Murdianto Dosen Tetap Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, Bidang Pendidikan PW ISNU Jawa Timur

Didi Kempot, Sobat Ambyar dan Seni Bertahan Hidup dalam Galau

2 min read

sumber: jateng.idntimes.com

Langit Mendung Kutha Ngawi kemarin ada dalam kenyataan. Lagu Dalang Poer ini rupanya mewakili suasana batin mereka yang hadir di Mejasem, Kendal, Ngawi. Duka mendalam juga dirasakan oleh pecinta Didi Kempot di seluruh Nusantara. Didik Prasetyo alias Didi Kempot, The Godfather of Brokenheart berpulang. Kabar meninggalnya Didi Kempot mengejutkan banyak orang, terutama para pecintanya. Kisah Didi Kempot terasa anti klimaks kemarin. Sakit mendadak membuatnya kollaps dan kemudian meninggal, pada Selasa (5/5) ketika matahari belum tinggi. 

Didi Kempot bukan hanya seorang pribadi atau musisi biasa. Ia mewakili sebuah gerakan kebudayaan untuk mengembalikan “kecintaan kepada budaya tradisional”, terutama budaya Jawa. Gerakan itu mengemuka melalui suatu genre musik bernama Campursari. Kreativitas Didi Kempot merentang luas dengan beragam corak dan tema. Mulai lagu bertema kocak dan ringan, seperti lagu Kuncung dan Sekonyong-Konyong Koder, hingga tembang bertema ambyar seperti Cidro, Banyu Langit, Kembang Tebu dan masih banyak lagi. Banyak pula lagu dengan tema religi seperti Islam Nusantara dan Mampir Ngombe. Sebagai musisi yang sangat produktif, Didi Kempot sudah menciptakan sekitar 700-800 tembang Campursari.

Lord Didi mewakili sebuah lapis sosial kelas bawah. Karyanya membumi. Kemampuannya meramu kreativitas dari ide-ide sederhana adalah kekuatannya. Ruang publik yang menjadi tempat favorit masyarakat kelas bawah, seperti terminal, nama jalan, stasiun, tempat wisata rakyat dipadukan dengan gerak emosi yang sejatinya bersifat universal. Tema lagunya membentang mulai dari cinta-tak-sampai hingga pengalaman dikhianati. Di situlah Didi Kempot menjadi figur pemersatu semua kelas, usia dan generasi: bersatu larut dalam suasana ambyar. Meskipun lagu Didi Kempot tidak melulu ambyar, rupanya pengalaman sedih dan menderita karena cinta-lah yang pada akhirnya menyatukan manusia lintas generasi, lintas kelas, lintas agama dan lintas budaya ini. Didi Kempot bangga “kaum akademis” dan “anak-anak muda pinter” bisa juga merima karyanya.

Baca Juga  Integrasi Ilmu: Agenda Yang Harus Terus Diperbincangkan

Bagi saya, Didi Kempot dan fenomena kaum ambyar bukanlah gejala budaya populer biasa, bukan budaya pop dengan ekspresi kebudayaan yang diproduksi secara instan dan disebarluaskan melalui platform media massa dan media digital. Ia adalah gerakan kebudayaan lokal, sebuah upaya “perlawanan kreatif” dari ekspresi lokal terhadap budaya mainstream yang makin homogen dan “bernuansa Barat”. Berkat kerja keras seorang Didi Kempot, banyak seniman yang mencoba menaikkan kembali budaya lokal mendapatkan apresiasi publik. 

 Fenomena Ambyariyyun dan Resiliensi

Kaum ambyar atau saya sebut Ambyariyyun adalah gejala sosial sekaligus gejala kejiwaan kolektif. Ambyar, yang bermakna kondisi berantakan, rupanya menjadi gejala kolektif kejiwaan yang memuat kepingan-kepingan yang terserak. Mulai kesedihan, kegalauan, harapan tak tercapai, rasa khawatir, benci tapi rindu, semua menyeruak menjadi satu. Uniknya, semua hadir tanpa rasa marah dan takut. Gejala kejiwaan ini muncul akibat pengalaman buruk dalam episode hidup, terutama berawal dari kegagalan ataupun pengkhianatan dalam suatu relasi sosial.

Di tangan Didi Kempot, kaum ambyar (Ambyariyyun) mendapatkan terapi kolektif melalui tembang Campursari. Kesedihan dan tangisan berubah menjadi jogetan. Sebuah upaya membalik emosi yang brilian hanya bisa dilakukan orang yang brilian. Emosi negatif berupa kesedihan dan kegalauan dapat terobati perlahan dan dengan instruksi sang Maestro bisa mendorong semangat baru secara perlahan.

Ini nampak dalam banyak quotes yang diambil dari ungkapan Didi Kempot dalam konsernya. Misalnya “opo wae sing dadi masalahmu, kuwat ora kuwat, kowe kudu kuwat. Tapi misale kowe wis ora kuat tenan, yo kudu kuat,kata Didi sebagaimana dikutip oleh NU Online. Terjemahnya kira-kira begini: “Apa saja yang jadi masalahmu, kuat tidak kuat, kamu tetap harus kuat. Tapi misalnya kamu sudah tak kuat beneran, ya tetap harus kuat.” Atau ungkapan lain, Tangismu ora bakal gawe dekne bali. Sing uwis ya uwis. Saiki ditata atine.” Maknanya sederhana: “tangismu tak akan menyelesaikan masalah. Yang sudah ya sudah. Saatnya menata hati.”

Baca Juga  Tentang Isu Kebangkitan PKI yang Selalu Muncul di Bulan September

Dari Didi Kempot kita belajar bahwa bermusik bukan hanya perjuangan karir pribadi, tapi juga gerakan kebudayaan dan pengabdian kemanusiaan. Pengabdian kemanusiaan itu tumbuh dari aktivitas mengelola emosi khalayak, agar lebih positif untuk terus menjalani hidup, terus berupaya tegar dan kuat dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Proses inilah yang disebut dengan resiliensi. Didi Kempot mengantar khalayak untuk bersama mencapai titik penting perbaikan kualitas hidup. The Godfather of Broken Heart seakan berseru pada kita semua:  Ayyuhal ambyariyyun, qum… (Wahai kaum ambyar, bangkitlah). Tak perlu terus bersedih, jalani hidup dengan penuh optimisme.    

Pada ranah ini, Lord Didi mengajari kita pentingnya kerja keras, kegigihan, kesetiaan pada nilai budaya sendiri, kesederhanaan, kreativitas dan kemanfaatan bagi orang lain. Pada Didi Kempot kita harus berterimakasih. Selamat jalan, Lord Didi. Terimakasih telah menemani hari-hari kami, generasi yang hidup dalam situasi sulit, ambyar, dan berantakan. Namun, kami tetap memiliki harapan dan optimisme untuk hari depan yang lebih baik. Karyamu abadi… (AS)

Murdianto
Murdianto Dosen Tetap Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, Bidang Pendidikan PW ISNU Jawa Timur

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.