Murdianto Dosen Tetap Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, Bidang Pendidikan PW ISNU Jawa Timur

Wahing Diantemi: Revolusi Nilai Ditengah Pandemi

2 min read

Pandemi Covid-19 perlahan mengubah kehidupan. Kehidupan pribadi dan kehidupan sosial kita berubah. Cara kita membangun relasi dengan Tuhan menjadi makin mempribadi. Kehidupan sosial perlahan juga berganti corak. Sudah jamak pada hari biasa, kita jalani shalat jamaah di masjid. Kita ibadah di rumah lebih utama, demikian kata sebagian pemimpin agama. Apalagi corak keislaman di Nusantara sebelumnya penuh nuansa kumpul-kumpul. Mulai dari shalawatan, yasinan, tahlilan, manaqiban, aktivitas ziarah kubur serasa lebih afdhal dilakukan secara bersama. Seruan stay at home membuat kita lebih banyak menghabiskan hari-hari kita di rumah. Seruan physical distancing membuat hubungan fisik kita makin berjarak. Tradisi kumpul-kumpul yang kini menjadi tak relevan.

Bahkan sikap toleran dan tepa slira bahkan mulai terkebiri. Spanduk dengan bahasa tak sedap dipandang mata bertebaran dibanyak sudut. Bahkan ada yang cenderung menghakimi dan memberi stigma. Spanduk ukuran sedang terpampang disisi jalan. Terpampang dengan jelas tulisannya “Wahing Diantemi”. Terjemahnya “(jika) bersin, (akan) dipukuli”. Ada spanduk bunyi yang lain. “Watuk 1x dipliriki, watuk 2x dibengoki, watuk 3x diantemi”. Artinya hampir senada. Jika “batuk” akan mendapat pelajaran setimpal. Bisa dilirik hingga dipukuli. Spanduk sejenis muncul diberbagai belahan nusantara dengan beragam redaksi. Kalimatnya dari yang kreatif, hingga kalimat sarkas, bahkan mengandung unsur intimidasi.

Beragam kalimat itu muncul dari situasi ‘galau’ dan ‘situasi tak nyaman’, baik dalam kehidupan pribadi atau sosial. Jika kita setarakan dengan definisi konflik, maka situasi ini telah mengarah pada konflik. Konflik merupakan ‘kondisi tak nyaman dalam hubungan antar-individu maupun antar-kelompok’. Bisa tersimpan dalam sekam (laten) yang tak nampak, tapi siap meledak (manifest). Tinggal menunggu pemicunya menyala. Letupannya sudah ada. Yang sudah nyata adalah penolakan pemakaman jenazah (yang diduga) penderita Covid-19. Depok, Banyumas, Semarang hingga di Gowa. Kesalahpahaman saat melintas wilayah tertentu juga terjadi. Baru saja viral video yang di-upload Ansor Sulawesi Tengah (15/4/2020). Seorang pemuda pedagang bahan makanan dipukuli Satpol PP, barangkali karena kesalahpahaman.

Baca Juga  Antara Konsep dan Realitas: Refleksi tentang Moderasi Beragama di Lingkungan Kampus

Semua berawal dari rasa takut. Rasa ini biasa berdampingan dengan rasa marah (anger) dan pikiran curiga. Ketiganya berpasangan. Saat sekelompok orang merasa takut, dia dihantui kecurigaan akan ancaman. Dan akhirnya mengekspresikan rasa marahnya pada obyek tertentu. Obyek ini dianggap sebagai sumber ‘bencana’ atau ‘ancaman’ yang ditakutkan itu. Sayangnya, sumber ancaman dan bencana ini adalah sesama ‘manusia’. Inang dari zat renik tak kasat mata bernama Virus Corona baru. Manusia dengan atribut perilaku tertentu dianggap sumber bencana. Mereka yang sedang menderita batuk, tak sengaja bersin hingga yang tak memiliki masker, bisa dianggap ancaman sosial. Situasinya makin rumit ketika masyarakat mendapat informasi yang tak utuh. Lantas meledaklah emosi, rasa takut, penuh curiga dalam bentuk tindakan kolektif. Kerumunan manusia yang terlarang selama Pandemi Covid-19, justru sangat mudah muncul karena pemicu yang sama. Yakni kesamaan rasa. Rasa takut, marah dan pikiran curiga.

Saat sekelompok orang berteriak-teriak menolak pemakaman jenazah. Mereka sedang takut, marah dan curiga sekaligus. Jika sekelompok orang mengalami ‘rasa takut, marah dan curiga’ secara bersama, apakah hasilnya? Bencana sosial lebih akut akan terhampar di depan mata. Lebih jauh dari hilangnya satu dua hingga puluhan nyawa akibat Pandemi Covid-19. Tapi lebih dari itu akan terjadi chaos yang bisa jadi menambah deret luka hingga berpuluh tahun setelahnya.

Tapi, masihkah kekayaan tradisi yang dapat kita jaga untuk menjaga keseimbangan dalam situasi rumit ini ini? Kita masih optimis. Barangkali inilah masa transisi itu. Inilah cara yang harus ditempuh untuk menghasilkan ‘standar kebaikan’ yang baru. Sebuah ‘revolusi sosial’ dengan aktor non-manusia sedang dijalankan. Barangkali masyarakat dipaksa melahirkan bentuk kebaikan, dengan warna lebih baru. Kita yang selama ini cenderung permisif, akan menjadi lebih tegas (asertif). Nilai-nilai baru ini akan tumbuh perlahan bersama dengan pandemi Covid-19. Pandemi akan berakhir, dan tradisi baru akan perlahan hadir. Bukan tradisi baru yang penuh kebencian, seperti pada kalimat Wahing Diantemi”. [MZ]

Murdianto Dosen Tetap Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, Bidang Pendidikan PW ISNU Jawa Timur

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *