Khoirul Faizin Dosen IAIN Jember

Tak Harus Menunggu Hujan Untuk Melihat Pelangi

3 min read

April 2016.

Empat tahun lalu, dalam sebuah perjalanan penelitian, penulis sampai di bumi serambi Mekah, Aceh. Pagi itu, hari masih pagi. Jarum jam baru menunjuk angka delapan. Bandara Kuala Batee Blangpidi, Aceh Barat Daya (Abdiya) juga masih sepi. Pesawat perintis Susi Air yang hendak membawa penulis ke Bandara Kuala Namu Medan pukul 10.30 hari itu, belum juga nampak mendarat. Untung ada kedai kopi di luar bandara yang sudah buka. Sembari menunggu jadual penerbangan, penulis mampir ke kedai kopi itu.

Khoirunnas, pria kelahiran Susoh berumur 39 tahun, adalah si pemilik kedai kopi itu. Susoh adalah nama salah satu kecamatan di Abdiya—lokasi bandara Kuala Batee berada. Abang Khoiron, demikian penulis memanggilnya, orangnya gampang akrab. Tak jarang terdengar tawa renyahnya mengiringi ceritanya. Segelas kopi hitam dan sepiring mie Aceh melengkapi hangatnya obrolan kami. Kebetulan, memang baru penulis yang singgah di kedainya pagi itu.

Namun ada yang berubah ketika penulis ingin mendengar cerita darinya tentang tsunami. Nampak raut kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Senyum dan tawanya tak penulis dengar lagi, air mukanya melukiskan rasa kesedihan dan duka yang begitu dalam. Sejurus, suasana hening tersaji. Akhirnya, dengan suara berat tertahan, ia mulai bercerita. Istri dan kedua anaknya terseret air pasang pada Minggu, 26 Desember 2004 itu, dan mayatnya tidak ditemukan. Ia sendiri selamat karena tersangkut di pohon kelapa.

“Tapi, alhamdulillah, ada tsunami!”, sesaat kudengar suaranya memecah keheningan.

“Lho, kok alhamdulillah Bang?”, kekagetan membaluri selidikku.

Ia bersyukur bukan karena telah kehilangan istri dan kedua anaknya. Ia bersyukur karena Allah telah menegurnya. Lewat tsunami, Tuhan hadir menyapanya, menyapa kami, menyapa bangsa ini. Status Aceh sebagai daerah operasi militer (DOM) membawa sesama anak bangsa ini saling bunuh, hingga ribuan nyawa melayang karenanya. Namun, gelombang pasang setinggi 30 meter itu telah menyapu bersih, meluluh-lantakkan semua yang ada. Melenyapkan pula kebencian dan dendam kesumat yang tak lagi terhitung berapa kadarnya. Aceh pasca tsunami adalah Aceh yang damai. Pengakuan sama, juga penulis dengar dari banyak orang selama berada di sana.

Baca Juga  Tradisi Baru Intelektual muslim Era Covid-19, Belajar dari Tadarus Litapdimas Kemenag RI

Dan kini, April 2020.

Pengakuan yang kurang lebih sama, yakni hadirnya peringatan dan sapaan Tuhan kembali kita dengar. Sebenarnya, banyaknya perbedaan sebagai penyertanya, sehingga tidak cukup kuat untuk membandingkan antarkeduanya. Tidak aple to aple. Namun catatan sederhana dari keduanya, kita didapatkan quote yang sama; pengakuan atas hadirnya sapaan dan “teguran” Tuhan akibat ulah manusia.

Hasil jajak pendapat Mc Laughlin and Associates for The Joshua Fund atas 1000 warga AS menunjukkan, hampir separoh (44%) responden percaya bahwa pandemi Covid-19 adalah wake-up call (panggilan kesadaran) dari Tuhan atau tanda “penghakiman yang akan datang”. Padahal, hasil penelitian dari tim kampus Universitas San Diego, AS, sejak 1980 hingga 2014 menunjukkan angka warga AS yang tidak percaya Tuhan meningkat dua kali lipat dan jumlah mereka yang tidak berdoa meningkat lima kali lebih banyak. Dan ini, diyakini terus meningkat dalam setiap tahunnya. Namun, pandemi Covid-19 secara dramatis telah menjungkir-balikkan data itu. Pandemi Covid-19 telah meningkatkan minat mereka pada masalah spiritual. Mereka meyakini kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Demikian, Koran The Independent melaporkan.

Lalu mengapa lari kepada agama, kepada Tuhan?

Meskipun bagi sebagian orang, meminjam Karen Amstrong, kata Tuhan mencakup keseluruhan spektrum makna dan nilai-nilai, tetapi konsep Tuhan seringkali hadir lebih karena alasan pragmatis ketimbang filosofis atau ilmiah. Di tengah derita karena keterlemparannya di dunia, konon dianggap sebagai titik mula lahirnya agama-agama karena manusia ingin menemukan makna-makna dalam kehidupannya.

Oleh karena itu, pilihan untuk menghadirkan tangan Tuhan dalam fenomena tsunami dan pandemi Covid-19 itu adalah setarikan nafas dengan apa yang dikenal dengan istilah faktor pendorong utama sisi psikologis dan neurologis para penganut agama. Ketika kehidupan sulit atau bencana melanda, agama (Tuhan) diakui memberikan benteng pertahanan psikologis dan (bahkan) tidak jarang praktis.

Baca Juga  Kutipan-kutipan Saking Al-Qur’an Sui Ring Bahasa Bali: Mutiara Pulau Dewata yang Tak Terjamah

Itulah mengapa, Voltaire, Filsuf Perancis abad ke-18 menganggap bahwa kepercayaan kepada Tuhan diperlukan agar masyarakat berfungsi. Hingga ia lantang meneriakkan, “Jika Tuhan tidak ada, maka sangat perlu untuk menciptakannya”. Menciptakan Tuhan demi makna-makna yang ingin ditemukan manusia.

Watak dasar manusia sebagai makhluk yang sangat rentan, mudah merasakan kepanikan dan ketakutan terhadap kelaparan, bencana alam, maupun kehilangan sesuatu, jelas digambarkan dalam QS. an-Nahl:112. Rasa ketakutan, tak berdaya, tak bermakna, tiada kepastian akan hidup di tengah deraan derita kehidupan telah membawanya melakukan upaya apa saja, termasuk memohon pertolongan Tuhan dengan memanjatkan doa kepadaNya. Ahmad Zainul Hamdi mengilustrasikan dengan sangat jelas fenomena ini lewat tulisannya, “Menafsir Isyarat Langit: Dari Kakang Semar hingga Awan yang Shalat” (14/4).

Rupanya—diakui atau tidak—kita masih membutuhkan terlebih dulu kehadiran Tuhan lewat tsunami demi menunjukkan bahwa pertikaian antarsesama manusia hanyalah membuahkan kesedihan dan kesengsaraan. Kita juga masih terlebih dulu membutuhkan kehadiran Tuhan lewat pandemi Covid-19 demi pengakuan bahwa Tuhan itu ada dan (sedemikian) nyata adanya. Seandainya gunung es, maka kedua fenomena itu hanyalah puncaknya yang mampu kita baca.

Jika diibaratkan hujan adalah kesedihan dan kesengsaraan, sedangkan pelangi adalah konotasi dari keindahan dan kebahagiaan. Ilustrasi di atas menggambarkan, betapa (kita) seringkali baru menyadari bahwa Tuhan itu sedemikian nyata adanya manakala (kita) sedang berada di tengah kondisi kesedihan dan kesengsaraan. Sebagai kompensasinya, demi menghapus kesedihan dan kesengsaraan itu, kita melakukan beragam ritual demi memohon campur tangan Tuhan untuk menghadirkan keindahan dan kebahagiaan.

Memang sedemikianlah adanya, sesaat setelah turunnya hujan akan lahir indahnya pelangi. Tapi, sampai kapan kita mengharap hadirnya keindahan pelangi karena turunnya hujan? Haruskah menunggu teguran dan sapaanNya, baru kita menghadirkanNya? Tuhan ada dan selamanya akan tetap ada, tanpa tsunami maupun pandemi Covid-19. Akhirnya, tuk melihat pelangi, tak harus menunggu turunnya hujan! Wallahu a’lam. [MZ]

Khoirul Faizin Dosen IAIN Jember

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *