K.H. Ma'ruf Khozin Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jatim

Benarkah Masjid Tempat Selamat dari Penularan Covid-19? [Bagian 1]

2 min read

Saya tidak menegasikan kebenaran sabda Nabi dalam hadis-hadis di bawah ini. Tapi saya ingin memosisikan hadis secara proporsional dan kontekstual. Jika hadis ini terus disebarkan, bahwa masjid adalah tempat selamat dari Covid-19 padahal sudah banyak bukti ada beberapa masjid yang jemaahnya tertular virus tersebut, lalu siapa yang hendak disalahkan? Apakah sabda Nabi? Tidak ada yang salah dengan Nabi. Mungkin kita yang salah dalam memahami hadis-hadis Nabi.

Saya setuju dengan jawaban ulama Ahli Hadis Syekh Abdurrauf al-Munawi, bahwa ketika bencana itu sedikit, maka orang-orang yang rajin ke masjid akan diberi keselamatan. Tapi jika bencana itu rata maka siapapun bakal kena (uraiannya ada di poin hadis no. 4)

Berikut beberapa hadis yang dijadikan landasan dan statusnya:

Pertama, dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.

“Sesungguhnya apabila Allah menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang memakmurkan masjid.”

Hadis riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

Jawaban: Hadis ini dinilai dhaif oleh al-Hafidz Adz-Dzahabi dalam Mīzān al-I’tidāl 2/64.

Kedua, dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ

“Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.”

Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudāwī juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihān (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrād (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

Baca Juga  Panduan Tata Cara Shalat Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19

Jawaban: Hadis ini dinilai dhaif oleh al-Munawi. Bahwa ada perawi bernama Mukram bin Hakim yang dinilai dhaif oleh Adz-Dzahabi, juga perawi Zafir dinilai dhaif oleh Ibnu Adi dan dikatakan “Hadisnya tidak bisa dijadikan mutība’ah/penguat internal” (Faydl al-Qadīr 1/342)

Ketiga, Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ “

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang memakmurkan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka.”

Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Imān [2946].

Jawaban: Di dalamnya ada perawi bernama Shalih al-Mari dinilai matrūk (perawi yang ditinggalkan) oleh An-Nasa’i dan Adz-Dzahabi (Faydl al-Qadīr 2/398)

Keempat, Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ”

“Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang memakmurkan masjid.”

Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Imān [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: “Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)”.

Jawaban: Perkataan Imam Al-Baihaqi ini tidak berlaku mutlak. Mari kita perhatikan jawaban Imam Al-Munawi:

ﻧﻌﻢ ﻫﺬا ﻣﺨﺼﻮﺹ ﺑﻤﺎ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﻜﺜﺮ اﻟﺨﺒﺚ ﺑﺪﻟﻴﻞ اﻟﺨﺒﺮ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭ

“Semua ini (marabahaya dijauhkan dari masjid) adalah jika keburukan tidak banyak, terbukti dengan dalil hadis sebelumnya” (Faydl al-Qadīr 1/ 342)

Apa hadis yang dimaksud? Imam As-Suyuthi menyampaikan riwayat bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga  [Cerpen] Pohon Zombi

ﺇِﺫا ﺃﻧْﺰَﻝَ اﻟﻠﻪ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻋﺬاﺑﺎ ﺃﺻﺎﺏَ اﻟﻌَﺬَاﺏُ ﻣَﻦْ ﻛﺎﻥَ ﻓِﻴﻬِﻢْ (ﺣﻢ ﺧ) ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ.

“Jika Allah menimpakan azab kepada suatu kaum maka Allah ratakan kepada mereka semuanya” (HR Ahmad dan Bukhari)

Hadis al-Bukhari ini dari segi kualitas lebih sahih daripada hadis-hadis sebelumnya. Dan di hadis ini tidak membedakan mana yang di masjid dan di luar masjid, orang baik dan tidak baik juga kena, pasien atau dokter juga bisa jadi korban.

Kelima, al-Imam al-Sya’bi, ulama salaf dari generasi tabiin, رحمه الله تعالى berkata:

“كَانُوا إِذَا فَرَغُوا مِنْ شَيْءٍ أَتَوُا الْمَسَاجِدَ “

Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mendatangi masjid.

Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman (juz 3 hlm 84 [2951]).

Jawaban: Saya sudah menelusuri beberapa kamus Arab makna lafal faragha yang Muta’addī (transitif) dengan “Min” belum menemukan makna “ketakutan tentang sesuatu”. Makna yang tepat adalah jika para Sahabat selesai mengerjakan apapun, maka mereka datang ke Masjid.

Saya tidak menakut-nakuti supaya tidak datang ke masjid, namun dalam kondisi seperti ini keselamatan manusia harus lebih diprioritaskan. Setelah pandemi Covid-19 ini selesai, in syaa Allah status di FB saya akan dipenuhi dengan ajakan kembali beribadah ke masjid, Tahlilan, shalawatan, dan lainnya. [MZ]

–Bersambung–

 

K.H. Ma'ruf Khozin Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jatim

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *