Kusroni Dosen STAI al-Fithrah Surabaya; Alumnus S3 UIN Sunan Ampel Surabaya

Pendakwah Karbitan dan Pentingnya Dakwah Bil Hal

1 min read

Beberapa waktu yang lalu sebuah potongan video berisi ustaz Evie Effendi yang “belepotan” dalam membaca Alquran viral di media sosial. Parahnya, ayat tersebut dibaca di hadapan para jemaah yang kemudian menirukan bacaan sang dai.

Jauh sebelum peristiwa ini, sang pendakwah tersebut juga tercatat pernah “menafsirkan” sebuah ayat secara “serampangan”, tanpa merujuk pendapat ulama tafsir, dan tentunya tanpa bekal ilmu yang memadai. Belakangan, yang bersangkutan kemudian meminta maaf dan memberikan klarifikasi.

Fenomena seperti ini tentu sangat menyedihkan dan berbahaya, karena berpotensi “menyesatkan” umat. Semangat keberagamaan yang menggebu-gebu tanpa didasari dengan keilmuan agama yang kokoh adalah salah satu penyebab menjamurnya pendakwah “karbitan”.

Mereka-mereka ini biasanya adalah para “mualaf” dan orang-orang yang mengklaim telah “berhijrah”. Setelah belajar secara instan dan terkadang secara otodidak, serta merasa hapal dan paham beberapa ayat (dan terjemahannya) dan hadis (dari buku terjemahan), mereka merasa perlu untuk berdakwah dan amar makruf nahi munkar.

Dua hal ini memang diperintahkan oleh Allah dalam Alquran dan beberapa hadis Nabi Muhammad saw.

Misalnya, dalam surah Ali Imran: 104, yang artinya:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Dalam salah satu riwayat juga disebutkan bahwa kanjeng Nabi pernah bersabda, yang artinya:

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”

Sayangnya, ayat dan hadis-hadis sejenis dipahami secara letterlijk (harfiah) oleh para dai “karbitan” tersebut, sehingga yang muncul adalah gairah berdakwah, meskipun belum memiliki bekal keilmuan yang cukup.

Padahal, untuk bisa memahami Islam secara baik dan benar, para kiai biasanya telah belajar di pondok pesantren dalam waktu yang relatif lama, bahkan bertahun-tahun, dan kadang berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya.

Baca Juga  Beragama Jangan Hanya Modal Dengkul

Santri-santri senior yang telah belajar lama di pesantren pun, kadangkala masih belum “berani” berdakwah secara bi al-qaul di tengah-tengah masyarakat saat boyong (pulang kampung). Kebanyakan mereka, para santri lawas, yang baru boyong itu mengawali dakwah dengan dakwah “bi al-hāl”, yakni membaur dengan masyarakat dengan “akhlakul karimah”, alih-alih dakwah dengan ilmiah dan ceramah.

Karena mereka sangat paham bahwa dakwah itu harus dilandasi ilmu, dakwah juga harus memperhatikan realitas dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat.

Itulah mengapa dalam salah satu ayat Alquran yang berbicara tentang amar ma’rūf nahi munkar, digunakan term urf, bukan ma’rūf. Coba kita perhatikan surah al-A’raf: 199:

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَـٰهِلِینَ

Secara linguistik, kata lafal urf, selain bermakna kebaikan, juga bisa bermakna kebiasaan, adat, praktik, dan tradisi. Ini menandakan bahwa dalam berdakwah, tidak semata-mata berorientasi pada kebaikan atau dianggap baik saja, melainkan juga harus memperhatikan aspek tradisi, dan nilai-nilai sosial-kemasyarakatan.

Salah satu aspek yang sangat penting dalam berdakwah adalah ilmu dan kompetensi sang pendakwah. Kaitannya dengan ini, sangat menarik apa yang ditulis oleh Syaikh Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari, dalam karyanya yang sangat terkenal berjudul, al-Hikam . Beliau menulis:

ادْفِنْ وُجودَكَ في أَرْضَ الخُمولِ ، فَما نَبَتَ مِمّا لََمْ يُدْفَنْ لاَ يَتِمُّ نِتَاجُهُ

“Tanamlah wujud (eksistensi)mu dalam tanah yang “khumul” (tak dikenal). Sesungguhnya buah yang tumbuh dari biji yang tidak ditanam, tak akan sempurna hasilnya”.

Ungkapan sastrawi yang sangat indah ini, secara sederhana, mengisyaratkan bahwa seorang santri hendaknya jangan terburu-buru mengejar eksistensi dan popularitas (atau dalam istilah kekiniannya, followers dan subscriber yang banyak), dengan dakwal bi al-qaul, sebelum ia yakin bahwa ilmunya telah “matang” dan lulus dalam dakwah bi al-hāl. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah fenomena pendakwah “karbitan”, yang mewarnai jagat media sosial dan mimbar-mimbar dakwah umat Islam akhir-akhir ini.

Kusroni Dosen STAI al-Fithrah Surabaya; Alumnus S3 UIN Sunan Ampel Surabaya