M. Ghufron Mawardi Pengajar di MTsN 3 Ngawi; Pernah Menjadi Dosen di IAI Ngawi dan STKIP PGRI Ngawi; Pegiat Kajian Sosial Keagamaan di Ngawi

Ramadan sebagai Upaya Membangun Kasalehan Diri

2 min read

Ramadan adalah momen istimewa, di mana pada bulan ini umat Islam menjalankan ritual puasa sebagai pelaksanaan rukun Islam yang keempat, sekaligus upaya menggembleng jiwa dan raga selama sebulan penuh. Hal ini sangat diutamakan oleh umat Islam, karena hanya sekali dalam satu tahun dan hanya di bulan Ramadan Allah memberikan berbagai fasilitas bagi hambanya untuk berpacu mendapatkan pahala dan menunjukkan kualitas kehambaan terbaik di hadapan Rabbnya.

Momentum Ramadan menjadi sangat signifikan bagi seluruh umat Muslim untuk memenangkan dirinya dalam mengontrol hawa nafsunya. Untuk itu, sebagai umat Islam perlu menjalankannya dengan baik dan sungguh-sungguh dengan harapan mendapatkan derajat ketakwaan, sebagaimana yang didambakan setiap insan.

Sebagai upaya menjalankan puasa, apalagi di tengah situasi merebaknya pandemi Covid-19 seperti saat ini, sebaiknya kita melaksanakannya dengan penuh semangat dan harapan-harapan yang tertuju pada Allah agar mampu menjalankannya dengan baik dengan harapan mampu membentuk diri kita sebagai insan mulia di hadapan Allah. Karenanya, kesiapan hati dan pikiran menjadi sangat penting dalam rangka memperoleh kesalehan spiritual maupun sosial.

“Segala amal perbuatan itu bergantung pada niatnya…”, begitulah sabda Rasulullah. Beliau menegaskan bahwa niat yang baik akan berimplikasi pada hal yang baik pula. Pun sebaliknya. Lalu bagaimana agar niat kita dapat membuat puasa kita tidak sekadar puasa asal-asalan alias asal puasa?

Langkah pertama yang mesti dilakukan adalah menata hati agar benar-benar siap dalam mengarungi perjalanan puasa, karena tanpa kesiapan yang apik bisa jadi selama sebulan yang kita dapatkan hanyalah sekadar lapar dan dahaga, tidak lebih dari itu. Niat awal baik menjadi hal utama dalam konteks ini. Sebagai salah satu rukun puasa, niat harus selalu diucapkan dan dilakukan setiap malam. Dengan niat hanya karena Allah seseorang menjalankan puasanya, mudah-mudahan puasa tersebut sah dan mendapatkan pahala dihadapan Allah.

Baca Juga  Kisah Cinta Sufi (6): Khusrau dan Syirin - Rindu yang Terobati dan Hancurnya Sebuah Harapan

Selama menjalankan puasa, ucapan-ucapan yang keluar dari mulut akan mempengaruhi dan menentukan ihwal puasa kita. Apakah puasa kita akan berkualitas mutiara ataukah akan tampak biasa-biasa saja.

Mulutmu adalah gambaran dari hatimu, begitulah banyak orang mengatakan dan mempercayainya demikian. Karenanya, selama puasa Ramadan harus ada penjagaan lisan dari menggunjing, mencaci maki, memfitnah, dan menebar kedustaan-kedustaan sebagai upaya penghormatan kita pada bulan puasa yang mulia ini.

Selama menjalankan ibadah puasa, tradisi para ulama terdahulu senantiasa menggunakan waktunya sebaik mungkin dalam rangka mengoptimalkan laku ibadanya di hadapan Allah. Upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak berzikir, tadarus Alquran, salat tarawih, qiyām al-layl dan sebagainya merupakan amaliah yang seyogianya dijalani dengan sepenuh hati dengan harapan memperoleh derajat tinggi di hadapan Ilahi Rabbi.

Banyak contoh laku puasa yang bisa kita ikuti dari para ulama, para al-salaf al-sālih sebagai wahana untuk mensucikan hati kita dan mendekatkan diri kepada Allah, di antaranya adalah: Mempersiapkan bekal sebelumnya untuk waktu satu bulan dengan bekal yang halal, menata dan menjaga hati dari sifat iri, dengki, ujub, takabur, riya, sum’ah, dan sebagainya. Pun mereka juga menggembleng diri dengan banyak membaca wirid, membaca shalawat, membaca dan mentadabburi Alquran dan ilmu-ilmu lainnya. Di samping itu, perlu juga upaya-upaya melatih diri meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial sebagai salah satu tujuan utama puasa. Dengan rasa lapar dan dahaga kita mengingat derita pangan kaum duafa. Dengan berbagi, kita menjunjung tinggi pilar-pilar insani. Dengan empati, kita memberdayakan hati kita untuk senantiasa peduli dan mengasihi.

Bila laku ritual puasa di atas mampu dilaksanakan dengan baik oleh setiap Muslim, maka hal itu akan menjadikan diri sebagai pribadi Muslim yang tangguh, dekat dengan Allah sekaligus dekat dengan sesama manusia. Pengendalian diri yang optimal selama puasa Ramdaan akan menjauhkan kita dari sifat iri, dengki, serakah, tamak, mau menang sendiri, dan sifat-sifat negatif lainnya. Maka dengan sendirinya Allah akan menganugerahkan kepada kita kebeningan hati sehingga membentuk kesalehan diri.

Baca Juga  Dakwah Islam adalah Akhlak, Bukan Teriak

Semoga puasa tahun ini mampu kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dan dapat menghadirkan rahman-rahimnya Allah dalam pribadi kita sebagai Muslim sejati. Dengan semangat Ramadan kita wujudkan kebersamaan dalam cinta kepada sesama anak bangsa ini. [MZ]

 

M. Ghufron Mawardi Pengajar di MTsN 3 Ngawi; Pernah Menjadi Dosen di IAI Ngawi dan STKIP PGRI Ngawi; Pegiat Kajian Sosial Keagamaan di Ngawi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *