



Dalam dunia pendidikan, peran guru menjadi elemen yang tidak bisa dihilangkan dan digantikan oleh siapapun, termasuk oleh kecanggihan teknologi. Seperti yang kita ketahui, saat ini, kita sedang berlomba dengan kecepatan perkembangan kecanggihan teknologi digital. Banyak yang memprediksi bahwa lambat laun peran guru akan bisa tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Namun, saya kira itu akan sulit (untuk tidak mengatakan mustahil).
Guru memiliki peran yang sangat sentral dan esensial. Tidak hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran, guru memiliki dimensi ruhaniah yang sangat berpengaruh kepada keberhasilan pembelajaran. Dalam dunia pendidikan Islam —khususnya dalam tradisi pesantren— sangat tidak asing dengan istilah “Barokah” atau berkah.
Barokah itu bukan tentang pencapaian mistis. Juga bukan tentang pencapaian spritual yang kering tanpa usaha. Secara istilah, barokah atau berkah itu berasal dari bahasa Arab (البركة) yang berarti زيادة الخير (bertambahnya kebaikan). Dalam koteks pendidikan, Barokah berarti karunia yang diberikan Allah atas pencapaian transfer of value (mentrasfer nilai dan makna) dari seorang guru kepada murid. Proses transfer itu mengharuskan adanya kesiapan antara yang mentransfer dan yang ditransfer.
Agar proses ini berhasil, Baik yang mentransfer (guru) ataupun yang ditransfer (murid) haruslah siap secara jiwa dan raga, jasmani dan ruhaniyah. Murid tidak cukup hanya raganya saja yang hadir di ruang pembelajaran tanpa menghadirkan ruhaniahnya. Demikian pula guru, Sebagus apapun metode pembelajarannya, apabila guru tidak dapat menghadirkan dimensi ruhaniahnya di ruang pembelajaran, maka keberlangsungan pembelajaran hanya akan sebatas transfer of knowledge (transfer pengetahuan dan informasi) saja, belum sampai pada level transfer of value.
Ini sesuai dengan ungkapan dalam bahasa arab yang populer
الطريقة أهم من المادة، والمدرس أهم من الطريقة، وروح المدرس أهم من المدرس
“Metode pembelajaran itu lebih penting dari pelajaran itu sendiri. Sedangkan kehadiran guru lebih penting dari metode pembelajarannya. Akan tetapi, kehadiran “ruh” nya guru itu lebih penting dari guru itu sendiri.
Ini menunjukkan betapa sebagus-bagusnya mata pelajaran, sebagus-bagusnya metode pembelajaran dan kurikulumnya, tidak akan berarti apa-apa tanpa kehadiran guru. Dan kehadiran guru tidak bermakna apa-apa jika “ruh” guru tidak ikut serta hadir.
Di sisi lain, kecanggihan teknologi terus berkembang, semua aspek pengetahuan bisa kita dapatkan dari kecanggihan teknologi. Kemudahan dan berbagai pilihan sumber belajar sudah sangat banyak. Dari sisi pengetahuan, bisa saja teknologi lebih lebih pintar dari manusia. Smartphone bisa menjadi lebih smart dibanding penggunanya.
Akan tetapi teknologi hanya sebatas memberi pengetahuan atau bahkan hanya informasi saja. Dari segi value keilmuan, teknologi belum bisa menggantikan peran guru. Untuk itu, kita harus merubah persepsi kita terhadap teknologi. Teknologi bukan sumber utama belajar, teknologi hanya benda mati yang bisa membantu kita untuk mencari ilmu lebih mudah, melakukan ibadah lebih mudah, dan berbuat kebaikan lebih mudah.
Memang kita sangat terbantu dengan kehadiran teknologi di zaman modern seperti ini. Akan tetapi akan menjadi keliru jika dalam proses pembelajaran, kita hanya mempreferensikan teknologi tanpa melibatkan guru. Bahkan hingga berpendapat bahwa peran guru akan tergantikan oleh teknologi.
Sebagai murid, teknologi memang sangat membantu untuk mencari informasi dan tambahan pengetahuan. Akan tetapi, di dunia teknologi digital seperti ini semua hal bisa disajikan, tidak hanya hal positif, tetapi juga hal negatif. Ini yang akhirnya membuat teknologi digital tidak akan bisa mentransfer value kepada penggunanya. Untuk itu, kehadiran ruh guru menjadi elemen yang paling bisa mentransfer value kepada murid.
Ingat “ruh” guru!, bukan hanya raganya. Raga atau jasmani guru bisa tergantikan teknologi, tapi ruh-nya tidak.
Namun meskipun begitu, teknologi juga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Guru harus bisa beradaptasi dengan kecanggihan teknologi digital. Untuk itu, guru harus senantiasa upgrade skill, tidak berhenti belajar, dan terus berkreasi dan berinovasi.
Guru yang berhenti belajar untuk berkreasi dan berinovasi akan dengan mudah tergantikan oleh teknologi. Mungkin fisik gurunya ada, tapi kebermaknaan itu sedikit demi sedikit menjadi tiada. Siswa lebih percaya dan nyaman bertanya kepada chat GPT dari pada bertanya kepada gurunya sendiri. Siswa lebih nyaman untuk belajar lewat YouTube atau TikTok dari pada mendengarkan gurunya yang membosankan.
Ini bukan berarti kita sebagai guru hanya ikut-ikutan arus zaman (FOMO). Ini dalam rangka mengikuti arus zaman tetapi dengan prinsip. Orang yang berhenti atau bahkan melawan arus gelombang air besar, pasti akan tenggelam. Maka cara kita adalah menyiapkan kapal atau perahu untuk menaklukannya, yaitu dengan terus belajar, meningkatkan kualitas dan kreatifitas. Di antaranya dengan mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Jangan sampai sekolah hanya menjadi ruang formalitas yang membosankan. Siswa disuruh berangkat, duduk di kelas, mendengarkan, pulang. Guru harus mampu mereposisi sekolah dan kelas sebagai tempat yang bermakna, yang tidak hanya sebagai tempat transfer of knlowledge, akan tetapi juga sebagai ruang transfer of value.
Dan ingat, setiap bangun tidur kita selalu disuguhkan oleh perkembangan teknologi yang baru. Sedangkan kita, sebagai guru, jangan sampai tertidur pulas di tengah gegap gempitanya teknologi.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta