Penaklukan Yerusalem dalam Catatan Sejarawan Muslim

Ilustrasi Shalahuddin al-Ayyubi bersama pasukannya di hadapan Yerusalem dalam penaklukan pada 1187 M.

Pada 2 Oktober 1187 M, tepat 839 tahun lalu, Shalahuddin al Ayyubi (1137-1193 M) berhasil merebut kembali kota suci Yerussalem. Narasi populer menceritakan bahwa, pada saat peristiwa penaklukan Yerussalem, Shalahuddin memperlakukan Pasukan Salib sebagai pihak yang kalah dengan penuh belas kasih.

Namun, bagaimana para sejarawan Muslim pada abad ke-12 dan ke-13 menggambarkan penaklukan tersebut? Apakah kisahnya sesederhana narasi heroik yang selama ini kita kenal?

Salah satu narasi palung awal dan lengkap adalah Kitab An-Nawadir as-Sulthaniyya wa Mahasin al-Yusufiyya karya asisten Shalahuddin al-Ayyubi sendiri, Bahauddin bin Shaddad (1145-1235 M). Dalam karyanya, Bahauddin yang lebih dikenal dengan Ibnu Shaddad mengisahkan biografi Shalahuddin al-Ayyubi lengkap dengan kampanye-kampanye militernya.

Dimulai dengan Pertempuran Hitthin 583 H/1187 M, dimana Shalahuddin al-Ayyubi berhasil menghancurkan  Pasukan Salib secara masif. Pertempuran dilanjutkan dengan pengambilalihan wilayah-wilayah lainnya yang dikuasai Pasukan Salib seperti Tiberias, Tibnin, Akka, Beirut, Ascalon hingga Yerusalem di tahun yang sama.

Yerusalem sendiri berhasil direbut setelah pertempuran dengan garnisun yang berjumlah 60.000. Ibn Shaddad sendiri menggambarkan penaklukan itu sebagai sebuah “kemuliaan.”

Lain halnya dengan sejarawan Ibn al-Athir (1160–1233 M). Sebagai salah satu pejabat Dinasti Zangi yang berkuasa di Suriah, Irak, dan Mesir sebelum Dinasti Ayyubi, ia sempat bermusuhan dengan Shalahuddin al-Ayyubi setelah wafatnya Nuruddin pada 1174 M. Dalam Al-Kamil fi al-Tarikh, Ibn al-Athir menghadirkan pandangan yang lebih kompleks tentang sosok Shalahuddin.

Saat menceritakan  proses Pertempuran Hittin dan jatuhnya Yerusalem 1187 M, Ibn al-Athir dengan dingin menceritakan perbudakan, intimidasi, dan kekerasan lain yang terjadi oleh pihak Shalahuddin al-Ayyubi kepada pihak yang kalah.

Misalnya, ketika menceritakan saat Pasukan Ayyubi menaklukkan kembali Kota Yafa usai Pertempuran Hittin Yafa sendiri adalah kota pelabuhan kuno di pesisir Laut Tengah yang saat ini menjadi bagian selatan dari kota Tel Aviv, Israel. Dalam karyanya itu, Ibn al-Athir menceritakan bahwa Pasukan Ayyubi memperbudak para wanita di kota tersebut, termasuk seorang gadis yang memiliki bayi berusia 1 tahun.

Penggambaran Ibn al-Athir tentang jatuhnya Yerusalem pun tak kalah mengerikan. Menurut Ibn al-Athir, Komandan Pasukan Salib di Yerusalem, Balian dari Ibelin, mendatangi Shalahuddin al-Ayyubi untuk bernegosiasi.

Namun, dalam negosiasi itu, Shalahuddin al-Ayyubi mengancam akan membantai dan memperbudak Pasukan Salib serta warga Eropa di Yerusalem sebagai balasan atas tindakan serupa ketika mereka merebut kota itu dari kaum Muslimin pada 1099 M.

Balian pun membalas dengan ancaman akan bertempur sampai mati. Jika Yerusalem diserang, ia mengancam akan menghancurkan tempat-tempat suci Islam dan membunuh sekitar 5.000 tawanan Muslim.

Ancaman ini akhirnya membuat Shalahuddin memilih untuk berunding. Akhirnya, disepakati bahwa penduduk yang hendak meninggalkan Yerusalem harus membayar tebusan: 10 dinar untuk laki-laki, 5 dinar untuk perempuan, dan 2 dinar untuk anak-anak. Mereka yang tidak mampu membayar akan ditawan atau diperbudak.

Sementara itu, kronik Dinasti Ayyubi yang muncul belakangan, Mufarrij al-Kurub karya Suriah Ibn Washil (1207-1298 M) menggambarkan Pertempuran Hittin dan Pembebasan Yerusalem kurang lebih sama dengan yang digambarkan oleh Ibn Shaddad, akan tetapi dengan lebih singkat.

Ibn Washil memuji penaklukan yang dilakukan Shalahuddin tersebut sebagai “Pembersihan Masjid al-Aqsha”. Hal ini menunjukkan apresiasinya terhadap pencapaian tersebut.

Selain itu, salah satu sumber lain yang tidak kalah penting adalah Wafayat al-Ayan wa Abna az-Zaman  karya Ibn Khallikan (wafat 1282 M), seorang Sarjana Kurdi dari Erbil, Kurdistan Irak .

Ibn Khallikan menulis riwayat hidup Shalahuddin dan kisah pembebasan Yerusalem dengan merujuk pada karya dua gurunya, Ibn al-Athir dan Ibn Shaddad. Ia juga memperkaya karyanya dengan kutipan syair-syair tentang Shalahuddin al-Ayyubi , seperti yang ditulis oleh  Sibth ibn al-Taawizi, Ibn Shihna al-Maushili.

Salah satu contoh syair yang dikutip Ibn Khallikan, adalah syair Alamuddin al-Shatani yang memuji kemenangan-kemenangan militer Shalahuddin al Ayyubi:

“Aku melihat kemenangan terikat di bendera kuningmu. Mendekatlah dan taklukkan dunia, karena itu pantas untukmu.”

Karya Ibn Khallikan ini memberi warna sastra pada kisah penaklukan Yerusalem. Berbeda dengan karya Bahauddin ibn Shaddad atau Ibn al-Athir yang hanya memaparkan dengan narasi sejarah, Ibn Khallikan menambahkan dimensi sastra dengan penambahan puisi-puisi tentang Shalahuddin.

Berbagai sumber tersebut hanyalah sebagian kecil dari historiografi Islam abad ke-12 hingga ke-13 yang membahas penaklukan Yerusalem. Masing-masing menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Sumber yang dekat dengan Dinasti Ayyubi, seperti Ibn Shaddad dan Ibn Washil, cenderung menampilkan Shalahuddin secara positif dan menempatkan penaklukan Yerusalem sebagai sebuah kemenangan besar.

Sementara itu, Ibn al-Athir dalam Al-Kamil, meski tetap mengakui pentingnya kemenangan tersebut, tidak mengabaikan kekerasan dan perbudakan yang terjadi selama kampanye militer Shalahuddin. Ibn Khallikan bahkan menghadirkan kisah tersebut dengan warna sastra melalui syair-syair tentang sang sultan.

Keragaman pandangan itu menunjukkan bahwa dalam historiografi Islam sendiri pun sejarah tidak selalu hadir sebagai satu cerita yang tunggal. Pembebasan Yerusalem bukan sekadar kisah heroik tentang “kembalinya suatu wilayah ke pangkuan Islam”, sebagaimana kerap digambarkan dalam narasi populer.

Dalam sumber-sumber sezamannya, peristiwa itu dapat dibaca sebagai kemenangan militer dan strategi politik, pembebasan tempat suci, sekaligus peristiwa yang diwarnai kekerasan dan penderitaan. Sebagian menuliskannya dengan pujian, sebagian dengan nada kritis, dan sebagian lainnya melalui bahasa puitis dan metaforis. Akhirnya, keragaman inilah yang justru membuat historiografi tentang Yerusalem menarik untuk dibaca kembali.

0

Mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Ampel

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.