Arivaie Rahman Pegiat Tafsir dan Khazanah Nusantara; Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kitab Mau’izhah: Karya Terakhir Tuan Guru Sapat

3 min read

Judul lengkap kitab ini adalah Mau’izhah li Nafsi wa li Amitsali min al-Ikhwan, maknanya kurang lebih adalah “Nasehat untuk Diri Sendiri dan untuk Rekan-rekan Sebaya”. Kitab ini ditulis oleh Tuan Guru Sapat yang bernama lengkap Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad Afif al-Banjari (1867-1939).

Ia merupakan keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812), melalui jalur nasab ayah dan ibunya sekaligus. Melalui jalur nasab ayahnya, ia merupakan keturunan keempat dari Syekh Arsyad, Abdurrahman Siddiq bin Muhammad Afif bin Sari binti Khalifah Haji Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sementara melalui jalur nasab ibunya, ia merupakan keturunan kelima, Abdurrahman Siddiq bin Shafura binti Muhammad Arsyad bin Muhammad As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Nasab ayahnya itu terhubung pada Khalifah Haji Zainuddin yang merupakan putra Syekh Arsyad al-Banjari melalui istri keduanya, bernama Tuan Guwat. Sedangkan nasab ibunya terhubung dengan Syarifah putri Syekh Arsyad al-Banjari melalui istri pertamanya, Tuan Bajut.

Tuan Guru Sapat merupakan ulama produktif dalam menulis karya-karya berbahasa Melayu-Jawi. Tercatat setidaknya ada 18 karya yang pernah ia tulis sepanjang kehidupannya. Meski terlalu dini untuk mengklaim bahwa Kitab Mau’izhah merupakan karya terakhir Tuan Guru Sapat, tetapi ada beberapa argumen dan alasan yang mendukung dugaan tersebut.

Alasan pertama, menurut urutan tahun selesai penulisan karya-karya Tuan Guru Sapat, Kitab Mau’izhah merupakan karya yang paling terakhir ditulis dibandingkan dengan karya-karyanya yang lain. Ashrar al-Shalah (1320 H), Al-Tadzkirat (1324 H), Fath al-Alim (1324 H), Amal Ma’rifah (1332 H), Syair Ibarat Khabar Kiamat (1332 H), Pelajaran Kanak-kanak (1334 H), Aqaid al-Iman (1338 H), Kitab Fara’idh (1338 H), Majmu’ al-Ayat wa al-Ahadits (1345 H), Syajarah al-Arsyadiyah (1350 H), Takmilat Qaul al-Muktashar (1351 H), dan Mui’zhah li Nafsi wa li Amtsali min al-Ikhwan (1355 H).

Baca Juga  Perempuan Melamar Pria, Lazimkah?

Kedua, Tuan Guru Sapat wafat di Kampung Hidayat pada 4 Sya’ban 1358 H. bersamaan dengan 18 September 1939 M, artinya Kitab Mau’izhah ditulis 3 tahun sebelum beliau wafat. Bila tahun selesainya menulis Kitab Mau’izhah 1355 dikurangi dengan tahun kelahirannya, maka ketika menulis Kitab Mau’izhah kondisi fisik Tuan Guru Sapat sudah dapat dikatakan sebagai orang sepuh yang berumur 69 tahun.

Ketiga, Kitab Mau’izhah merupakan kitab yang ditulis pasca pengunduran dirinya dari jabatan mufti kerajaan Indragiri, 1 Muharram 1354 H./3 April 1935 M. Jabatan sebagai Mufti Kerajaan disandangnya selama 27 tahun (1327-1354 H.). Maka, Kitab Mau’izhah merupakan karya yang ditulis pada masa purna bakti, sekaligus masa tenang dan matangnya pemikiran beliau. Sebab beban, urusan, dan tanggung jawabnya sebagai Mufti telah berakhir, meskipun pengabdian ke masyarakat tetap berjalan.

Keempat, isi narasi dan kandungan Kitab Mau’izhah mengisyaratkan wasiat untuk kaum Muslim sekaligus pengokohan manhaj (metode) dan firqah (golongan) yang dianutnya dalam mengaplikasikan agama. Dalam kata pengantar Kitab Mau’izhah, Tuan Guru Sapat menuliskan:

انيله ببراف كلمه نصيحة يڠ سديكيت بڬى ديري همب سنديرى دان بڬى سودرا اسلام يڠ دمفهم درفد قرآن العظيم دان حديث دان اجماع علماء ددالم هيدوف مڠيكوت اهل الله يڠ سبنرڽ امة محمد صلى الله عليه وسلم يڠ اهل السنة والجماعه

“inilah beberapa kalimat nasehat yang sedikit bagi diri hamba sendiri dan bagi saudara Islam yang dipahami dari pada al-Qur’an yang Agung dan Hadits dan Ijma’ Ulama di dalam hidup mengikut ahli Allah yang sebenarnya umat Muhammad Saw yang Ahli Sunnah wa al-Jama’ah”

Kutipan di atas menunjukkan sikap tawadhu (rendah hati) dan pandainya muhasabah diri. Kendati ia merupakan seorang Tuan Guru, namun tetap ia menujukan nasehat tersebut kepada dirinya sendiri, baru setelah itu kepada orang lain.

Baca Juga  Ulasan Syair/Doa Penolak Wabah, Li Khamsatun

Kutipan itu juga menerangkan tentang pedoman utama umat Islam dalam beragama, yakni al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’ Ulama. Referensi utama tersebut diamalkan dan diejawantahkan dalam firqah Ahli Sunnah wa al-Jama’ah (Sunni). Manhaj dan Firqah inilah yang diaplikasikan oleh Tuan Guru Sapat.

Beliau juga memohon agar dapat melaksanakan nasehat-nasehat yang ia susun, terhindar dari perilaku bid’ah, dan tetap pada mazhab imam yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).

مك همب فوهنكن فد توهن رب العالمين دڠن توفقڽ بڬى همب دان بڬى مريكئت برككالن مڠملكن اكندي دان مليندوڠكن اي بڬي همب دان بڬى مريكئت درفد ترڬلنچير فد قوم اهل البدعه سفرت قوم قدريه دان قوم جبريه دان قوم رفضية دان قوم خارجيه دان قوم مجسمه دان قوم ملحده دان سكلين قوم اهل البدعه يڠ كلور درفد مذهب امام يڠ امفت

“Maka hamba pohonkan kepada Tuhan pencipta semesta Alam dengan taufiq-Nya bagi hamba dan mereka itu berkekalan mengamalkannya akandia dan melindungkan Ia bagi hamba dan bagi mereka itu daripada tergelincir pada kaum ahli Bid’ah, seperti kaum Qadariyah, dan kaum Jabariyah, dan kaum Rafidhiyah, dan kaum Kharijiyah, dan kaum Mujassimah, dan kaum Mulhid, dan sekalian kaum ahli Bid’ah yang keluar daripada mazhab imam yang empat”

Kutipan ini sangat jelas menjadi anti tesa terhadap kaum Ahli Sunnah wa al-Jama’ah yang beliau anut sekaligus contoh representatif tentang siapa yang dimaksud Ahli Bid’ah, yaitu aliran Qadariyah (free will), Jabariyah (fatalism), Rafidhiyah (kelompok yang fanatik kepada Ali bin Abi Thalib dan menolak kepemimipinan sebelumnya), Kharijiyah (kelompok keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib), Mujassimah (kelompok meyakini Tuhan serupa dengan manusia), dan Mulhid (atheis).

Baca Juga  Liga Dunia Muslim dan Promosi Ideologi Wahabisme di Dunia

Menariknya, selain menyebut kelompok-kelompok Kalam. Tuan Guru Sapat juga menekankan bahwa kelompok-kelompok yang keluar dari mazhab Fiqih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) sebagai ahli Bid’ah. Sehingga perlu untuk berlindung kepada Allah agar dihindarkan dari tergelincir dalam keyakinan dan prilaku kelompok-kelompok mereka.

Kitab Mau’izhah terdiri atas lima nasehat. Pertama, mengesakan Allah, untuk mengaplikasikan nasehat ini Tuan Guru Sapat menekenkan kewajiban menuntut ilmu Tasawuf. Kedua, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, nasehat kedua ini membutuhkan ilmu Fiqih, Ushuluddin, dan ilmu Taat Batin. Ketiga, berprasangka baik kepada Allah, maka wajib menuntut ilmu Tafsir dan ilmu Hadits. Keempat, memperbanyak dzikir, maka wajib menuntut ilmu tentang tata cara berdzikir.

Kelima, memperbaiki prilaku menjadi akhlak yang baik. Bagian terakhir ini dibagi menjadi delapan: 1). Persaudaraan, 2). Saling berkasih sayang, 3). Menahan marah, 4). Sabar, 5). Belas kasih kepada sesama, 6). Dermawan, 7). Mengasihi orang lain, dan 8). Membantu orang lain mewujudkan keinginannya.

Pada bagian akhir kitab ini, Tuan Guru Sapat menuliskan titi mangsa hari dimana ia selesai menulis keseluruhan isi kitab.

…دان اداله سلسى درفد منوليس اين موعظه فد هاري اثنين ليم هاري بولن رجب تهن هجرة سريب تيڬ راتس ليم فوله ليم…

“…dan telah selesai daripada menulis ini Mau’izhah pada hari itsnin lima hari bulan Rajab tahun Hijriah Seribu Tiga Ratus Lima Puluh Lima…”.

Setelah menelisik hari dan tanggal sebagaimana yang disebutkan di atas, Tuan Guru Sapat merampungkan karyanya ini bertepatan dengan 21 September 1936 M. wallahu a’lam… [AA]

Arivaie Rahman
Arivaie Rahman Pegiat Tafsir dan Khazanah Nusantara; Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta