M Bayu Dewantara Mahasiswa UIN JAKARTA

Bisakah Hermeneutika Digunakan dalam Al-Qur’an?

2 min read

Dalam menafsirkan Al-Qur’an, seorang mufassir tentu dituntut untuk menguasai berbagai disiplin ilmu untuk dapat menafsirkan sesuai kaidah tafsir Islam. Seiring dari perkembangan pemikiran para ahli tafsir maka lahirlah berbagai cara dan jalan dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an, salah satunya dimunculkannya ilmu Hermeneutika. Ilmu yang awalnya diterapkan dalam menafsirkan bible ini, kemudian dipakai dalam menafsrikan berbagai kitab suci, terutama Al-Qur’an.

Pada awal abad ke-20 beberapa mufasir seperti Muhammad Abduh dalam kitab tafsirnya al-manar telah menggunakan ilmu ini dalam praktek penafsiran ayat-ayat al-Qur’an, yang walaupun dia belum secara eksplisit memproklamirkan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an.

Disamping itu, disiplin ilmu yang satu ini memiliki problem yang banyak ditanyakan oleh para ulama dan mendapat berbagai tanggapan yang beragam, ada yang menyetujuinya dan ada juga yang menolaknya. Namun pertanyaan yang dijadkan penulis sebagai tujuan yang menjurus poin inti tulisan ini adalah Apakah mungkin menerapkan teori Hermeneutika pada Al-Qur’an?

Mengutip dari Prof. Musthafa Malkiyan beliau mengatakan, “Banyak sekali yang ada dalam hermeneutika dapat diterapkan terhadap Al-Qur’an, namun secara garis besar Al-Qur’an tentu sangat berbeda dengan kitab-kitab yang lain dari dua sisi:

Pertama, semua lafadzh dan berbagai ungkapan yang tertuang dalam Al-Qur’an, sesuai dengan keyakinan umat Islam adalah berasal dari firman Allah. Kekhususan ini tentunya tidak ditemukan pada selain kitab suci Al-Qur’an. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa barangsiapa yang meyakini sumber keilahian Al-Qur’an  maka ia dapat melihat perbedaan yang sangat jauh antara al-Qur’an dan kitab lainnya. Kedua, susunan yang sekarang tidak mencerminkan susunan yang sesuai turunnya dan kronologi historisnya.

Kedua hal ini yang menjadikan kita tidak mungkin sepenuhnya menerapkan kaidah-kaidah hermeneutika pada kitab Al-Qur’an saat ini, sebab kalau diperhatikan bahwa semua kaidah hermeneutika yang diterapkan pada teks-teks yang tertulis dan terungkap sama-sama tidak dapat diterapkan pada teks-tels yang memiliki dua keistimewaan seperti Al-Qur’an. Barangkali pengantar tersebut dapat memperjelas inti sari yang akan penulis sampaikan.

Baca Juga  Mendesain Kurikulum Anti-radikal di Pesantren

Pembahasan yang tadi penulis paparkan diatas kalau ditulis di atas kertas sesuai dengan kronologi yang sebenarnya mungkin akan lebih terbuka untuk menerima kaidah-kaidah hermeneutika diterapkan. Namun pada sisi yang lain, dalam menjawab pertanyaan ” Apakah kita dapat menerapkan hermeneutika pada Al-Qur’an?” . Disini penulis menekankan dua hal yang begitu penting yang terkadang sering dilupakan oleh kebanyakan akademisi, yaitu kajian mengenai terminologi teks (nash) dalam al-Qur’an  dan konsep teks dalam Bibel (Perjanjian lama dan Baru).

Mengutip dari perkataan Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, seorang guru besar pemikiran Islam di Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) di Malaysia, menyatakan, “sesungguhnya penafsiran Al-Qur’an sama sekali tidak boleh disamakan dengan hermeneutika Yunani dengan cara apa pun atau hermeneutika Bible menurut umat Kristiani”.

Namun kalau kita mengutip perkataan dari Prof. Quraish Shihab, menurut beliau porsi penggunaan hermeneutika terhadap al-Qur’an lebih tertengahkan. Dengan kata lain menggunakan hermeneutika sebagai teknik tafsir al-Qur’an tidak akan bertemu dengan apa yang digunakan cendikiawan Kristen dalam menafsirkan Bibel, karna al-Qur’an dan Bibel tidak relevan untuk dijadikan suatu persamaan dimana keduanya memiliki aspek-aspek yang berbeda.

Bibel/Perjajian Baru dan Lama sangat berbeda dengan al-Qur’an. Bahkan hal yang ini diakui oleh cendikiawan-cendikiawan umat Kristiani. Keduanya merupakan dualitas yang begitu berbeda, perbedaan itu bukan hanya terletak pada sifat kitabnya, melainkan juga berbeda dalam sejarah dan otentitasnya, serta juga berbeda dalam segi  kebahasaannya.

Kembali kepada pendapat Quraish Shihab, jika kita memerhatikan pendapat beliau mungkin lebih bijak lagi condong moderat, di mana hermeneutika juga tidak dapat ditolak dengan mentah-mentah karena memang model atau corak kaidah-kaidah yang termaktub di sana memiliki kemiripam dengan kaidah-kaidah tafsir al-Qur’an. Namun menurut penulis sendiri, tidak harus untuk menggunakan hermeneutika sebagai satu satunya jalan untuk menafsrikan al-Qur’an, karna masih banyak metode-metode ataupun kaidah yang berasal dari ulama kita untuk digunakan dalam menafsrikan al-Qur’an. (MMSM)

M Bayu Dewantara Mahasiswa UIN JAKARTA