Dalam kehidupan seseorang, pasti akan datang satu momen transformatif yang disebut moment of truth, di mana orang akan merasakan kegelisahan hidup dan dia harus jujur terhadap tujuan hidupnya yang hakiki. Pada momen ini, tindakan seseorang yang ia ambil akan menentukan perjalanan hidup selanjutnya, apakah ia akan sepenuhnya bahagia dengan mengikuti kata hati walau harus menginggalkan seluruh kenyamanan duniawi ataukah ia akan pura-pura bahagia dengan memilih keadaan mapan namun harus merasakan pergolakan batin. Momen yang terjadi pada Jalauddin Rumi, Abdul Wahab Al-Sya’roni dalam tradisi sufisme Islam, Santo Agustinus pada tradisi kekristenan dan Rene Descartes pada tradisi filsafat barat modern.
Momen yang sama dialami pula oleh Al-Ghazali. Saat ia mencapai kedudukan tertinggi sebagai penasehat bagi wazir kesultanan Saljuk, Nizam al-Mulk dan menjadi rektor di Universitas Nizamiyah di Baghdad, Al-Ghazali mengalami krisis spiritual yang hebat. Ia merasakan bahwa kehidupan intelektualnya selama ini merupakan sebuah kepalsuan, di mana di luar terlihat dipenuhi dengan ilmu dan agama, namun di dalamnya sesungguhnya berisi keduniawian dan popularitas, sebuah perasaan yang tidak mendatangkan kebahagiaan hakiki, hingga pada suatu saat panggilan iman menyerunya untuk keluar dari keadaan de facto menuju ke keadaan yang sepi menyendiri berasik masuk dengan Allah.
Gejolak batin tidak dirasakan Al-Ghazali ini dalam waktu yang singkat, namun cukup panjang sekitar 6 bulan. Ada pertentangan hebat dalam dirinya antara bisikan nafsu duniawi yang mengajak untuk tetap pada keadaan yang penuh dengan kemapanan dan kenyamanan dan seruan ukhrawi yang mengajaknya untuk lari dan mempersiapkan kehidupan abadi di akhirat. Maka pada satu momen di saat Al-Ghazali mengalami sebuah gejala psikosomatik yaitu kondisi fisik yang lemah dan ketidakmampun lisan untuk sekadar berucap diakibatkan oleh gangguan kondisi psikis, maka pada saat yang sama Al-Ghazali berani mengambil sikap radikal, yaitu meninggalkan semua kekayaan dan kedudukan sosial dan melakukan uzlah (mengambil jarak dengan dunia).
Sebagai seorang pencari kebenaran sejati, Al-Ghazali mempunyai prinsip bahwa mencari kebenaran harus dengan totalitas hingga mencapai kebenaran purna, seperti pengakuannya dalam Jawahir al-Quran:
“saya tidak mau hanya bermain di pinggir pantai yang dangkal namun saya akan menuju ke tengah samudera dan menyelami bagian terdalam dari samudera”.
Benar saja, dengan prinsip ini Al-Ghazali menyelami kedalaman samudera ilmu syariat, kalam, hingga filsafat, namun belum memuaskan dahaga seorang Al-Ghazali bahkan merasa lebih mudah untuk menguasai jalan intelektual dibandingkan dengan jalan spiritual yang ditempuh para sufi. Dengan keyakinan bahwa jalan sufi adalah jalan yang paling benar menuju Al-Haq sekalipun bila dibandingkan dengan seluruh keilmuan dari para rasionalis, filosof dan ulama maka tidak akan bisa menggantikan keluhuran jalan sufi. Karena seluruh yang mengilhami laku para sufi baik ketika diam dan bergerak maupun pada keadaan dzahir dan batin semua bersumber dari lampu kenabian, lampu terbaik bagi terangnya kebenaran.
Kesimpulan ini didapatkan Al-Ghazali setelah ia merasa tidak puas akan kebenaran hakiki pasca mempelajari karya sufi besar seperti Abu Thalib Al-Makki, Al-Harits AL-Mahasibi, Al-Junaid Al-Baghdadi, Al-Syibli, Abu Yazid Al-Busthomi. Al-Ghazali menyadari bahwa laku sufi tidak cukup hanya diraih dengan proses belajar, namun harus juga ditempuh dengan olah rasa dan suluk, karena sesungguhnya para sufi itu adalah pelaku pengalaman bukan pemilik ucapan.
Dengan pondasi ilmu syariat dan rasionalitas, kebenaran yang akan didapatkan adalah 3 dasar keimanan, yaitu pada Allah, kenabian dan Hari Akhir sedang laku sufi akan memperkuat hal itu bukan dengan prosedur beragumentasi yang benar namun dengan isyarat batin dan pengalaman spiritual. Al-Ghazali menyadari bahwa tiada kunci meraih kebahagiaan akhirat kecuali dengan ketakwaan dan pengendalian hawa nafsu (tahalli), sedangkan modal utama sebelum proses itu adalah memutus ikatan hati dari kemelakatan duniawi, membuat jarak dengan dunia, berkomitmen pada akhirat dan menghadap sepenuhnya pada Allah Azza wa jalla (takhalli).
Oleh karenanya, Al-Ghazali melakukan pengembaraan dan melakukan uzlah di banyak tempat seperti Syam, Damaskus, Palestina, selama 10 tahun lamanya. Banyak pengalaman dan ilmu yang ia dapatkan pasca proses panjang tersebut dan tidak akan diceritakan kepada siapapun, karena berpotensi membuat kesalahfahaman, seperti yang dialami oleh tokoh sufi besar seperti Al-Hallaj, Ibnu Arabi, Suhrawardi, Al-Hamadani, dan sebagainya. Namun beberapa yang diceritakan Al-Ghazali, di antaranya:
Jalan sufi dimulai dengan proses pensucian secara spiritual, yaitu mensucikan hati dari selain Allah, diikuti dengan mencurahkan kecenderungan hati hanya untuk mengingat Allah, dan puncaknya adalah Fana (lebur) bersama Allah. Proses seperti ini yang menurut kasb manusia adalah bagian puncak, padahal menurut hakikat, ia adalah proses awal menuju Allah laiknya beranda depan rumah.
Proses sebenarnya yang dimaksud Al-Ghazali adalah fase terbukanya mata hati (Mukasyafah), fase terlihatnya semua objek yang tidak bisa dikenali mata zahir (Musyahadah) dan fase mendengar suara yang berfaidah hanya bagi pendengarnya. Kemudian proses berlanjut pada fase luar biasa yang tidak akan bisa diceritakan dan dipercaya oleh siapapun kecuali yang mengalaminya. Dan akan berakhir pada fase kedekatan personal dengan Allah, satu fase yang sering dialihbahasakan secara salah sebagai hulul,wihdatul wujud, wusul, dan sebagainya.
Dalam kitab Ihya’ disebutkan sebuah Hadis Qudsi, bahwasanya siapa yang menempuh jalan al-mufridun (orang yang berfokus untuk dzikr Allah sehingga pada hari kiamat ia datang sebagai orang yang sangat ringan karena telah disucikan dari dosa) maka ia akan sampai terlebih dahulu kepada Allah dan Allah akan menghadapinya secara personal bahkan akan diletakkan pada hatinya cahaya dan mendapatkan anugerah berupa ilmu secara langsung dari Allah Azza wa Jalla. Inilah yang disebut ilmu ilham, ilmu yang bersifat esoterik dan berasal dari lauh al-mahfudz. ilmu yang tidak akan membuat salik tersesat bahkan akan sampai pada Allah. Wallau a’lam.
Demikianlah proses mencari kebenaran yang dalam bahasa kaum millenial sering kita jumpai dengan hijrah. Dalam perjalanannya, dibutuhkan keberanian seperti yang dicontohkan Al-Ghazali, bahwa ketika datang momen pencerahan dalam diri, kita sudah sepatutnya berani mengambil sikap dan sikap yang tepat itu adalah sikap yang pada ujungnya akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki, yaitu kebenaran mengenal Allah secara hakikat dan jalan tertinggi yang bisa menghantarkan pada kebenaran ilahi itu adalah jalan sufistik.