Kamilia Hamidah Pendiri Madrasah Damai, Pesantren Virtual, Dosen Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati; Pegiat Lintas Iman KAICIID Indonesia

Media Islam Arus Utama dan Pentingnya Merebut Google Page-Rank

2 min read

sumber: mangools.com

Dalam satu mata kuliah yang saya ajarkan di Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, saya membawakan sebuah artikel pendek tentang kesenjangan digital. Dalam istilah asingnya, digital divide.

Kesenjangan digital ini merupakan fenomena di mana terjadi kesenjangan antara mereka yang memiliki akses koneksi perangkat digital dan mereka yang tidak memiliki akses. Kesenjangan ini juga termasuk yang berkaitan dengan skill untuk menjadikan teknologi informasi sebagai elemen penting yang memberi kemudahan dalam semua lini. Fenomena kesenjangan digital ini sebenarnya tidak semata-mata berkaitan dengan isu kesenjangan akses, tapi lebih dari itu juga kesiapan individu untuk dapat memanfaatkan kemajuan teknologi digital secara proporsional. Fenomena ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah, ketika penetrasi internet telah sedemikian masifnya memenuhi berbagai lini kehidupan sosial.

Di Indonesia saat ini, peningkatan pengguna internet semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data ini diperkuat oleh rilis Hootsuit awal tahun 2020 yang menyebut bahwa pengguna aktif internet Indonesia kurang lebih 175 juta, lebih banyak dibandingkan rilis tahun lalu sebanyak 150 juta pengguna. Artinya, dengan populasi kurang lebih 272,1 juta jiwa, lebih dari separuh penduduk telah dengan baik terkoneksi dengan internet. Disparitas ketersediaan akses internet bagi masyarakat Indonesia telah secara bertahap teratasi.

Fenomena ini menjadi semakin menantang untuk para mengelola konten dalam memenuhi kebutuhan publik terkait dengan konten-konten tertentu. Apalagi pada saat ini masyarakat kita memiliki gairah keberagamaan yang meningkat, terutama pada kalangan Muslim perkotaan.

Pernah dalam satu kelas saya minta mahasiswa membayangkan sebuah rmasalah hukum keagamaan lalu meminta mereka mencari jawaban lewat Google. Saya beri waktu lima menit. Kemudian saya tanyakan satu per satu: pertanyaan apa yang mereka cari dan situs apa yang muncul di tiga baris pertama teratas dalam pencarian tersebut.

Baca Juga  Apa Kabar Ibadah Kita Setelah Ramadhan?

Ada bermacam-macam pertanyaan yang mereka ketik di Google, mulai dari hukum tahlilan, hukum memakai cadar, dan beragam pertanyaan amaliyah ‘ubudiyah keseharian lainnya. Dari deretan situs tiga teratas yang mereka dapatkan, saya mengajukan pertanyaan lanjutan: apakah mereka mencatat situs apa? siapa penulisnya? ustad pengasuh konsultasinya siapa? rujukannya apa? apakah ada tim redaksi yang bisa dihubungi?

Hampir semua mengatakan tidak. Artinya, mereka tidak terlalu memperdulikan konten tersebut ditulis oleh siapa, rujukannya apa, yang penting situs itu muncul di paling atas mereka langsung menjadikannya sebagai referensi.

Setelah ditelaah, ternyata konten-konten konsultasi atau tanya-jawab permasalahan ‘ubudiyah keseharian dan amalan keagamaan ini didominasi oleh situs-situs yang tidak berafiliasi pada organisasi keislaman arus utama. Situs-situs itu cenderung menggunakan pendekatan dogmatik, tanpa memberi kesempatan pada pembaca untuk melihat perbendaan pendapat di antara para ulama. Mereka memberikan pendapat berwarna tunggal yang eksklusif dan tidak mendidik pembaca untuk melihat keragaman praktek keagamaan. Tidak heran jika banyak dari generasi sekarang mudah menyalahkan dan menyesatkan orang yang berbeda pendapat dengan sumber kajian yang ada di mesin pencari.

Popularitas situs atau page-rank sangat berpengaruh pada rating popularitas yang erat kaitannya dengan tata kelola, manajemen update berkala, kekayaan konten dan juga traffic pengunjung situs. Proses tata kelola situs seperti ini tidak cukup hanya dibangun dan dikelola secara instan. Hal ini perlu konsistensi dan dedikasi yang berkesinambungan dalam memperkaya konten-konten yang diperlukan publik.

Dari catatan pendek ini ada beberapa hal yang perlu menjadi renungan bersama. Pertama, perlu ada sinergi antar pengelola media Islam arus utama, karena gairah keberagamaan masyarakat perlu diimbangi dengan ketersediaan konten keagamaan sebagai pemenuhan literasi keagamaan yang moderat, kontekstual, dan mudah diakses, dengan narasi yang memudahkan.

Baca Juga  Pemikiran Ibu Sinta Nuriyah untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan

Kedua, harus ada usaha untuk memperbanyak saluran media Islam arus utama, guna memunculkan keragaman referensi bagi publik digital. Keberadaan situs web yang beragam diharapkan bisa mewarnai ruang publik digital dalam tema kajian keislaman. Tentu saja hal ini menjadi tantangan berat bagi pengelola, karena tidak mudah mempertahankan popularitas situs web dan bertahan pada genre kajian tertentu.

Ketiga, sudah saatnya kajian keislaman Islam arus utama dijadikan live streaming dengan bahasa yang mudah dicerna dan tidak rumit, mengingat video (Youtube) sudah menjadi media sosial dengan akses terbesar setelah Facebook.

Keempat, kita dihadapkan pada kultur digital yang mengubah pola transfer pengetahuan konvensional ke pola digital. Hal ini diperparah dengan rendahnya minat baca sebagian besar masyarakat. Saat ini, masyarakat digital kita secara umum adalah konsumen pasif produk digital yang dikonsumsi begitu saja tanpa filter. Informasi apapun yang muncul teratas dalam pencarian Google, itulah yang akan mendominasi wacana publik. []

Kamilia Hamidah Pendiri Madrasah Damai, Pesantren Virtual, Dosen Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati; Pegiat Lintas Iman KAICIID Indonesia