penghormatan dan popularitas di dunia internasional karena penjelasannya yang mudah dipahami. Buku ini tak hanya sekedar buku panduan umum tentang penyakit dan pengobatanya, melainkan ensiklopedi medis yang sangat lengkap. Di dalamnya terdapat deskripsi tentang bius anestesi, kanker payudara, rabies, toksin, penyakit ginjal dan tuberkolosis.

Selain itu, dalam buku itu Ibnu Sina juga menulis tentang hubungan antara kesehatan mental dengan kesehatan fisik. Ibnu Sina memiliki kesimpulan bahwa pikiran yang negatif dapat menimbulkan penyakit, seperti halnya faktor lain serupa racun, cedera atau makanan. Keterhubungan kesehatan psikis dan fisik sudah diketahui oleh Ibnu Sina sebelum dikemukakan oleh ahli psikologi kontemporer, seperti Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung.

Sumbangan kedua pemikir Muslim tersebut sangat berpengaruh terhadap kemajuan ilmu kedokteran di dunia. Namun sayang, pasca renaissance, melalui pusat kebudayaan dan pusat keilmuan orang-orang Eropa terbukti lebih mampu mengembangkan temuan dan teori ar-Razi dan Ibnu Sina dibandingkan orang-orang Muslim.

Ilmu kedokteran merupakan ilmu yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Kemajuan ilmu kedokteran dapat berkontribusi dalam meminimalisir angka kematian (mortality rate), lebih-lebih di masa pandemi covid-19 seperti sekarang. Bercermin pada al-Razi dan Ibnu Sina, kita harapkan para pemikir kedokteran Muslim mampu berkontribusi mengatasi penyebaran wabah covid-19 dengan cara menemukan vaksin penyembuhnya.

Jayyidan Falakhi Mawaza
Jayyidan Falakhi Mawaza Peneliti di Social Movement Institute Yogyakarta; Mahasiswa Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga