Martinus Joko Lelono Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma

Logika Kolonial dan Cibiran Atas Penanganan Pandemi

3 min read

source: iap2.or.id

Suatu ketika, saya tergelitik dengan celotehan seorang teman mengomentari tren penurunan jumlah orang yang terpapar Covid-19. Sementara pada Juli, jumlah kasus aktif lebih dari 500.000 orang, di pertengahan September 2021 jumlahnya tak sampai 50.000. Kasus harian yang dulunya mencapai lebih dari 50.000, seketika di awal Oktober ada di bawah 1.000.

Menanggapi hal itu, dengan sinis teman saya itu mengatakan, “Bener gak ya data yang disampaikan. Masak Indonesia bisa lebih baik dari Negara-negara tetangga, Malaysia dan Singapura?”

Pernyataan ini melengkapi data lama saya tentang ungkapan-ungkapan yang menyatakan, “Kalau di luar negeri pasti orang tertib berkendara, tertib antri, dan tidak buang sampah sembarangan.” Setiap kali orang berkata demikian, saya senang menyentil mereka dengan mengatakan, “Luar negerinya mana dulu nih? Apanya yang lebih baik?” sembari menceritakan kunjungan saya ke beberapa negara yang menunjukkan bahwa tak semua yang di luar sana baik dan tak semua yang di dalam negeri ini buruk.

Rasanya miris juga kalau mendengar ungkapan yang menganggap bahwa Indonesia selalu ada di urutan terakhir dalam segala skala perhitungan di antara negara-neraga lain. Sambil mengelus dada, di dalam hati hanya bergumam, “Mungkin ini ya alasan mengapa ada istilah ‘rumput tetangga selalu tampak lebih hijau.’”

Kepada teman itu, saya sempat menunjukkan beberapa seri video di Youtube yang menceritakan tentang “sisi lain Amerika”. Video-video tersebut menunjukkan bagaimana gambaran di balik kehebatan negara tersebut; ada banyak tunawisma yang hidup di taman-taman dengan fasilitas penunjang hidup yang serba terbatas misalnya.

Lantas, teman saya itu akhirnya menyipulkan, “Oh rupanya di balik keberhasilan ekonomi di sana, ada juga ya orang-orang yang jadi korban ya.”

Tentu dalam obrolan itu juga disebutkan bagaimana konflik di beberapa negara di Timur Tengah yang menjadikan masyarakatnya hidup dengan tidak nyaman. Jangankan untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang layak, bahkan untuk tidur di tempat yang layak dan dalam suasana yang tenang saja, mereka kesulitan.

Baca Juga  Resistensi Komunitas Eks Hizbut Tahrir Indonesia Pasca-Pembubaran di UIN Sunan Ampel Surabaya [Bagian 2]

Dari situlah akhirnya muncul kesadaran sederhana dari teman saya ini bahwa di Indonesia ini terdapat banyak kemewahan dan prestasi yang sudah dicapai. Memang, ada hal yang tidak sempurna dalam upaya mencapai Indonesia yang Adil, Makmur, Sejahtera, tetapi pada waktu yang sama ia menyadari bahwa sudah banyak kemajuan yang dicapai pasca kemerdekaan negeri ini.

Satu catatan yang sangat berharga dari dari obrolan kami saat itu adalah selaly melihat sisi negative dan merasa pesimis terhadap negeri sendiri dan selalu memandang positif ‘rumput tetangga’ bukanlah hal yang bijaksana.

Logika Penjajahan dan Perasaan Rendah Diri

Obrolan itu kemudian berlanjut dengan beberapa gambaran tentang berbagai perasaan rendah diri yang dimiliki oleh banyak orang di negeri ini; misalnya tentang yang cantik adalah yang kulit putih; yang ganteng adalah yang berhidung mancung; yang lebih pintar adalah bule; film yang bagus adalah buatan korea; tas yang bermutu adalah buatan Amerika, dan sebagainya.

Di titik inilah lalu muncul sebuah kesadaran bahwa semua pandangan yang demikian itu berasal dari pemahaman yang tak selamanya benar. Jika dilihat lagi, ada begitu banyak hal yang membanggakan dari negeri ini, misalnya tentang budayanya, keramahan orangnya, relasi antar agama yang meski penuh pergulatan tetapi tetap memunculkan begitu banyak relasi baik; tempat-tempat wisata di tempat kita, dan kerajinan tangan yang diminati di berbagai negara dan sejenisnya.

Jika melihat hal-hal yang demikian, maka sudah seharusnya siapapun memandang bahwa bangsa kita sepadan dengan bangsa-bangsa lainnya. Namun sayang, gambaran sebagai bangsa yang lebih rendah sudah terlanjur tertanam cukup dalam dalam benak masyarakat kita, sehingga tidak heran jika masih ada saja yang dengan mudah mengatakan, “di luar negeri, pasti lebih baik.”

Baca Juga  Musuh Kebebasan Pers, Buzzer atau Segelintir Pemilik Modal?

Seorang penulis yang mengkritik tentang pandangan-pandangan masyarakat paska penjajahan adalah Edward W. Said yang menulis buku berjudul Orientalism. Dalam karya tulisnya itu, ia mengatakan bahwa semua pengetahuan adalah hasil pemikiran manusia dan bukannya secara natural demikian. Semua pengetahuan adalah pengetahuan yang dibuat di dalam masa tertentu dalam sejarah sehingga di sana terdapat sudut pandang dan interpretasi dari yang menciptakan.

Kalau bicara soal interpretasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan; siapa yang mengatakan, pengetahuan itu ditujukan kepada siapa, apa tujuannya, dan konteks pembicaraannya seperti apa.

Mengingat bahwa pemahaman tentang rasa rendah diri negeri ini, rasanya kita perlu bicara soal masa penjajahan yang masih saja mewariskan gambaran tentang cara pandang untuk melihat bangsa kita ini sebagai bangsa yang kecil dan tidak punya kemampuan apa pun untuk menjadi ‘bangsa yang besar’. Sehingga tidak heran jika apa yang dikatakan oleh teman saya itu, rasanya sering diungkapkan juga oleh banyak kalangan di antara kita.

Kita semua rasanya perlu belajar untuk mengapresiasi bangsanya sendiri. Berbagai macam perasaan rendah diri hanya akan menjadikan bangsa ini tidak berani kreatif karena adanya stigma bahwa segala sesuatu yang baik adalah yang ada di luar sana. Sekaranglah saatnya membangun kebanggaan atas bangsa sendiri. Semoga di tahun 2045, tatkala Negeri ini berusia 100 tahun, yang muncul bukanlah generasi yang meragukan kemampuan bangsa sendiri, melainkan warga bangsa yang bekerjasama dengan dunia internasional sebagai mitra sepadan guna berkontribusi untuk kebaikan dunia.

Akhirnya, saya ingin menyampaikan apa yang dikatakan oleh Edward Said, “Kita tidak bisa memperjuangkan hak dan sejarah kita serta masa depan kita sampai kita dipersenjatai dengan senjata kekritisan dan kesadaran yang berdedikasi.” Kita tidak memulai dari nol untuk membuat negeri ini lebih adil, makmur, sejahtera. Namun semua tak akan mulai kalau kita sibuk menuduh negeri ini tak ada apa-apanya dari negeri-negeri yang lain, termasuk dalam hal penanganan pandemi yang, secara pribadi, bagi saya cukup membanggakan. [AA]

Martinus Joko Lelono Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma