Makhfud Syawaludin Dosen ITSNU Pasuruan

Andai Mereka Lebih Mengenal Dorce Gamalama

1 min read

Sewaktu mengetahui bahwa Dorce Gamalama sebelumnya adalah seorang laki-laki yang bernama Dedi Yuliardi Ashadi, terbesit sebuah pernyataan. Bahwa Ia telah mengubah jenis kelaminnya. Hal itu menjadi tanpa perdebatan bagi saya ketika Gus Dur mendukung apa yang menjadi keputusan Dorce itu. Artinya, dari sisi agama Islam, itu bisa dilakukan. Hilang sudah istilah kontroversi.

Kemudian ketika Dorce menjelang wafat, ramai diperbincangkan cara merawat jenazahnya. Sebagai laki-laki atau sebagai perempuan? Lebih-lebih beredar percakapan di dunia digital yang disebut-sebut sebagai wasiat Dorce yang meminta agar jenazahnya diurus sebagai Perempuan.

Hingga tiba waktunya, Dorce Gamalama, artis transgender dan sahabat Gus Dur itu berpulang pada Rabu (16/02/2022). Innalillahi wa inna Illahi rajiun. Saya sebut ‘Sahabat Gus Dur’ karena beberapa kali bertemu, berdiskusi, dan berkegiatan dengan Gus Dur. Dalam hal ini, saya secara pribadi merasa iri dengan Dorce.

Bagi masyarakat dengan perspektif keagamaan konservatif hal itu tentu dapat mengundang polemik hingga kontroversi. Sebagaimana perbincangan beberapa orang di desa saya, Kamis (17/02/2022).

Berawal saat mengantarkan jenazah tetangga ke makam yang tiba-tiba hujan. Akhirnya saya dan beberapa orang berteduh di tempat penyimpanan keranda. Dengan nada sombong mereka pun membicarakan (Baca: Menggunjing) Dorce. “Aneh-aneh saja. Laki-laki minta diurus secara perempuan. Bikin Malaikat bingung saja,” ujar salah satu pria diikuti tawa lainnya.

Saya hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Betapa kejamnya pemahaman ajaran Islam semacam itu. Sikap itu disebut memanusiakan manusia dalam batas agama. Sebuah sikap kemanusiaan bagi orang dengan perspektif keagamaan eksklusif. Sehingga sikap kemanusiaannya tergantung perspektif keagamaannya. (Makhfud Syawaludin, 2020).

Saya tentu sadar, bahwa orang-orang kebanyakan, termasuk tetangga saya itu, tidak semuanya bisa dan berkesempatan membaca dan memahami bagaimana perkembangan ilmu Islam tentang transgender. Bahwa dalam kasus Dorce, Islam memperbolehkan misalnya pengurusan jenazahnya secara perempuan. Sebagaimana disampaikan oleh Ustadz Muiz Ghazali, seorang Pensyarah Agama dari Institut Studi Islam Fahmina.

Baca Juga  Filosofi Kembang Telon: Mawar, Kenanga, dan Kantil

Bahkan tanpa tahu tentang ilmu itu pun, sebagai sesama manusia, tentu hati nurani kita mengajak menghormati orang yang telah meninggal. Hanya saja, nafsu seringkali mengalahkan hati nurani itu dengan cara yang sangat halus dan berbau agama.

Andai saja orang-orang itu tahu tentang Dorce yang menjadi pemrakarsa pembangunan Masjid Al-Hayyu 63 di Jalan Rawa Binong, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Lalu mendirikan yayasan bernama Dorce Halimatussa’diyah yang menyantuni banyak anak yatim piatu hingga berjumlah 1.600.

Andai orang-orang itu tahu itu, bisa saja tidak akan mengubah sikapnya terhadap Dorce. Andai itu mengubah sikap mereka, itu tidak dibutuhkan oleh Dorce. Ia telah tenang menghadap Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, dengan segala amal dan perjuangannya selama hidup. Alfatihah. (MMSM)

Makhfud Syawaludin Dosen ITSNU Pasuruan