Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Jangan Selalu Merasa Berdosa

2 min read

Sumber: Kinipaham.com

Pernakah kita berbuat salah? Pernahkah kita berbuat dosa? Pertanyaan konyol yang sudah pasti jawabannya “iya”. Namun demikian, bagaimana perasaan kita ketika melakukan dosa? Bagaimana perasaan kita setelah menyadari bahwa kita telah melakukan dosa?

Allah SWT adalah Dia yang selalu memberikan nikmat kepada kita. Allah SWT adalah Dia yang murka terhadap beberapa perkara yang sehingga dihukumi dosa. Dengan itu, bagaimana perasaan kita ketika/setelah melakukan hal yang dibenci oleh Dia yang selalu memberikan nikmat kepada kita?

Sebagai manusia yang waras tentu kita merasa bersalah. Sebagaimana manusia yang tahu diri tentu kita merasa resah dan gelisah karena melakukan hal yang tidak semestinya kita lakukan. Tapi, apa iya kita akan terus menerus merasa bersalah dan berdosa?

Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari mengatakan dalam karya termasyhurnya Al-Hikam:

لايعظم الذنب عندك عظمة تصدّك عن حسن الظنّ بالله تعالى فإنّ من عرف ربّه استصغر فى جنب كرمه ذنبه. لاصغيرة اذا قابلك عدله ولاكبيرة اذا واجهك فضله.

Artinya: “Janganlah engkau terlalu merasakan dosa-dosa yang telah engkau lakukan, sehingga dapat menghalang-halangi engkau bersangka baik kepada Allah. Sesungguhnya apabila engkau mengenal Tuhanmu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, maka engkau tidak terlalu membesar-besarkan dosamu, di sisi sifat Maha Rahmannya. Tidak ada dosa yang kecil apabila Allah menghadapkan padamu sifat adil-Nya, dan tidak ada dosa yang besar apabila Allah menghadapkan padamu sifat-Nya yang penuh anugerah.

Jika kita merasa besar sekali dosanya terhadap Allah, setiap saat ada saja dosa yang dikerjakan walaupun dosa-dosa kecil. Jika kita merasa selalu merasa berdosa, maka itu akan memperburuk diri kita sendiri. Bukannya kita mengupayakan kebaikan dan menabur kebermanfaatan terhadap banyak orang, malah kita terpuruk atas diri kita sendiri.

Baca Juga  Aamir Khan dan Sentuhan Poskolonialisme dalam Sinema Bollywood (1)

Ketahuilah ketika kita selalu merasa berdosa, secara tidak langsung sama artinya kita menganggap Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan menurunkan siksa-Nya, seakan-akan Allah sangatlah kejam, bengis dan suka menyiksa; padahal Allah bersifat sangat Rahman dan adil bagi siapa saja, tak terkecuali bagi kita yang berdosa.

Sesungguhnya rahmat dan kasih sayang Allah itu lebih banyak dan luas dari siksa-Nya. Sifat adil dan bijak Allah meliputi langit dan bumi dengan segala macam isinya. Dan Allah mengetahui tentang manusia yang ada di muka bumi baik tentang kemampuan ilmu dan kekuatan imannya. Tuangan rahmat dan kasih Allah sangat sempurna dan sangat bijaksana. Sifat pemaaf dan pengampun-Nya adalah bagian dari anugerah kepada manusia dan semua makhluk di alam semesta.

Kita sebagai manusia tidak perlu berlebih-lebihan merasa dosa dan salah terhadap Allah sang Maha Pencipta. Tugas seorang hamba terhadap Allah karena dosa-dosa dan kesalahan yang diperbuatnya adalah kembali sadar, bertobat dengan betsungguh-sungguh, melenyapkan niatan akan kembali lagi melaksanakan dosa-dosa yang pernah dikerjakan. Tugas kita sebagai hamba adalah berharap atas rahmat-Nya, terus menerus agar tidak tergoda dan tergelincir ke lembah dosa untuk kedua kalinya. Itulah yang biasa disebut taubat al-nasuha.

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat At-Tirmidzi:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Artinya: “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.

Dari hadis tersebut kiranya begitu jelas apa yang mestinya dilakukan ketika kita melakukan kesalahan dan berbuat dosa. Selalu merasa berdosa senada dengan larut dalam ratapan penyesalan. Dan cara terbaik menanggapi rasa penyesalan adalah bukan dengan meratapinya melainkan menegaskan diri untuk tidak melakukannya lagi dan berusaha menebus dengan menambah kebaikan dan menebar kemanfaatan.

Baca Juga  Mertua yang Gila Harta dan Pujian

Sahabat Ibnu Mas’ud pernah berkata:

Ada hamba yang merasa dosa-dosanya seperti gunung besar yang menjulang tinggi, dia khawatir kalau-kalau dosa yang besar dan banyak itu akan jatuh menimpa dirinya. Sebaliknya, orang yang menganggap enteng dosa dan kesalahan yang pernah diperbuatnya, menganggap dosa itu seperti lalat yang hinggap di ujung hidungnya. Ia menganggap remeh dosa yang diperbuatnya, tidak akan akan mengganggu pikiran dan perasaannya. Hal itu seperti mudahnya ia menghalau lalat yang hinggap di ujung hidungnya itu.

Perasaan orang pertama adalah salah karena dengan dia seperti itu seakan menafikan sifat maha pemurah dan pengampunnya Tuhan. Namun, perasaan orang yang kedua malah lebih salah karena selain bodoh juga sangat meremehkan Allah SWT. Menganggap Allah seakan tidak mampu berbuat apa-apa atas dosa yang dibuatnya atau mengira tidak ada hubungan antara dosa kesalahannya dengan Allah SWT, itu adalah perihal yang sangat fatal dalam keimanan.

Kembali pada bagaimana kita seharusnya, kita yang merasa berdosa bukan berarti salah atau tidak baik karena dengan itu justru kita bisa senantiasa menjaga diri dan memperbaiki diri. Tapi berbeda dengan jika selalu merasa berdosa yang mana itu adalah tidak sebagaimana mestinya. Hal itu dikarenakan selalu merasa dosa, sama halnya menafikan Allah akan sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Orang yang berbuat dosa dan sadar akan kesalahannya, lebih baik dari seorang hamba yang tidak berdosa tapi ujub dan sombong akan keadaannya. Orang berdosa memang akan menarik orang beriman untuk segera surut dari perbuatannya mendekati Allah SWT. Namun, orang yang berdosa, sadar akan kesalahannya, kemudian bertaubat dan berusaha menebus kesalahan dengan kebaikan dan kebermanfaatan yang berlipat; Allah tidak akan segan-segan membukakan pintu firdaus lebar-lebar untuknya.

Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya