Saebani Alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo; Mahasiswa Universitas al-Azhar Mesir

[Resensi Buku] Surga Dunia Bukanlah Suriah atau Libanon, Tapi Indonesia

2 min read

Judul Kitab: (Shuwar min al-Sharq) Fī Indūnisīyā

Pengarang: Alī Thanthāwī

Penerbit: Dār al-Manārah

Tahun Cetak: 1960

Tema Utama Buku: Traveling, Sastra, Sejarah

“Surga di dunia bukanlah Suriah ataupun Libanon. Akan tetapi ada di Jawa! Siapapun yang melihatnya akan mengetahui bahwa saya berkata benar. Yang belum melihat cukup mendengar penjelasan tentangnya. Melihat langsung tidak sama dengan hanya mendengarkan. Dua hari selama aku hidup 50 tahun, tak kutemukan hari yang paling indah dan membahagiakan serta membekas dalam jiwaku ketika aku menjelajahi pulau Jawa, dari Barat hingga Timur dengan kereta. Dari Jakarta menuju Surabaya. Aku tidak menyangka akan melihat di sepanjang jalan dan mendengar bahwa di dunia ada jalan seindah itu!”

Demikian ungkap Syaikh Ali Thanthawi, penyair kenamaan asal Suriah atas keindahan Indonesia.

Syaikh Ali Thanthawi menceritakan perjalanannya selama di Indonesia. Ia menceritakan banyak hal yang unik yang beliau potret dalam bukunya. Ia menerangkan keindahan pulau Jawa yang dipenuhi banyak pohon kelapa, bambu serta rindang hijau pepohonannya dan alunan lembut angin sepoi di sawah-sawahnya.

Ia juga menceritakan makanan-makanan khas Indonesia seperti Gudeg, makanan khas Yogyakarta, dan selainnya. Di sebuah hotel, ia melihat orang-orang mengambil makanan dan sambal. Ia pun mengikuti apa yang mereka ambil. Namun saat mencicipi sambal tersebut, ia berujar:

وإذا هذا الشيء الأحمر نار حامية

Sambal itu neraka yang panas! Ucap beliau dalam menguatkan argumennya (mubalāghah). Selama sehari beliau tidak makan apapun karena rasa pedas yang lengket di bibir beliau.

Syaikh Ali Thantawi tak luput memerhati dan mempelajari keunikan dari setiap daerah yang dikunjungi.

Ketika mengunjungi Yogyakarta, ia menjelaskan iklim dan kultur akademis yang istimewa di sana. Ia menjelaskan bahwa Yogyakarta adalah “kota ilmu”. Ia menyinggung tentang Madrasah Muallimin di Yogyakarta, Pondok Pesantren Krapyak, dan hal-hal unik yang ada di sana.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (13): Robot Penentu Arah Kiblat

Sebelum NU mepopulerkan Islam Nusantara, jauh sebelum itu Syaikh Ali Thanthawi pada tahun 1960-an telah menuliskan dalam salah satu bagian dari buku beliau: “Islām Indūnisīyā

Intinya, ia menjelaskan bagaimana Islam masuk ke Indonesia, tentang kolonialisme Belanda, Portugis, dan Jepang di Indonesia,  tentang ragam organisasi seperti NU, Muhammadiyah, dan Tarbiyah Islamiyah. Ia juga mengulas Ibnu Bathuhah yang konon pernah singgah di Sumatera dan mencicipi kelapa.

Ia juga menuliskan sebuah temuan yang mengatakan bahwa sejak zaman Dinasti Abbasiah, Islam sudah masuk ke Indonesia. Hal itu bisa dibuktikan dengan kuburan yang ada di Sumatera. Kuburan itu milik Waliyullah Abdullah bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Abdul Aziz bin Abu Ja’far Mansur, khalifah Abbasiyah kedua. Abdullah datang dari India menuju Sumatera.

Dalam penjelasan tentang Islām Indūnisīyā, Ali Thanthawi juga berharap universitas-universitas di Arab menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa yang dipelajari di universitasnya. Alhamdulillah, di al-Azhar, hal itu telah tercapai!

Beberapa pesantren tua kenamaan juga disebut oleh Syaikh Ali Thanthawi. Di Sumatera beliau menyebut Sumatera Thawalib. Di Jawa, beliau menyebutkan pesantren Tebuireng di Jombang dan pesantren Tremas di Pacitan.

Syaikh Ali Thanthawi juga tak luput mendeskripsikan perempuan-perempuan Indonesia. Beliau mengatakan tentang perempuan jawa

وهن من أحلى النساء حلاوة وإن لم يكن من أجملهن جمالا. حلوات كعرائس المولد في مصر التي تصنع من والسكر

“Mereka (perempuan Jawa) paling manis meskipun tidak termasuk yang paling cantik. Mereka seperti manisan-manisan yang ada di acara maulid di Mesir yang terbuat dari gula.”

Barangkali dari hak itu, ada ungkapan, hitam-hitam gula jawa. Wkwkwk.

Beliau juga menaruh hormat kepada perempuan-perempuan tangguh yang ikut berjuang melawan penjajah. Mereka tidak gentar akan mati. Syaikh Ali Thanthawi sampai meneteskan air mata ketika mendapatkan cerita bahwa salah satu perempuan Indonesia meledakkan bom di dekat tank para penjajah hingga syahid. Beliau juga mengagumi sosok Kartini.

Baca Juga  Abdul Karim al-Jili dan Kaidah-Kaidah Rohani

Ia banyak memuji pahlawan-pahlawan Indonesia. Beliau banyak memuji Sukarno dan menjulukinya من أخطب خطباء الدنيا (Rajanya para proklamator).

Ia juga menyebutkan Jendral Sudirman, Bung Tomo, dan kiai-kiai yang meninggalkan kitab-kitabnya demi melaksanakan perang melawan penjajah.

Syaikh Ali Thanthawi mengisahkan Indonesia laiknya cerpan (cerita panjang). Ada hal unik-unik yang barangkali tidak diketahui oleh orang Indonesia sendiri. Buku ini cukup untuk mengobati rindu kepada Indonesia, يوم في الجنة “Sehari di Surga”.

Lafal “Sehari di Surga” ini masuk dalam subjudul buku Fī Indūnisīyā karya Syaikh Ali Thanthawi ini.

Kita akan mengetahui sisi “surga” Indonesia saat menyadari betapa indahnya panorama alam semesta Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Dan jauh lebih besar dari itu, nikmat kehidupan Indonesia yang damai yang tidak diliputi konflik peperangan. Semoga Allah menjaga Indonesia.

“Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

Selamat ulang tahun, Indonesia!

سما لك إندونيسيا شوق عاشقٍ
وإن كنتُ في بعدٍ فروحيَ تقربُ

Oh, alangkah memuncaknya rindu seorang pecinta kepadamu, Indonesia!
Meski aku jauh, ruhku dekat denganmu.

Editor: MZ

Saebani Alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo; Mahasiswa Universitas al-Azhar Mesir