Murdianto Dosen Tetap Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, Bidang Pendidikan PW ISNU Jawa Timur

Seruan Berdamai Dengan Covid-19, Kalah Atau Menang?

2 min read

Foto: https://www.dw.com/
Foto: https://www.dw.com/

‘Berdamai’ dengan Koronavirus-19. Pemilihan diksi ‘damai’ ini ramai menjadi diskusi. Lebih dari sepekan Presiden Jokowi sudah memberikan pernyataan penting. “Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid untuk beberapa waktu ke depan,” ungkap Presiden Jokowi  sebagaimana dilansir berbagai media nasional (7/5/2020). Seruan Presiden Jokowi tersebut tidak sendiri. Nadirsyah Hosen, tokoh agama yang juga seorang dosen di Monash University Australia juga menyampaikan sebuah pesan yang sama melalaui artikel bertajuk “Puasa dan Hidup Damai bersama Corona” (3/5) yang terbit di media nasional dan viral di medsos.

Pilihan kata ‘berdamai’ ini mengundang pertanyaan. Sebab sebelumnya, diksi yang sering digunakan banyak kalangan dalam menghadapi Pandemi Covid-19 ini adalah “perang” dan “lawan” yang lebih berkesan aktif. Misalnya,  “Lawan Corona!”, “Fight Again Covid 19”, “Perang Lawan Covid-19” dan slogan lain yang terdengar heroik. Seakan ada musuh yang mengancam, atau sesuatu yang kehadirannya amat dibenci. Seperti penjajah yang hendak menguasai bumi. Lalu tiba-tiba seruan aktif itu bergeser menjadi pasif dan kuran bertaji. “Mari berdamai”, atar “mari beradaptasi”. Padahal jika situasi pandemi ini dianggap perang, ia baru saja dimulai. Belum tiga bulan.

Lalu mengapa ajakan untuk ‘berdamai dan hidup berdampingan dengan Covid 19’ menjadi pilihan? Apakah ini sebuah taktik untuk memukul balik? Ataukah memang tanda kelelahan? Sebab korban masih saja berjatuhan. Sudah ratusan ribu orang kehilangan nyawa. Jutaan orang di banyak negara harus kehilangan pekerjaan. Ekonomi tumbang, perlahan roboh bak kartu domino berjajar dihempas sentuhan tangan. Kali ini yang kita hadapi tak kasat mata, bahkan dengan mikroskop biasa, tak ada yang bisa melihatnya. Perang yang berat.

Baca Juga  Lebaran Tanpa Mudik

Manusia baru mengenal sebagian kecil rahasia Covid-19. Para ahli menulis, Covid 19 menular melalui droplet, cipratan sepersekian nanometer melalu kontak fisik jarak dekat antar manusia. Melalui interaksi jarak dekat, makhluk renik ini bisa saja berpindah dari orang ke orang. Inang virus di benda-benda juga bisa menjadi penyebab, apabila ada kontak dengan manusia. Maka muncullah seruan perang yang aneh: “Jaga jarak fisik, jaga kebersihan, hindari kerumunan, sering cuci tangan, dan jangan lupa pakai masker. Seruan perang yang terkesan amat defensif. Tak terasa heroik sama sekali. Sebuah gerak sembunyi, dan mundur perlahan.

Tsun Tzu, Pilih Perang atau Damai

Pilihan perang atau damai menghadapi Covid-19 bukan hanya soal diksi. Namun, di dalamnya menyangkut strategi. Jika memilih perang, maka strategi perang ala Tsun Tzu bisa menjadi pertimbangan. Ahli strategi perang China abad ke 6 SM ini menulis dalam The Art of War, siapa yang memahami dirinya sendiri dan lawan, akan menang dalam setiap pertempuran, siapa yang hanya memahami dirinya sendiri dan tidak paham keadaan lawan, kemungkinan menang tinggal separuh, Siapa yang tidak memahami keadaan lawan dan dirinya sendiri, pasti akan kalah dalam setiap pertempuran.

Pesan Tsun Tzu di atas relevan dengan kondisi saat ini. Pengetahuan tentang diri sendiri dan lawan adalah kunci dalam mengakhiri segenap bentuk peperangan. Kemunculan Covid-19 secara tiba-tiba membuat pengetahuan kita tentangnya amat terbatas. Para ahli dari berbagai negara masih terus melakukan riset tentang berbagai aspek terkait Covid 19 ini. Mulai soal pola penularan, vaksin,  obat, dan seluk-beluk tentangnya. Ini menunjukkan bahwa kita belum mengenal lawan dengan jelas dan pasti.

Baca Juga  Genesis Spiritualisme di Bawah Bayang-bayang Media

Sementara pengetahuan tentang kekuatan diri kita pun masih samar. Berapa kekuatan anggaran yang kita punya? Berapa rumah sakit,  tenaga medis, dan alat kesehatan pendukung yang siap sedia? Serta bagaimana ketahanan ekonomi dan pangan kita? Semua masih sebatas prediksi. Belum lagi data riil warga terdampak. Berapa jumlah pekerja yang sudah kehilangan pekerjaan? Berapa peningkatan keluarga miskin selama pandemi? Semua data itu pun masih menjadi perdebatan. Dengan demikian pengetahuan kita tentang diri sendiri, tak lebih banyak dari pemahaman kita terhadap Covid-19.

Oleh karenanya, strategi yang kita pilih adalah bertahan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pengalihan aggaran belanja negara untuk penanganan pandemi menjadi pilihan rasional. Strategi kesebelas Tsun Tzu menyebutkan, “Pohon prem berkorban untuk pohon persik, ada suatu keadaan di mana anda harus mengorbankan tujuan jangka pendek untuk mendapatkan tujuan jangka panjang. Ada saatnya anda mengorbankan perak, untuk mempertahankan emas”. Strategi defensif ini yang banyak diambil oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

Kemungkinan alasan di atas yang mendorong seruan “berdamai” dengan Covid-19. Upaya mundur sejenak. Berharap kerugian ekonomi tak makin mengimpit, sambil memikirkan cara menjinakkan Covid-19. Tetapi upaya damai ini bukan tanpa risiko. Kedisiplinan seluruh warga negara untuk patuh dan taat terhadap protokol kesehatan adalah kunci. Pakai masker, jauhi kerumunan, jaga jarak, cuci tangan, cegah penggunaan transportasi publik, dan seterusnya harus tetap dijalankan.

Jika disiplin protokol kesehatan tidak terjadi, kemungkinan besar strategi “berdamai bersama Covid” bakal mengarah pada situasi yang lebih tak terkendali. Semoga tidak. [FM]

Murdianto Dosen Tetap Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, Bidang Pendidikan PW ISNU Jawa Timur

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *