Susanto Al Yamin Pegawai Kementerian Agama Kab. Siak, Riau

Mengagungkan Syi’ar Alah dalam Ibadah Haji

3 min read

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ فَرَضَ الْحَجَّ عَلَى عِبَادِهِ، وَأَمَرَنَا بِطَاعَتِهِ، وَنَهَانَا عَنْ مَعْصِيتِهِ، وَدَلَّنَا عَلَى تَعْظِيْمِ شَعَائِرِهِ بِفَضْلِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

وَقَالَ أَيْضًا فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Pada kesempatan yang mulia dan berbahagia ini, mari kita bersyukur kepada Allah Swt. atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Selanjutnya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt., dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Mudah-mudahan, semakin hari, yang pada hakikatnya semakin dekat dengan kematian kita, semakin meningkat pula ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dalam Islam, ibadah haji yang dilaksanakan setiap tahun oleh umat Islam dari berbagai penjuru dunia, merupakan ibadah yang memiliki syi’ar-syi’ar yang agung. Suasana perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji terasa begitu agung dan sakral, baik bagi saudara kita yang sedang melakukannya maupun bagi kita yang menyaksikannya. Rangkaian ibadah haji yang dilasanakan di tempat yang mulia dan menghimpun jam’ah dalam jumlah besar memperlihatkan syi’ar-syi’ar Allah Swt. yang patut diagungkan.

Mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah Swt. dalam ibadah haji merupakan manifestasi ketakwaan seorang hamba. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Hajj/22 ayat 32:

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (Q.S. Al-Hajj: 32).

Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Menurut al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi, makna sya’airallah dalam ayat di atas adalah segala sesuatu yang diperuntukkan bagi Allah Swt., mengandung hal-hal yang memberitahukan dan mengenalkan Allah Swt. Lebih rinci lagi, Wahbah Az-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa mengagungkan sya’airallah dalam ayat di atas berarti mengagungkan agama Allah Swt. atau fardhu haji dan tempat-tempat pelaksanaannya, atau hewan al-hadyu (hewan sembelihan pengganti dam/denda) yang termasuk salah satu simbol ibadah haji.

Baca Juga  Khutbah Jumat: Yang Dapat Dilakukan Orang Muda untuk Bangsa

Pengagungan kepada hewan al-hadyu dengan cara mempersembahkan hewan yang bagus, terbaik, gemuk, dan mahal termasuk perbuatan orang-orang yang memiliki ketakwaan.

Syi’ar juga berarti kemuliaan dan kebesaran. Syi’ar bertujuan menyampaikan berita, tanda-tanda agama dan ibadah agar manusia lebih mengenal kemuliaan dan keagungan Allah Swt. Mengangungkan sya’airallah dalam ibadah haji berarti mengagungkan kebesaran dan kemuliaan Allah Swt.

Syi’ar agung dalam perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji dapat kita lihat ketika jema’ah haji mulai melantunkan talbiyah. Talbiyah merupakan ikrar suci terhadap panggilan haji, sebagai bukti penghambaan diri dan pengagungan yang tinggi kepada Allah Swt. Ucapan talbiah juga merupakan ekspresi cinta yang tulus kepada Allah Swt., ketaatan dalam beribadah, berpegang pada perintah-Nya, serta menerima terhadap ketentuan-ketentuan syariatnya.

Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Sya’airallah dalam ibadah haji juga dapat kita lihat ketika jam’ah haji mengenakan pakaian ihram. Kita melihat jama’ah haji mengenakan dua helai pakaian berwarna putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini.

Pakaian adalah lambang status yang dapat memicu kesombongan dan merasa lebih hebat dari orang lain. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya. Oleh karena itu, Pakaian ihram memberi pelajaran kepada manusia untuk mengubur pandangan yang mengukur keunggulan seseorang dari atribut duniawi seperti kedudukan, harta, gelar, ras dan keturunan.

Setelah memakai pakaian ihram, jama’ah haji akan melaksanakan sejumlah ritual haji yang penuh makna dan syi’ar-syi’ar Allah. Jama’ah haji akan melaksanakan thawaf  (mengelilingi Ka’bah), sa’i (berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwa), wukuf di Arafah, mabit (bermalam) di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah hingga tahallul.

Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Ketika jamaah haji thawaf mengelilingi Ka’bah, terlihat kemuliaan dan keunikan Ka’bah yang menghadap ke segala arah. Melalui thawaf, manusia juga seolah diajak untuk saling peduli dengan orang-orang di sekelilingnya.

Selanjutnya jamaah haji melakukan sa’i atau berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwa yang dalam Al-Qur’an secara spesifik disebut sebagai sya’airillah. Hal ini dapat kita lihat dalam Q.S. Al-Baqarah/2: 158 berikut ini:

إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Baca Juga  Khutbah Jumat: Hebatnya Indonesia

Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Baqarah: 158). 

Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Sa’i mengandung pesan bahwa ritual tersebut melambangkan kegigihan dalam berjuang mengarungi tantangan hidup. Sa’i merupakan rekonstruksi peristiwa Siti Hajar mencari air untuk putranya Ismail yang kehausan. Di tengah padang pasir yang tandus, Siti Hajar berlari-lari kecil dari Bukit Shafa menuju Marwa, melambangkan figur manusia yang berjuang dari niat yang tulus (Shafa), tanpa patah semangat mencapai tujuan (Marwa).

Selanjutnya, sya’airallah dapat dilihat dan dirasakan ketika wukuf di Arafah. Arafah merupakan sebuah padang yang luas. Di tempat ini jutaan umat manusia dari berbagai suku dan bangsa larut dalam suasana bathin yang damai, mereka berkumpul sambil berdoa mengharap ridha Allah Swt., merenung dan memohon ampun atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Padang Arafah adalah miniatur padang Mahsyar tempat manusia berkumpul di hari kiamat kelak, untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia.

Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Nilai-nilai ukhuwah atau persaudaraan dalam perjalanan ibadah haji juga merupakan bagian dari sya’airallah yang perlu diagungkan dan dilestarikan. Ketika melaksanakan ibadah haji, mulai dari perjalanan berangkat ke tanah suci, hingga tiba di tanah suci dan kembali lagi ke tanah air, setiap jama’ah haji banyak bertemu dengan saudara seiman dari berbagai negara dan latar belakang yang berbeda. Semuanya melebur jadi satu, taka ada pembeda antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dan rakyat biasa, semua statusnya sama.

Melalui momentum ibadah haji, persaudaraan sesama umat Islam, baik di timur maupun di barat, di utara maupun di selatan, dapat dirajut dan diperkokoh. Perbedaan keturunan, suku, bahasa, dan letak geografis semuanya ditembus oleh persaudaraan seiman. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (Q.S. Al-Hujurat: 10).

Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Demikianlah perjalanan ibadah haji penuh makna dan syi’ar-syi’ar Allah Swt. Ibadah haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen perubahan lahir dan batin untuk mencapai derajat takwa dan agar senantiasa ingat kepada Allah Swt.  Rasul Saw. bersabda:

Baca Juga  Kisah Alqamah, Antara Mendahulukan Ibu atau Istri

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْىُ الْجِمَارِ لإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ (رَوَاهُ التِّرْمِذِي)

Dari Aisyah r.a. Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya dijadikan thawaf, sa’i antara Shofa dan Marwah, dan melempar jumrah, tujuannya adalah untuk berdzikir pada Allah (HR. At-Tirmidzi).

Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Mudah-mudahan melalui penghayatan dan pemaknaan terhadap sya’airallah dalam perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji, dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt., baik bagi jama’ah yang melaksanakan ibadah haji maupun bagi umat Islam yang menyaksikannya.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَاللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا. فَقَالَ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. أَللهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ، وبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعوَاتِ.ٍ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقِ المُسْلِمِيْنَ لِمَا فِيْهِ رِضَاكَ. اَللَّهُمَّ احْفَظِ الحُجَّاجَ وَالمُعْتَمِرِيْنَ، وَرُدَّهُمْ إِلَى بِلَادِهِمْ سَالِمِيْنَ، يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَ الحَرَمَيْنِ وَسَائِر بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَالله. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ.

 

Susanto Al Yamin Pegawai Kementerian Agama Kab. Siak, Riau