Mukti Ali Qusyairi Ketua LBM PWNU DKI Jakarta, Alumnus Al Azhar University dan HMH Lirboyo,

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dan Kitab al-Nasaih al-Diniyah-nya

2 min read

sumber: mutiaraalquran.com

Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawiy bin Muhammad al-Haddad RA. Lahir di desa Sabir, kota Tarim, Hadramaut Yaman, pada hari Kamis 5 Safar 1044 H. Tumbuh berkembang dan dididik di Tarim.

Habib Abdullah al-Haddad ditakdirkan sejak kecil matanya buta. Akan tetapi Allah memberinya nur al-bashirah (cahaya mata bathin), tajam dalam melihat dan menganalisa keadaan, dimudahkan dalam menghapal dan memahami pelajaran dan bersemangat serta sungguh-sungguh dalam belajar.

Semasa kecil dan remaja Habib Abdullah al-Haddad di Tarim, Hadramaut, belajar kepada al-Habib Umar bin Abdurrahman al-’Athas, al-Habib al-’Allamah ‘Aqil bin Abdurrahman as-Saqqaf, al-Habib al-’Allamah Abdurrahman bin Syekh ‘Aidid, al-Habib al-’Allamah Sahl bin Ahmad Bahasan al-Hadiliy Ba’alwiy, dan ketika ada kesempatan ke Makah al-Mukarramah belajar pada as-Sayyid Muhammad bin Alawiy al-Saqqaf.

Semasa hidupnya, Habib Abdullah al-Haddad mendedikasikan diri untuk gerakan dakwah, mengajar, menyebar hikmah, memberi nasihat yang baik, dan menulis kitab dengan cara ucapanannya diketik dan dituliskan oleh para muridnya, lantaran ada keterbatasan penglihatan. Dakwah, nasihat, dan kitab karyanya mendapatkan respon dan penerimaan yang baik oleh semua kalangan, dari masyarakat umum sampai pemerintah pada masanya.

Kitab-kitab karyanya sampai sekarang dibaca, dikaji, dan sebagai materi pengajian di dunia Islam, khususnya di Yaman. Sedangkan di Indonesia, kitab-kitabnya banyak dikaji dan dijadikan bahan ajar pengajian para kiyai dan santri kalangan Nahdhiyyin dan tentu saja di kalangan habaib sendiri. Bahkan dikenal dipenjuru dunia. Sebagian karyanya telah diterjemah ke bahasa asing, yaitu Inggris, Perancis, dan Indonesia.

Di antara kitab karyanya yang terkenal yaitu an-Nashaih ad-Diniyah, ad-Da’wah at-Tammah, dan Risalah al-Mu’awanah. Kitab-kitab ini dibaca di kalangan para kiyai dan santri Nahdhatul Ulama.
Beliau sangat mencintai dan gandrung pada kitab-kitab karya Imam al-Ghazali, khususnya kitab Ihya ‘Ulumuddin. Sehingga beliau sangat terpengaruh oleh Imam al-Ghazali.

Baca Juga  Potret Jejak Perjalanan Panjang Ormas Islam Terbesar di Indonesia: Resensi Buku “Ikhtisar Sejarah Nahdlatul Ulama 1344 H / 1926 M”

Pengaruh Imam al-Ghazali sangat terasa di kitab-kitab karyanya. Seperti di kitab Nashaih ad-Diniyah, beliau mengadopsi istilah-istilah yang dipopularkan Imam al-Ghazali, yaitu al-muhlikat (hal-hal yang merusak jiwa manusia) dan al-munjiyat (hal-hal yang menyucikan/menyelamatkan jiwa manusia).

Dilihat dari madzhab dan akidahnya, Habib Abdullah al-Haddad serupa dengan NU, yaitu seorang Ahlussunnah Wal Jamaah (Sunni), bermadzhab as-Syafii, dan sufi pengagum sufisme Imam al-Ghazali.

Di antara murid-muridnya yang kemudian hari menjadi ulama besar yaitu putranya sendiri yang bernama Al-Habib Hasan bin Abdullah al-Haddad, al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi, al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih, Habib Muhammad dan Habib ‘Umar yang keduanya adalah putra dari Zein bin Semith, al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Bar, al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman as-Saqqaf, al-Habib Muhammad bin Umar bin Thaha as-Shafi as-Saqqaf. Dan masih banyak lagi ulama besar dan berpengaruh yang termasuk sebagai muridnya.

Pada tahun 1079, beliau pergi ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji, ziarah ke makam kakek moyangnya, yaitu Rasulullah SAW, dan berkumpul bersama para ulama yang ada di Mekah dan Madinah.
Wafat dan berpulang ke Haribaan Allah SWT pada hari Selasa, 7 Dzu al-Qa’dah 1132 H. Dikubur di Kuburan Zanbal, kota Tarim, Yaman.

Kebanyakan karyanya ditulis dengan dengan bahasa yang enak dibaca. di antaranya yaitu Kitab Nashaih al-Diniyah ditulis dengan bahasa yang enak dibaca, mudah dipahami baik oleh terpelajar maupun orang umum.

Di dalamnya membahas beberapa tema yaitu; Mabhats at-taqwa (pembahasan tentang takwa); Mabhats al-’ilmi (pembahasan tentang ilmu); Mabhats al-shalat (pembahasan tentang shalat); Mabhats al-zakat (pembahasan tentang zakat); Mabhats al-shaum, (pembahasan tentang puasa); Mabhats al-haj (pembahasan tentang haji); Mabhats Tilawat al-Quran wa al-Dzikr (pembahasan tentang membaca al-Quran dan berdzikir).

Baca Juga  Maulid Cinta

Mabhats al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahyi ‘an al-Munkar (pembahasan tentang perintah yang makruf dan larangan yang munkar); Mabhats al-Jihad; Mabhats al-Wilayah wa al-Huquq (pembahasan tentang perwaliyan dan hak-hak kewajiban); Mabhats al-Muhlikat (pembahasan tentang hal-hal yang merusak jiwa manusia); Mabhats al-Munjiyat (pembahasan tentang hal-hal yang menyucikan/menyelamatkan jiwa manusia); Khatimah al-Kitab fi ‘Aqidah Ahlissunnah wa al-Jamaah; Khatimah al-khathimah yang menjelaskan tujuh hadits keutamaan berdakwah.

Seluruh karya Habib Abdullah al-Haddad tersimpan rapih di perpustakaan Alawiyyin Jakarta, sebuah lembaga yang dirintis oleh para habaib Indonesia untuk mengoleksi karya-karya habaib Nusantara dan dunia Islam. Menurut penjelasan dari ketua kajiannya, KH. Habib Sayyid Yusuf Aidid, bahwa karya habaib yang berhasil dikumpulkan sampai hari ini mencapai 3000 judul. Ini sebuah kekayaan khazanah tersendiri yang layak diteliti dan dikaji.[AH].

Mukti Ali Qusyairi Ketua LBM PWNU DKI Jakarta, Alumnus Al Azhar University dan HMH Lirboyo,