




Ada rasa duka di balik kepergian Susilo Nugroho, biasa dikenal Den Baguse Ngarso, (Senin, 21/09), sosok seniman yang dikenal sering memainkan karakter-karakter antagonis yang tajam, kritis, dan kerap menyentil kehidupan sosial dalam berbagai pertunjukan teater maupun film. Perannya sebagai Den Baguse Ngarso dalam sitkom Mbangun Deso di TVRI 1988-1998, mengajarkan bahwa kita kadang perlu melihat kenyataan dari sudut yang berbeda.
Masyarakat seringkali hidup dalam normalitas yakni, ketika apa yang direncanakan dan dikerjakan hanyalah yang sudah biasa terjadi. Bahasa inggrisnya doing business as usual, atau bahasa kerennya, “Cari aman!” Ungkapan “Haiyah” yang sering ia lontarkan adalah gambaran tentang sikap protes terhadap pemikiran umumnya yang tidak ingin berpikir lebih susah.
Melalui karakter-karakter antagonisnyam baik dalam Mbangun Deso atau pementasan Live yang pernah saya tonton, ia berhasil membuat penonton ikut berpikir dan menimbang ulang arti sebuah normalitas.
Ini kiranya yang membuatnya menjadi sosok yang pemeran karakter ‘jahat’ yang tidak dibenci, melainkan ditunggu karena karakter ‘menggelitik, menyentil dan mengajak berpikir’ yang ditampilkannya.
Negeri Tanpa Dialektika
Mana yang lebih baik, hidup di dalam masyarakat yang ayem-ayem saja tanpa ada pendalaman makna, dengan hidup dalam masyarakat yang berani bertanya dan terus menerus mencari?
Sekilas normalitas terasa menyenangkan, tetapi jika kita bertanya lebih dalam, keberanian mempertanyakan banyak hal yang dianggap normal merupakan proses penting untuk bagi masyarakat yang sehat. Dunia berubah, dan tidak pernah ada jawaban tunggal atas pertanyaan dan permasalahan yang sama.
Dalam filsafat, proses bertanya terus menerus (dialektika) merupakan sebuah upaya untuk berani berkembang. Sebuah ide tidak boleh disebut sebagai satu-satunya ide yang benar karena terdapat banyak sudut pandang yang kemudian bisa melengkapi, menggugat atau memperdalam suatu pemikiran.
Sistem berpikir ini seringkali diringkas dengan gambaran ‘tesis dilawankan dengan antithesis menghasilkan sintesis’. Sintesis ini pada waktunya akan menjadi tesis baru yang perlu digugat lagi dengan antithesis sehingga muncul sintesis baru.
Pola berpikir ini dianggap sehat karena akan melahirkan masyarakat dengan kedalaman pertimbangan, kemauan untuk berpikir lebih dalam dan menggugat segala hal yang gak beres. Di sanalah lahir kebijaksanaan, bukannya orang-orang sumbu pendek yang mudah menghakimi dan merasa benar sendiri.
Di negeri ini kita punya banyak hal yang dianggap sebagai normalitas baru dan seringkali tidak dipertanyakan. Mentalitas pamer, misalnya, adalah hal yang tidak dipertanyakan dan dianggap sebagai kehebatan.
Orang-orang lalu mencari jalan pintas yang dianggap pantas untuk bisa pamer dan diakui sebagai orang hebat dengan cara hutang sana-hutang sini lewat pinjol. Bayangkan jika ini masuk dalam skenario acaranya Den Baguse Ngarso, pasti akan muncul kata, “Haiyah, utang wae kok kemaki!” (Haiyah, hasil hutang saja kok sombong).
Mentalitas menjilat sekarang menjadi hal yang lumrah karena sikap asal bapak senang mulai hidup lagi. Ini mengingatkan pada salah satu potongan percakapan dalam acara mbangun deso. Dalam salah satu episode berjudul, “Alas dibabat, kabeh susah,” saat ada orang yang mencari muka padanya, ia mengatakan:
“Heh,… Lambemu ki ming ora waton keplok, isa ora. Rumangsamu aku cah cilik po piye? … Matur karo ora ki kan tergantung aku to? Wong kok senengane ndekte lambene wong liya.”
(Heh,… Jangan asal bicara. Kamu pikir aku anak kecil? … Menyatakan pendapat atau tidak itu kan tergantung saya to? Jadi orang kok seneng mendikte mulut orang lain).
Kata-kata itu mungkin menyakitkan, tetapi ia mengandung kebenaran. Inilah indahnya menempatkan diri sebagai aktor antagonis yang tidak sekedar jahat, tetapi lebih kepada menggugat kemapanan.
Di sana ada wilayah abu-abu, penonton diajak untuk refleksi dan mengambil jarak dari hal yang biasa, mapan, dan yang asal bapak senang. Lihat saja, ungkapan pendek dalam seri “Nggayuh Kamukten” (mencapai kemuliaan).
Ia menyindir Kuriman, lawan mainnya, “Ealah Man, man. Mung arep golek bathi wae kok direwangi mubeng minger” (Walah Man, Man. Hanya untuk mendapat keuntungan saja kok dijalani sampai harus menghalalkan semua cara!). Pendek, tetapi langsung menghujam di pusat permasalahan. Tidak menyenangkan, tapi menyadarkan.
Dalam hal inilah kita bisa merindukan sosok Den Baguse Ngarso, sosok yang mengajarkan kejujuran, mengajak menjauhi sikap lamis—lain di bibir lain di hati—dan berani mengambil resiko. Di sana ada jiwa petualang dan pencari kebenaran, bukan jiwa orang-orang yang sekedar mencari aman dan takut akan perjuangan.
Menimbang Kehidupan
Den Baguse Ngarso menjadi sosok yang bisa memberikan sudut pandang lain atas kehidupan yang membuat orang bisa berpikir lebih dalam, meski kadang tampak menyebalkan.
Saat orang memuja kemajuan zaman, dalam salah satu podcast ia mengatakan:
“Saya merasa beruntung, kalau diteorikan antara tahun 50-80an. Itu generasi emas betul. Saya merasakan kebahagiaan. Saya keluar rumah ketemu teman, tidak ada HP tapi teman saya banyak. Itu tidak dirasakan oleh anak jaman sekarang. Teman saya banyak sekali…. Sekarang ibu-ibu naik motor di jalan ditanya, “Mau ke mana?” “Mau ngantar anak saya ke tempat Si Ibu A karena punya anak yang seumuran anak saya?” Lihat sekarang ini untuk bermain saja harus dihantar. Aneh kan?”
Di balik keluhannya tentang perubahan zaman, sesungguhnya ia sedang mengajak kita mempertanyakan kembali apa yang kita sebut sebagai kemajuan. Ia bisa menimbang kehidupan bukan hanya pada apa yang tampak, tetapi makna di balik apa yang tampak. Ungkapannya tidak mentah, tetapi menggugah.
Den Baguse Ngarso meninggalkan kepada kita sosok yang mampu mendobrak pikiran kita yang normal-normal dan menawarkan kepada kita kesempatan untuk hidup dalam kedalaman, dalam kejujuran.
Selamat jalan Den Baguse Ngarso. Negeri ini akan merindukan sentilan-sentilanmu yang mengingatkan kami akan kenaifan yang sering kali tersembunyi di balik rasa takut untuk berubah dan rasa aman di balik kenyamanan.
Salam taklim untuk banyak pemain Mbangun Deso yang sudah berpulang. Terima kasih sudah menjadi guru kehidupan untuk kami, mengajari kami tentang hidup yang tidak hitam-putih, tentang makna yang tersimpan di balik keberanian mempertanyakan kemapanan.
Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma