Mochammad Hafidz Ardiyansyah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Kriteria Mencari Guru dalam Tasawuf

1 min read

“Dalam hal mempelajari ilmu tasawuf apakah harus ada gurunya?” Mungkin pertanyaan tersebut masih dipertanyakan oleh sebagian orang.

Memang benar adanya bahwa dalam masalah belajar, terutama belajar tasawuf, diharuskan untuk memiliki guru pembimbing yang kompeten bukan guru yang abal-abal. Justru kalau berguru dengan yang kurang kompeten dalam bidang tasawuf malah jadinya terjerumus dalam jurang kesesatan.

Lantas, siapakah guru tasawuf yang sesat tersebut? Yaitu orang-orang yang tidak kuat fondasinya dalam bidang ilmu syariat atau fikih dan ilmu akidah, lalu dengan mudahnya dia menggelorakan narasi-narasi yang seakan-akan merujuk pada tasawuf.

Buya Yahya menegaskan bahwa Imam al-Ghazali menyinggung para pengikut-pengikut tasawuf dan para pengamal tasawuf yang perilakunya menyimpang dari syariat dan akidah Islam. Itulah para benalu tasawuf yang sebenarnya. Dalam mempelajari tasawuf haruslah berlandaskan pada syariat dan akidah agar tidak menyimpang dari ajaran Islam itu sendiri.

Adapun beberapa perilaku yang menyimpang dalam ajaran tasawuf seperti syathahat atau omongan yang tidak bermakna. Hal tersebut memang benar adanya dalam tasawuf, disababkan tenggelam dalam lautan cinta kepada Allah.

Namun, hal-hal yang demikian harusnya tidak dikampanyekan ke khalayak umum karena dapat menimbulkan kebingungan terhadap orang lain, atau bahkan yang lebih bahayanya lagi, orang yang mendengarkan statement syathahat tadi mengamalkannya.

Perilaku syathahat ini pernah dilakukan oleh Syekh Siti Jenar. Dia pernah berkata bahwa “Di sini tidak ada Siti Jenar, yang ada hanyalah Allah.” Hal tersebut memang benar, menurut Syekh Siti Jenar sendiri, tetapi salah bila sampai dikatakan oleh orang awam yang belum kuat fondasi akidahnya.

Lantas, bagaimana mencari guru yang kompeten dalam ilmu tasawuf? Guru tasawuf yang kompeten adalah apabila dengan melihat dirinya atau melihat perilakunya saja, diri kita akan termotivasi untuk berbuat kebaikan. Jangan malah memilih guru tasawuf yang masih mau menyalahkan orang lain, sebab bertasawuf adalah menghindari perbuatan-perbuatan demikian.

Baca Juga  Meninjau Kembali Relasi Manusia dengan Teknologi

Kemudian, mencari guru yang kuat fondasi ilmu syariat dan akidahnya, bukan yang malah menggaungkan tentang tingkatan-tingkatan maqamah yang mana hal tersebut dapat membuat malas terhadap pengikutnya.Jadinya malah jarang salat dengan alasan “saya udah berada di maqam musyahadah.” Ini yang perlu diwaspadai.

Maka dari sini bisa ditegaskan bahwa dalam hal mempelajari ilmu tasawuf haruslah mencari guru tasawuf yang menerapkan akhlak baik dalam segala sendi kehidupannya dan dapat membimbing kita untuk dekat terhadap Sang Pencipta.

Tasawuf bukanlah hanya kata-kata belaka, tertapi yang terpenting adalah perilaku baik, akhlak yang baik. Dengan demikian, kita juga dapat mencontoh orang-orang saleh dalamm hal beramal saleh sebagai tahap muraqabah ila Allah seperti berzikir dan rajin ibadah.

Jangan mudah tertipu dengan guru-guru yang mengaku dapat melakukan hal-hal yang di luar nalar, seperti bisa terbang atau perilaku absurd lainnya tetapi ibadahnya kacau, karena hal demikian bisa saja bentuk istidraj dari Allah, dan hal demikian hina di mata Allah.

Namun, dari pemahaman di atas, jangan disimpulkan bahwa semua ilmu harus dibimbing dengan guru dengan keahlian khusus. Ada beberapa ilmu yang boleh dipelajari secara autodidak, yaitu ilmu nonsyariat, seperti ilmu memasak, berkebun, dan pemrograman. Sebab, ilmu tersebut tidak menyangkut kepentingan orang lain, melainkan hanya untuk kebutuhan pribadi dalam urusan duniawi saja. [AR]

Mochammad Hafidz Ardiyansyah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya