Muhammad Muchlish Huda Dosen di IAIN Ponorogo dan STAINU Madiun; mahasiswa S3 Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; bergiat di Lingkar Studi Islam Nusantara (LISANUNA).

Eko-Populisme dan Wajah Alam Semesta Pasca-Covid-19

2 min read

Diskursus tentang alam semesta tak melulu tentang manusia, atau tentang Tuhan dan dogma agama. Alam dan lingkungan adalah dua hal yang fatal jika diabaikan.

Bila kita amati dinamika perkembangan kajian filsafat, perhatian manusia (para filsuf) pada paruh abad pertama sebenarnya telah didominsai oleh pencarian konsep asal mula alam semesta. Meskipun sebenarnya agak sulit juga melacak sejauh mana para filsuf menaruh perhatian besar terhadap konsep filsafat lingkungan.

Pada abad pertengahan, diskursus perhatian para filsuf bergeser. Ia tak lagi berorientasi pada pencarian konsep asal mula alam semesta, namun didominasi oleh agama. Pemecahan problem kehidupan manusia pada abad pertengahan hampir melulu dipecahkan dengan dogma-dogma agama. Filsafat teosentris tumbuh subur pada masa itu. Tragedi Galileo Galilei bisa jadi salah satu preseden untuk mengingat era ini.

Berakhirnya fokus tunggal para filsuf terhadap dominasi pemikiran berbasis dogma agama ditandai dengan munculnya perhatian manusia pada pemikiran manusia itu sendiri. Filsafat antroposentris, begitu para filsuf menyebutnya. Yang terakhir inilah yang menandai dimulainya abad modern.

Namun demikian, abad modern bukanlah akhir dari perjalanan curiosity atau besarnya rasa keingintahuan manusia. Para pemikir post-modernism hadir memberikan kritik, komentar dan bantahan terhadap para pendahulunya. Postulat-postulat dan premis-premis baru disusun dan diketemukan.

Salah satu penanda berkembangnya era pemikiran post-modernism adalah kait-kelindannya dengan teknologi, era kemutakhiran, problem kekuasaan, resesi ekonomi, industrialisasi, perang dunia, genosida dan sederet problem akut kemanusiaan lain. Pada titik inilah manusia disibukkan dengan hal ihwal problem kemanusiaan.

Seiring dengan masifnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan serta sederet kompleksitas problem kemanusiaan, maka tantangan terbesar bagi umat manusia era modern dan post-modern adalah masalah keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan. Meskipun begitu, sekali lagi, post-modern bukan akhir perjalanan manusia. Ia digantikan oleh makhluk paling baru dan mutakhir bernama globalisasi.

Perkembangan teknologi komunikasi yang masif menjadi penanda hadirnya era masyarakat penduduk bumi tanpa sekat. Batas teritorial yang diukur oleh manusia bahkan hanya tinggal nama. Globalisasi mengangkangi itu semua.

Baca Juga  New Normal Kampus Merdeka

Tak berbeda dengan era post-modern, di era globalisasi pun begitu. Manusia melupakan alam. Dampak produksi masal berbagai jenis teknologi ciptaan manusia menjadikan alam sebagai tumbalnya. Pergeseran kehidupan sosial akibat teknologi pun nyata kita rasakan. Mobilisasi dan pergerakan manusia dengan berbagai bentuk alat transportasi berbahan bakar juga meninggalkan residu yang tak ramah pada lingkungan. Asap, polusi, pencemaran lingkungan menjadi masalah baru bagi manusia sejak teknologi mereka lahirkan.

Gegap gempita deru globalisasi yang disambut meriah oleh masyarakat dunia nyatanya tak cukup bersahabat bagi alam dan lingkungan.

Carut marutnya kondisi lingkungan dampak dari globalisasi melahirkan gerakan lingkungan di berbagai belahan negara di dunia. Di Mesir misalnya, kekecewaan terhadap pembangunan yang membabi buta melahirkan gerakan yang berbasis keagamaan, semisal fundamentalisme Islam. Bahkan Ikhwanul Muslimin, salah satu organisasi yang lahir dari rahim gerakan ini, terimpor sampai ke Indonesia.

Di India muncul hipko movement. Sebuah gerakan resistensi lingkungan yang digawangi kaum perempuan menentang perusahaan penebangan hutan secara liar dan brutal. Indonesia juga punya catatan gerakan pemberdayaan alam dan lingkungan lewat Walhi. Ia menjadi pioner gerakan keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan dalam lingkup nasional.

Pada umumnya, gerakan-gerakan di berbagai belahan dunia tersebut bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan serta mengembalikan upaya pemberdayaan rakyat (eko-populisme) melalui lingkungan. Upaya giat gerakan eko-populisme, di samping berorientasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan, juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran global-kolektif bahwa alam dan lingkungan adalah tuan kita yang niscaya kita rawat. Di alam ini manusia hanya sebatas tamu dan alam adalah tuannya.

Namun, jika kita perhatikan dengan seksama, agaknya upaya tersebut mentok di LSM, NGO dan organisasi lainnya. Jikapun ada kampanye, sifatnya yang sporadis sering tak mudah dijangkau oleh warga bumi secara keseluruhan. Untuk menuju pada kesadaran kembali ke alam secara global-kolektif masih jauh panggang dari api. Tapi, ternyata alam punya caranya sendiri.

Baca Juga  Yang Akan 'Hilang' dari Ibadah Puasa Kita

Dengan berbagai macam argumentasi, Covid-19 yang kini menjadi krisis global dan berdampak besar pada lebih dari 200 negara di dunia diyakini oleh para ahli sebagai cara alam untuk memulihkan dirinya. Seperti kata-kata bijak, di balik setiap bencana pasti ada anugerah. Covid-19 memang memporak-porandakan tatanan kehidupan manusia, namun ia berhasil memaksa manusia berkesadaran kolektif terhadap pentingnya gerakan sadar lingkungan seperti eko-populisme.

Cerahnya langit Jakarta pasca-berkurangnya aktivitas dan pergerakan warga di ruang publik, menurunnya tingkat polusi dan pencemaran lingkungan karena pabrik yang berhenti beroperasi sementara, dan perubahan drastis lain yang terjadi pada alam mengindikasikan bahwa arah pendulum dunia pasca berakhirnya pandemi Covid-19 sepertinya akan berpihak pada eko-populisme: cinta kebersihan, keseimbangan ekosistem, dan kepedulian terhadap lingkungan. Bukan untuk kita, tapi untuk alam semesta dan seluruh kehidupan di dalamnya. [FM, MZ]

Muhammad Muchlish Huda Dosen di IAIN Ponorogo dan STAINU Madiun; mahasiswa S3 Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; bergiat di Lingkar Studi Islam Nusantara (LISANUNA).

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *