M Mujibuddin Alumnus Pascasarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Editor Arrahim.id

Sejarah Awal Terjemah Al Quran di Nusantara

2 min read

islami.co

Khazanah intelektual Islam di Nusantara sejatinya telah ada sejak abad Islam berkembang di Nusantara. Meskipun secara pasti kapan Islam masuk dan tersebar di tanah Sumatera tidak diketahui, namun artefak dan catatan para pelancong dari Eropa setidaknya memberitahu bahwa sejak abad ke 13 Islam telah berkembang di kota-kota dekat pelabuhan waktu itu.

Proses penyebarannya dapat dibaca melalui disertasi Azyumardi Azra yang memotret sejarah awal perkembangan Islam di Nusantara. Seiring berjalannya waktu, ilmu keislaman semakin berkembang pesat di tanah Nusantara. Meskipun dalam jumlah yang sedikit namun setidaknya hal ini menunjukkan adanya perkembangan dunia literasi keislaman di Nusantara. Salah satu yang terbukti adalah sejarah awal terjemah al-Quran di Nusantara.

Peter Riddel mengatakan bahwa perkembangan awal terjemah al-Qur’an dapat dilacak melalui karya Hamzah Fansuri. Dalam beberapa karyanya Hamzah Fansuri mengutip ayat-ayat al-Qur’an untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Namun karena Hamzah Fansuri dikenal sebagai mistikus cum sastrawan akhirnya terjemah tersebut tidak jauh dari bahasa-bahasa sastrawi nan mistik.

Pada akhirnya bagi orang awam pada saat itu sulit untuk memahami apa yang dimaksud dalam terjemahan Hamzah Fansuri tersebut. Dari kitab Hamzah yang berjudul Asrar al-Arifin (Rahasia Ilmu Mistik) dapat dilihat bagaimana diksi yang digunakan Hamzah dalam menerjemahkan Al-Qur’an. Karya ini ada sekitar pada abad 16 awal dan menjadi salah satu karya terjemah al-Qur’an pertama di Nusantara, meski hanya kutipan dan tidak utuh satu kitab terjemahan.

Meskipun kitab tersebut bukan terjemah al-Qur’an, namun di dalamnya dapat ditemukan beberapa terjemahan ayat al-Qur’an yang dikutip oleh Hamzah Fansuri. Misalnya dalam menerjemahkan Q.S. 17: 72 “ Barangsiapa tiada mengenal Allah di sini di akhirat pun tiada mengenal”, atau apat juga dilihat dari terjemahan Q.S. 42: 11 yang artinya “Tiada suatu pun (barang yang kita bicarakan dengan hati kita, atau dengan ma’rifat kita) sudah-sudah”.

Baca Juga  Sesat Pikir Aisha Weddings Berkedok Sunnah Nabi

Penyertaan kutipan dalam sebuah kitab Hamzah Fansuri ini nyatanya diikuti oleh Nur al Din Al Raniri. Meskipun beliau dianggap sebagai kritikus pemikiran Hamzah Fansuri, namun secara metode kepenulisan, Nur al Din mengikuti pola yang digunakan oleh Hamzah Fansuri. Kutipan tersebut dapat dilihat dari bukunya yang berjudul Bustan al-Salatin. Sementara kutipan al-Qur’annya mengambil Q.S. 51: 50 yang diartikan “Larilah kamu kepada Allah, bahwasanya aku bagimu menakuti yang amat nyata”.

Pada beberapa waktu kemudian baru muncul satu buku utuh tentang terjemahan al-Qur’an yang ditulis oleh murid Hamzah Fansuri yakni Abd al-Rauf dari Singkel (w.1693 M). Kitab itu berjudul Tarjamun al-Mustafid disusun sekitar 1675. Dalam kitab ini Abd al-Rauf menulis berdasarkan referensi kitab terjemah dan tafsir terdahulu seperti karya Jalalayn, al-Baydlawi, dan al-Khazin. Kemenag sendiri dalam pendahuluan terbitan pertama terjemahan al-Qur’an meletakkan kitab Tarjamun al-Mustafid sebagai karya awal terjemah di Nusantara.

Minimnya karya ulama Nusantara dulu tentang terjemahan al-Qur’an bukan berarti tradisi terjemahan pada saat itu tidak berkembang. Mengingat bahwa dalam catatan sejarah, Islam telah masuk di Nusantara tiga abad yang lalu, sebelum masa hidup Nur al Din al Raniri, dan telah tersebar ke wilayah Nusantara lainnya. Tradisi transmisi pengetahuan pada saat itu bukan pada media tulis-menulis namun melalui lisan dan hafalan.

Tradisi lisan memanfaatkan daya ingat untuk menghafal makna dari setiap arti al-Qur’an. Oleh karena itu, secara dokumentasi memang tidak bisa dikatakan terjemahan pada saat itu tidak berkembang karena minimnya buku yang dikarang oleh ulama dulu, namun kalau secara genealogis, terjemahan pada saat itu telah ada melalui jaringan ulama-santri dengan metode lisan dan hafalan.

Baca Juga  Energi Positif untuk Persaudaraan antar Umat Beragama di Indonesia

Dengan demikian, terjemah al-Qur’an awal tidak bisa dikatakan baru ada sejak ditemukannya manuskrip-manuskrip di atas. Terjemahan itu sejatinya telah ada namun dalam bentuk yang berbeda karena metode yang mafhum pada saat itu adalah menghafal dan lisan bukan tulis menulis.

M Mujibuddin Alumnus Pascasarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Editor Arrahim.id