Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Tingkatan Jiwa Manusia Menurut Islam (2)

2 min read

Sebelumnya: Tingkatan Jiwa Manusia…. (1)

Kondisi jiwa pada tingkatan ini menunjukkan kondisi di mana kita sebenarnya sudah paham dan mengerti betul, umpamanya kalau berbohong itu dosa, ghibah itu dilarang, fitnah apalagi; tapi kita senang dan nyaman saja dalam melakukannya. “Seneng aja kalau lihat orang gegeran itu. Seru rasanya kalau ada yang ramai-ramai. Sepi ndak asyik. Sekali-sekali bolehlah dipancing, dipanas-panasin supaya gaduh.

Apakah kita suka merasa demikian? Jika iya, sudah seharusnya kita hati-hati dan berbenah diri. Jika kita tidak merasa bersalah, nyaman, bahkan senang saat melakukan dosa dan/atau menikmati saat sedang menjalankan maksiat yang padahal kita tahu itu, itu menunjukkan jiwa kita ada pada tingkatan yang paling rendah, yaitu Amarah.

Naik satu level, yakni status jiwa Lawwamah. Kondisi jiwa pada tingkatan ini menunjukkan kondisi di mana kita tahu dan sadar mana yang baik dan mana yang buruk, hanya saja kita lebih terdorong atau berkecenderungan melakukan yang buruk.  “Sebenarnya saya tahu ini dosa, tapi menghindarinya susah. Setiap kali melakukan dosa saya kok ya menyesal, tapi mengapa kok saya tetap saja melakukannya?”

Jika kita temukan pada diri kita kondisi yang demikian, paling tidak itu lebih baik daripada kondisi jiwa yang sebelumnya. Jika pada tingkatan Amarah, seseorang tidak merasa bersalah dan nyaman saja dalam melakukan dosa; tapi jika pada tingkatan Lawwamah, seseorang merasakan penyesalan atas apa yang dilakukan jika itu adalah dosa. Seseorang dengan kondisi jiwa Lawwamah dalam batinnya terdapat pertentangan. Hanya saja karena ketidakmampuan diri untuk melawannya, seseorang itu senantiasa berada dalam ketakutan dan kecemasan.

Naik satu tingkatan di atasnya, yakni status jiwa Mulhamah. Kondisi jiwa pada tingkatan ini sama halnya dengan Lawwamah, yakni dalam dirinya pertarungan antara yang baik dan yang buruk. Hanya saja, dalam pertarungan ini, hanya saja yang baik adalah yang memenangkan pertentangan. Dapat berhasil mengalahkan yang buruk dan melakukan kebaikan, hanya saja terkadang masih rindu kepada nikmatnya nafsu atau dosa yang pernah dilakukan dan/atau dalam perkiraan jika dilakukan.

Baca Juga  Titik Temu Sunni-Syiah dalam Syair Tolak Balak, Li Khamsatun [1]

Seseorang dengan status jiwa Mulhamah sudah senantiasa dalam kebaikan, hanya saja dia suka merasa bahwa jika menuruti nafsu atau dosa itu adalah suatu kenikmatan. Misalnya, kita sewaktu sedang berkumpul dengan teman-teman yang mana mereka dengan asyiknya bergosip, kita tidak ikut-ikutan, tapi terbesit dalam benak, “sepertinya asyik ya?“. Atau semisal kita bisa menyelesaikan ujian semester dengan jujur, tapi terangankan dalam benak, “andai aku tadi nyontek sebelahku yang peringkat satu terus, mungkin aku bisa dapat nilai lebih tinggi lagi”.

Jadi, ketika kita merasa diri selama satu tahun belakangan ini demikian, sudah melakukan yang baik tapi masih merasa resah karena beranggapan mungkin jika dia berlaku curang atau bertindak buruk akan mendapatkan yang lebih, berarti itu menunjukkan bahwa status jiwa kita ada pada tingkatan Mulhamah.

Dan yang paling puncak dari sekian status kejiwaan adalah status jiwa Muthmainnah. Kondisi jiwa pada tingkatan ini menunjukkan kondisi jiwa yang stabil, tenang, dan mantap dalam kebaikan. Pada tingkatan ini sudah tidak ada pertarungan atau pertentangan dalam batin. Seseorang sudah mantap dan konsisten dalam melakukan kebaikan dan ingkar pada keburukan atau kemaksiatan. Tidak ada lagi secerca keresahan dalam benak seseorang pada tingkatan ini yang mengafirmasi tindak keburukan atau kemaksiatan sebagai sesuatu yang nikmat.

Seseorang dengan kondisi jiwa yang demikian inilah yang kelak ketika kembali kepada Allah akan ‎disambut dengan sapaan mesra:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُ (٢٦) ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ (٢٨)   فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ (٢٩) وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ (٣٠)

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 26-30)

Apa status jiwa kita atas segala apa yang telah kita lakukan selama satu tahun belakangan?

Baca Juga  Matematikawan Islam Pada Masa Khilafah

Ayo dicek level jiwa kita ada di mana, status jiwa kita apa. Kita ini masih tergolong Amarah, Lawwamah, Mulhamah, atau sudah Muthmainnah. Mari sibuk dengan diri kita dulu, tidak usah memakai teori ini untuk menuding-nuding orang lain.

Ada pada tingkatan mana dan status apa kejiwaan diri kita bukan sebagai penilaian final kita itu seperti apa, melainkan sebagai awal bagi kita menentukan sikap dan tindakan kita. Jika kita sadar bahwa ternyata diri kita masih berada pada tingkatan yang rendah, tidak seharusnya bagi kita untuk rendah diri; dan ketahuilah tidak mungkin seseorang pada tingkatan yang tinggi, jika lantas tinggi hati. Manusia selalu berada dalam proses, karena itu berproseslah menuju ke arah yang lebih baik. (mmsm)

Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya