Jayyidan Falakhi Mawaza Peneliti di Social Movement Institute Yogyakarta; Mahasiswa Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Kisah Persahabatan Snouck Hurgronje dan Tokoh Pribumi

3 min read

Source: Christiaan Snouck Hurgronje (KITLV Leiden/File)

Sepak terjang dari Cristian Snouck Hurgronje dalam kolonisasi pengetahuan di Hindia Belanda sebagai bagian dari senjata penjahahan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepak terjangnya tak bisa dilepaskan dari jabatan yang disandangnya sebagai penasehat Belanda soal urusan pribumi.

Sosok Hurgronje dikenal sebagai salah satu orientalis Eropa dan suksesor kolonial termasyhur di Hindia Belanda yang mampu merekomendasikan rentetan kebijakan kolonial yang berkenaan dengan Islam.

Pengetahuan mendalamnya tentang Islam yang dimilikinya ia dapatkan ketika ia berhasil masuk ke Makkah dan Jeddah untuk mengamati seluk-beluk tentang Islam dan umat muslim Hindia Belanda di Makkah (komunitas jawi) selama 6 bulan pada periode tahun 1884-1885 M.

Kedatangan dan ditunjuknya Hurgronje sebagai penasehat Belanda urusan pribumi berdekatan dengan maraknya  perlawanan terhadap pemerintah kolonial yang dikomandoi oleh para ulama lokal seperti Perang Jawa (1825-1830 M.), perang Aceh pada tahun (1873-1912 M.) hingga pemberontakan Banten yang berlangsung pada tahun 1888 M.

Meski begitu, pengetahuan mendalamnya tentang Islam di Hindia Belanda yang digunakan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial tidak dipelajari dan diperoleh secara otodidak melainkan hasil dari serangkaian kerjasama dengan para kolaborator pribumi.

Beberapa kolaborator pribumi yang berkontribusi dalam membentuk pengetahuan Hurgronje seputar Islam di Hindia Belanda adalah Teuku Muhammad Nurdin yang menjadi sekretaris pribadinya saat di Aceh, Sayyid Ustman mufti Betawi keturunan Arab hingga Haji Hasan Mustopa.

Dari beberapa kolaborator pribumi yang bekerjasama dengannya, Hasan Mustopa merupakan salah satu kolaborator pribumi yang sangat dekat dan intens berhubungan dengan Hurgronje. Hubungan keduanya tidak sekedar layaknya hubungan antara patron-klien atau tuan-majikan yang kaku melainkan hubungan yang natural dan ramah layaknya hubungan keluarga dan seorang sahabat.

Baca Juga  Kitab Sullam al-Futūhāt Karya K.H. Abdul Hannan Maksum: Antologi Wirid, Doa, dan Suwuk

Hurgronje dan Mustopa telah menjalin hubungan baik semenjak keduanya sama-sama tinggal di Makkah pada tahun 1885 M. Hubungan itu terjalin semakin intensif kala keduanya sama-sama tinggal di Hindia Belanda. Hasan Mustopa sendiri merupakan sosok yang terkenal sebagai sastrawan Sunda yang telah melahirkan puluhan karya prosa dan belasan ribu dangding berbahasan Sunda.

Jajang A Rohmana dalam bukunya berjudul Informan Sunda di Masa Kolonial: Surat-surat Haji Hasan Mustopa untuk C. Snouck Hurgronje (2018) mengatakan bahwa persahabatan kedua orang ini sangat hangat. Hal itu bisa dilihat dari surat-surat pribadi Hasan Mustopa kepada Snouck Hurgronje dan sejumlah catatan mustopa tentang sosok Orientalis Belanda ini.

Hubungan awal persahabatan mereka di Makkah begitu berbekas di hati keduanya hingga akhirnya mereka membuat janji agar bisa bertemu di Hindia Belanda.

Empat tahun setelah pertemuan terakhir keduanya di Makkah, akhrirnya mereka keinginan untuk bertemu di Bumi Nusantara pun dapat terwujud. Hubungan keduanya semakin intens ketika Snouck Hurgronje mengajak Hasan Mustopa untuk melakukan perjalanan keliling Jawa sebanyak 2 kali dalam rentang waktu tahun 1889-1891 M. Dalam perjalanan tersebut, mereka mengunjungi beberapa pesantren di Yogyakarta, Magelang, Surakarta, Madiun dan Ponorogo.

Menurut Michael Laffan dalam bukunya Sejarah Islam di Nusantara (2015) dalam kunjunganya berkeliling pondok pesantren di jawa Snouck Hurgronje memanfaatkan keahlian dari Hasan Mustopa untuk mendokumentasikan safari ke berbagai pondok dan masjid setempat, mendokumentasikan judul kitab yang diajarkan di masing-masing pondok dan masjid tersebut serta mencatatkan juga para guru dan beragam tarekat yang diikuti.

Sebagai contoh Hasan Mustopa menyusun sebuah daftar karya-karya berbahasa Arab yang diajarkan di Priangan dengan memilah antara kitab-kitab baik yang klasik maupun karya yang lebih baru seperti karya Nawawi dan risalahnya yang merupakan versi syair dari kitab terkenal Waraqat karya al-Juwayni. Selain itu, Hasan Mustopa sendiri juga berupaya untuk mendalami kitab-kitab yang diajarkan oleh tarekat syattariyah di bagian Jawa.

Baca Juga  Apa Pesan Habib Ali Al Jufri?

Setelah perjalanan panjangnya keliling Jawa, hubungan keduanya masih tetap berlanjut. Ia pun mengusulkan Mustopa sebagai penghulu di Kutaraja Aceh. Selama di Aceh Mustopa menjalin komunikasi melalui surat dengan Snouck Hurgronje yang pada saat itu tinggal di Batavia. Ketika Mustopa pindah menjadi penghulu di Bandung pada tahun 1896 M. Hurgronje juga tetap menjalin komunikasi melalui surat maupun saling berkunjung.

Pada tahun 1906 M., Snouck Hurgronje meninggalkan Hindia Belanda dan kembali ke Belanda. Meski terhalang jarak belasan ribu kilometer dan meskipun Mustopa telah pensiun dari penghulu di Bandung pada tahun 1917 M., keduanya tetap rajin berkirim surat, bahkan sampai beberapa tahun sebelum Mustopa wafat.

Momen kerinduan yang paling mendalam diantara keduanya memang terjadi setelah Snouck Hurgronje pindah ke Belanda. Mustopa senantiasa mengirim surat yang tertuju pada alamat di Witte Single 84 A Leiden yang notabene merupakan tempat tinggal sahabatnya ini. Surat-surat tersebut tak sedikit yang ditulis dalam bahasa Arab. Hal tersebut dapat dimaklumi karena keduanya sama-sama pernah mendalami bahasa Arab ketika tinggal di Makkah.

Dalam beberapa surat tersebut, tak segan Mustopa mengungkapkan perasaan kerinduan hatinya dan bertanya-tanya tentang kapan dirinya kembali lagi bisa bertemu dengan Snouck Hurgronje. Mustopa nampaknya berharap Hurgronje dapat kembali lagi ke Hindia Belanda menemui dirinya dapat membawa sentuhan rohani yang menambah kebahagian hatinya.

Dalam serangkain surat-surat tersebut, Mustopa menyebut Snouck Hurgronje dengan ungkapan al-akh al-qadīm wa al-rafīq al-qawīm yakni sebagai saudara lama dan teman setia.

Hurgronje dan Mustopa mencoba mengingat kembali bagaimana keduanya pernah berjanji untuk saling membela ketika ditimpa masalah. Keduanya memang pernah ditimpa masalah dan disaat itulah mereka saling membela.

Baca Juga  Dimash Kudaibergen: Promoting Humanity and Religious Values without Religious Attributes in the Showbiz World

Snouck Hurgronje pernah dibela oleh Mustopa saat dirinya dituduh sebagai agen mata-mata. pun demikian dengan Snouck Hurgronje yang pernah membela Mustopa dengan nota pembelaan kepada sekretaris pemerintah kolonial di Buitenzorg karena Mustopa dianggap tidak dapat dipercaya oleh pemerintah Hindia Belanda dalam menjalankan tugasnya sebagai penghulu di Aceh. [AA]

Jayyidan Falakhi Mawaza Peneliti di Social Movement Institute Yogyakarta; Mahasiswa Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga