Ahmad Zainul Hamdi Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian

Setiap Kita Diberi Kesempatan Mengalami Mukjizat

3 min read

Bagi kalangan saintis, pembicaraan tentang mukjizat atau peristiwa mukjizat itu sendiri dipandang secara skeptis. Mukjizat dipandang sebagai sisi irrasionalitas manusia. Mereka tidak bisa menerima jika mukjizat diartikan sebagai peristiwa yang tidak biasa atau tidak memiliki preseden historis dari perspektif kepastian hukum alam. (Daniel P. Sulmasy: 2007)

Saya mendefinisikan mukjizat (miracle) sebagai sebuah peristiwa yang tidak biasa jika dilihat dari perspektif “keajegan” hukum alam; atau yang terjadi sangat jarang jika diukur dari tingkat probabilitasnya. Sekalipun demikian, saya memperlakukan hukum alam bukan sebagai kepastian-mutlak, tapi kepastian-relatif (Jakub Pawlikowski: 2007). Artinya, tetap terbuka adanya kemungkinan, sekecil apapun, “penyimpangan” dari kebiasaan, karena apa yang disebut sebagai kepastian hukum alam adalah generalisasi dari satuan-satuan peristiwa.

Dalam kajian filsafat ilmu, ini disebut problem induksi. Sebagaimana kritik David Hume terhadap penyimpulan induktif, sebanyak apapun peristiwa yang dikumpulkan untuk membuat sebuah kesimpulan, kesimpulan itu tetap tidak bisa mencapai derajat kepastian mutlak. Mengapa? Karena sebanyak apapun jumlah peristiwa yang dikumpulkan seorang pengamat, ia tetap meninggalkan peristiwa lain yang tak teramati. Lalu, bagaimana kebenaran induktif bisa mengklaim mencapai derajat kepastian absolut?

Inilah kebenaran sains itu. Sepasti apapun kebenarannya, ia tetap menyisakan ruang kosong yang membuka kemungkinan lain. Tidak ada kebenaran mutlak sekalipun dalam sains eksakta.

Yang tidak kalah penting dari definisi di atas adalah bahwa makna peristiwa yang dianggap sebagai keajaiban itu tidak harus objektif. Dalam arti, sesuatu itu dianggap sebagai keajaiban tidak harus mendapatkan persetujuan semua orang. Pada peristiwanya itu sendiri bisa sangat kasuistik dan bersifat individual. Oleh karena itu, bisa saja seseorang mengalami sebuah peristiwa dan menganggapnya sebagai ajaib, sedang orang lain menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah, tidak ada deviasi dari hukum alam dan hukum kemungkinan.

Baca Juga  Kristen Macam Apa yang Dipeluk Negus Abyssinia, Pelindung Muhajirin Muslim Dari Aniaya Kafir Quraisy Mekah dan yang Saat Kematiannya Nabi Shalat Ghaib Untuknya? (1)

Misalnya, kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib membelikan sebiji buah delima untuk Sayyidah Fatimah binti Rasulullah yang sedang sakit. Di tengah jalan, delima itu diminta seorang tua yang sedang kelaparan. Buah delima itu kemudian diberikan kepada orang tua sehingga Sayyidina Ali pulang dengan tangan hampa.

Pada saat yang kurang lebih bersamaan, Rasulullah sedang dihadiahi oleh seseorang sekeranjang buah delima. Rasulullah kemudian mengambil sepuluh buah delima dan meminta Salman al-Farisi mengantarkannya ke rumah Sayyidah Fatimah.

Bagi Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah, kehadiran Salman dengan membawa sepuluh buah delima bisa jadi dirasa seperti keajaiban atau mukjizat atau miracle, karena tingkat kemungkinannya sangat kecil. Bagi Sayyidina Ali peristiwa ini dimaknai sebagai pemenuhan seketika janji Allah dalam al-Qur’an, barang siapa yang berbuat baik sekali akan diganjar sepuluh kali lipat (QS. Al-An’am:160). Tapi bagi Salman, apa yang terjadi dianggap biasa saja. Tidak ada yang janggal dan aneh. Semua terjadi karena Nabi sedang mendapat hadiah delima yang berlebih. Adalah wajar bagi seorang ayah mengirimi makanan ke anaknya.

Karena saya mendefinisikan mukjizat seperti itu, maka setiap orang mungkin saja mengalami peristiwa mukjizat-mukjizat seperti ini. Mukjizat-mukjizat kecil ini bisa terjadi pada siapa saja. Peristiwa-peristiwa ini dirasakan sebagai keajaiban bagi pihak tertentu, tapi bagi pihak lain dianggap hal biasa.

Dalam konteks inilah kita mendengar banyak peristiwa ajaib yang dialami oleh orang yang berhaji. Misalnya, ada seorang jamaah haji yang pada saat thawaf tidak memberi uang pada seorang pengemis yang memintanya sedekah sepuluh riyal. Saat pulang dari thawaf, dia kehilangan sandalnya sehingga harus membeli sandal baru. Anehnya, sandal itu seharga dengan uang yang diminta si pengemis.

Atau, ada seorang jamaah haji yang bergetar-getar hatinya sepulang dari ziarah ke Jabal Nur. Melihat betapa ekstremnya pendakian ke puncak Jabal Nur, dia membayangkan bagaimana Nabi Muhammad secara rutin mendaki ke puncaknya untuk ber-tahannuts di Gua Hira. Sepulang dari Jabal Nur, dengan hati yang terus berdebar-debar, dia membaca ayat-ayat awal pewahyuan untuk menyelami situasi batin Rasulullah saat itu. Tiba-tiba, pada saat bersamaan dia mendengar alunan ayat-ayat yang sedang dibacanya dari sebuah tape yang sedang diputar seseorang.

Baca Juga  Aswaja NU dan Etika Berpolitik: Sebuah Catatan

Atau, ada jamaah haji yang sedang sakit saat berangkat ke Mekkah. Tidak hanya kuwatir, bahkan keluarganya sudah mengikhlaskan jika dia harus meninggal di Tanah Suci. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Jamaah ini justru sembuh dan bisa berjalan lancar ketika menjalankan ibadah haji.

Peristiwa-peristiwa ini dimaknai sebagai keajaiban bagi yang bersangkutan. Baginya, berbagai peristiwa itu bukan suatu kebetulan, tapi campur tangan Tuhan langsung. Tapi bagi orang lain, peristiwa harga sandal atau suara tape atau kesembuhan saat berhaji hanyalah kemungkinan-kemungkinan, yang ini semuanya lumrah terjadi di alam semesta. Tidak ada yang ganjil. Tidak ada hukum alam yang dilanggar. Pun, tidak ada kemustahilan berdasarkan hukum probabilitas.

Sekalipun demikian, ada hal penting yang perlu direnungkan dalam cara kita beragama. Menghayati agama semata-mata dari beberapa peristiwa ajaib itu bisa menjatuhkan agama ke dalam mistik. Dukun yang bisa memindahkan penyakit seseorang ke seekor binatang lebih dihargai dari ulama yang menguasai ilmu agama. Al-Qur’an dibaca tidak untuk dipelajari, tapi digunakan sebagai tolak balak. Ibadah haji bukan sebagai wujud kepasrahan total seorang hamba di depan kemahabesaran sang Khaliq, tapi menjadi perjalanan ke sebuah dunia gaib yang penuh dengan berbagai peristiwa ajaib.

Sebetulnya, semesta dengan seluruh hukum alam yang mengaturnya adalah sebuah mukjizat. Mengapa semesta ini mukjizat? Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan mengapa jantung yang berfungsi memompa darah di dalam tubuh, bukan lutut; Mengapa indera hidung yang memiliki kemampuan mencium, bukan mata; Atau, mengapa kutub magnet bumi ada di utara dan selatan. “Mengapa” ini terus bisa dilanjutkan.

Ini bukan sikap antisains. Kita memerlukan sains untuk menjelaskan berbagai fenomena alam. Tapi yang harus disadari adalah bahwa apa yang disebut hukum alam bukanlah ciptaan saintis. Saintis hanya menemukan peristiwa yang berulang-ulang terjadi, yang kurang lebih ajeg, kemudian mencatatnya sebagai hukum alam. Tapi saintis tidak bisa menjelaskan mengapa hukum alam seperti itu?

Baca Juga  Guru Digital Menggantikan Model Guru Kelas, Kok Bisa?

Konkretnya seperti ini. Seorang Newton melihat buah apel jatuh ke bawah. Dari sini dia merenung, mengapa apel jatuh ke bawah. Kemudian dia mengamati fenomena di sekitarnya dan dia mendapati bahwa “semua” benda jatuh ke bawah. Dari sinilah dia menemukan hukum gravitasi. Sekarang bayangkan, seandainya semua benda jatuh ke atas atau ke samping, apa hukum yang mungkin akan ditemukan oleh Newton?

Seorang Newton hanya menemukan sebuah hukum alam yang disebutnya gravitasi. Tapi mengapa ada gravitasi, dia tidak bisa menjelaskannya. Bagi saintis, mereka mencukupkan diri dengan mendeskripsikan alam semesta dan kebiasaan-kebiasaannya yang disebut sebagai hukum alam, bukan menjawab pertanyaan mengapa hal itu terjadi.

Ketika kita tidak bisa menjelaskan bagaimana alam semesta berperilaku tertentu, di mata saya itu adalah big miracle. Semua peristiwa adalah mukjizat. Karena, semua ini begitu saja terjadi. Bahkan ketika kita menemukan keajegan hukum alam pun, itu adalah sebuah mukjizat. Semua ini dianggap bukan sebuah keajaiban karena peristiwa itu terjadi berulang-ulang sehingga kita menganggapnya biasa. Baru ketika ada peristiwa yang “membelok” dari hal yang biasa itu kita anggap sebagai mukjizat. Padahal, setiap saat, ketika hidup dalam keajaiban demi keajaiban.[mmsm]

Ahmad Zainul Hamdi Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian