Intoleransi, Anak Korban, dan Regulasi Diskriminatif: Refleksi atas Kasus Intoleransi Beragama
Intoleransi pada anak mengungkap perlunya regulasi pendidikan yang adil dan jaminan kebebasan beragama
Intoleransi pada anak mengungkap perlunya regulasi pendidikan yang adil dan jaminan kebebasan beragama

Kekerasan tidak bisa dimaklumi, apalagi dinormalisasi. Negara harus hadir menegakkan hukum dan melindungi setiap warga, tanpa pandang mayoritas atau minoritas, demi keadilan dan keutuhan bangsa.

Festival Best diharapkan dapat menjadi ruang belajar dan berdialog tentang keberagaman antar umat beragama. Salah satu rangkaian dalam festival ini adalah Pasar Bestari yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang transaksi ekonomi tetapi juga sebagai wadah untuk dialog rasa dan keberagaman antar masyarakat.

Kebahagiaan yang datang dari menerima keberagaman adalah kebahagiaan yang mendalam dan berkelanjutan.

Bayangkan saja, seorang mahasiswa doktoral menangis tersedu-sedu di hadapan rekan sejawat, seperti seorang anak kecil menangis di pelukan abangnya sendiri, padahal mereka berbeda agama dan bahkan etnis dengan saya.

Di Indonesia, pluralisme sangat dekat dengan kehidupan sosial kita sehari hari, terutama dalam kehidupan agama dan budaya.

Toleransi bukanlah tentang melepaskan keyakinan seseorang, melainkan mengakui kemanusiaan dan harga diri orang lain.

Dalam menghadapi pandangan dunia yang serba materialistik dan hedonistik, yang amat pokok untuk diketahui Gen Z adalah tak pernah berhenti mencari arti hidup yang lebih dalam dan menyadari tujuan mendasar dalam kehidupan ini.

Intoleransi adalah sifat yang harus kita keluarkan dari kita. Kita generasi muda bisa melawannya dan kita perlu merangkul golongan minoritas.

untuk merayakan keberagaman dan toleransi itu membutuhkan sejumlah upaya pemahaman dan pembacaan kondisi sosial kultural yang kompleks
