Shinta Khurniawati Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Agama Islam Universitas Islam Negeri Walisongo

Bagaimana Hukumnya Mengemis Di Media Sosial TikTOk?

2 min read

Saat ini masyarakat Indonesia tengah digemparkan dengan konten di media sosial Tiktok yang dilakukan secara live namun yang mencengangkan dan terkesan miris, muatan konten tersebut adalah seorang yang tengah mengemis dengan berbagai cara seperti mandi dengan lumpur atau mengguyur tubuh dengan air. Tidak berhenti sampai disitu, hal tersebut dilakukan oleh orang yang masih terlihat produktif bahkan yang telah berusia lanjut.

Kemajuan teknologi yang terjadi di era digital tidak dapat dipungkiri dapat menjadi sebuah boomerang bagi kehidupan manusia. Berbagai kemudahan untuk mengases informasi kemudian menjadi dua sisi yang sejatinya harus dimanfaatkan secara efisien namun kemudian dapat pula bergeser menjadi hal yang “negatif” salah satunya adalah tren “mengemis” dengan menggunakan sarana media sosial yang pada saat ini tengah populer di masyarakat.

Media sosial Tiktok yang saat ini tengah populeh dan beberapa tahun terakhir menjadi sebuah wadah untuk menyalurkan ekspresi dan kreativitas dengan berbagai fitur dan kemudahan yang memungkinkan kita untuk melakukan live streaming. Namun akhir-akhir ini digunakan untuk hal yang tidak wajar, yakni mengemis. Platform ini kemungkinan besar dipilih oleh pelaku “ngemis online”, atas kemungkinan bahwa Indonesia merupakan negara terbesar kedua sebagai pengguna Tiktok, dengan 99,1 juta orang pengguna aktif dan rata-rata menghabiskan waktu di Tiktok 23,1 jam perbulan (Data.com,2022).

Sejatinya, fenomena mengemis bukanlah sebuah hal baru yang terjadi di masyarakat. Hal tersebut bahkan telah menjadi sebuah fenomena sosial sebab adanya struktur sosial dan ekonomi yang timpang. Budaya mengemis dan pilihan hidup menjadi pengemis tanpa disadari terbangun dalam kehidupan sehari-hari. Namun bila secara “kasar” mengemis diidentikkan dengan meminta-minta dipinggir jalan, saat ini, di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang berkembang pesat, mengemis dilakukan melalui media sosial salah satunya Tiktok yang saat ini menimbulkan keresahan di masyarakat.

Baca Juga  Toleransi di Tanah Singkawang: Sebuah Catatan Perjalanan

Metode mengemis di tiktok yang dilakukan dengan berbagi cara, kemudian mengaharapkan pemberian “gift” yang dapat ditukarkan menjadi pundi-pundi rupiah menjadi cara baru mengemis di era digital, mengemis tidak hanya dilakukan di pinggir-pinggir jalan dengan menggunakan pakaian compang-camping atau kumal dengan berjalan atau hanya sekedar duduk menengadahkan tangan, namun juga mengharapkan belas kasihan dari para penonton live streaming dengan menggunakan cara yang dirasa tidak masuk akal.

Mengutip pendapat Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono dalam artikel kompas.com perilaku mengemis melalui media sosial dilakukan karena dua hal, yakni adanya ruang dengan melalui medis sosial tersebut untuk mendapatkan simpati,perhatian dan uang serta mengetahui bahwasanya orang Indonesia memiliki kedermawanan sosial yang tinggi.

Islam tidak mensyari’atkan kepada umatnya untuk meminta-minta dengan berbohong dan menipu. Hal tersebut tidak hanya beralasan karena dapat menjadikan dosa, namun juga perbuatan tersebut dapat mencemari perbuatan baik dan juga merampas hak orang-orang miskin yang sejatinya memang membutuhkan bantuan. Dalam sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh sahabat Qabiishah bin Mukhariq al-Hilali R.A sesungguhnya Rasulullah Bersabda:

“Wahai Qabiishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup, ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah hal yang haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.”

Begitu pula Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan bagi umat Islam menganjurkan kepada kita umatnya untuk berusaha dan mencari nafkah dengan bagaimanapun bentuknya, asalkan hal tersebut halal dan baik, tidak syubhat dan tidak pula terdapat keharaman serta tidak dengan meminta-minta. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 273 Allah juga memerintahkan untuk Ta’affuf (memelihara diri dari meminta-minta) :

“Apa yang kamu infakkan adalah) untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari minta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak minta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui.”

Two sides of every coins atau dua hal yang positif dan negatif dari keberadaan media sosial tentu akan memberikan hal yang tersendiri bagi individu penggunanya. Bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkannya dengan bijak. Begitu pula sebagai manusia tentunya kita dapat berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan diri.

Baca Juga  Belajar Dari Cara Penyikapan Ulama Terdahulu Dalam Menghadapi Pandemi (Bag-2 Habis)

 

 

Shinta Khurniawati Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Agama Islam Universitas Islam Negeri Walisongo