Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Masih Adakah Nilai Rahmat dalam Masyarakat Kita?

2 min read

Salah satu alasan mengapa Nabi Muhammad Saw. diangkat sebagai seorang Rasul tidak lain adalah sebagai figur yang merahmati seluruh alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Begitulah yang tertuang dalam surah al-Anbiya [21] ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

“Kami tidak mengutusmu kecuali rahmat bagi semesta alam”.

Islam yang bermakna “kedamaian” hadir dengan cara selalu menebar rahmat untuk seluruh alam, bukan hanya kepada sesama muslim. Rahmatan lil ‘alamin bukan hanya merahmati orang Islam (rahmatan lil muslimin) saja.

Rahmat atau kasih sayang harus ditebarkan untuk semesta alam karena rahmat adalah manifestasi agung dari sifat al-Rahman dan al-Rahim Allah Swt. Sebagai hamba, sepenuhnya kita harus menyadari dan meyakini bahwa rahmat Allah adalah yang paling agung. Tak terjangkau apalagi tertandingi. Sekian banyak hal telah membuktikan bahwa Allah adalah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang.

Tidak pernah membebani hamba-Nya di luar kemampuannya adalah salah satu bukti di antara sifat belas kasih Allah kepada kita. Bagaimana kita bisa menghirup oksigen dengan gratis kendati seringkali kita melanggar aturan-Nya. Juga bagaimana kita masih diberi jaminan rezeki meskipun seringkali kita meninggalkan kewajiban-Nya. Sekian banyak tuntutan yang kemudian diubah karena memberatkan hamba-Nya. Semua itu Adalah sekian bukti kasih sayang-Nya kepada kita.

Bahkan, dalam keadaan yang menurut kita adalah suatu “keburukan” sekalipun, sebenarnya ada kasih sayang Allah di dalamnya Kita seringkali gagal memahami betapa rahmat Allah sangat luas dan tak terjangkau oleh kita. Kegagalan yang seringkali kita alami mungkin saja sangat menyakitkan bagi kita, tapi mungkin itu adalah cara Allah untuk mengantarkan kita kepada jalan kesuksesan yang jauh lebih besar. Dalam hal ini, husnuzan akan rahmat-Nya adalah hal yang harus senantiasa kita lakukan.

Baca Juga  Mempersiapkan Kehidupan setelah Mati: Sebuah Refleksi Hidup

Pula Nabi Muhammad yang diutus di muka bumi, juga telah memberikan teladan kepada kita. Beliau mengajarkan kita betapa Islam akan mudah disebarkan melalui sentuhan kasih sayang. Sifat kasih sayang Rasulullah kepada sekalian alam selalu terpancar darinya. Sebagai contoh sifat belas kasihnya adalah Nabi yang dengan belas kasihnya mau menyuapi seorang yang buta. Padahal orang tersebut sangat membenci Nabi. Dan ini lah yang membuat ia akhirnya masuk Islam setelah tahu bahwa orang yang selalu menyuapinya adalah Rasulullah yang ia benci kala itu.

Sebagai umat Islam, kita harus selalu menghayati nilai-nilai kasih sayang Allah juga Rasul-Nya. Yaitu kasih sayang yang tidak terbatas hanya kepada satu golongan etnis tertentu saja, tidak juga hanya kepada satu agama saja. Apalagi terbatas hanya kepada sesama anggota partai saja. Nilai kasih sayang harus senantiasa kita tebarkan kepada semua manusia bahkan kepada semua mahkluk.

Dalam hal ini, Nabi bahkan pernah mengaitkan antara iman dan sifat belas kasih harus berjalan seiringan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrany dan al-Baihaqi misalnya, beliau berdabda:

لَنْ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَرْحَمُوْا. قَالُوْا: كُلُّنَا رَحِيْمٌ يا رَسُوْلَ الله، قَالَ: إنه لَيْسَ بِرَحْمَة أَحَدِكُمْ صَاحِبَهُ، وَلَكِنَّها رَحْمَةُ النَّاسِ، رَحْمَةُ العَامَّةِ

“Kalian tidak beriman sampai kalian saling mengasihi”. Kemudian para sahabat Nabi berkata “kami semua pengasih, wahai Rasulullah”, kemudian Nabi bersabda “Tidaklah rahmat itu hanya kepada sahabat, tetapi rahmat kepada semua manusia, dan rahmat yang menyeluruh”.

Hadis ini menjadi dalil bahwa ada kaitan erat antara iman dan sifat rahmat atau belas kasih. Rahmat hanya disandang bagi dia yang beriman. Dan Rahmat adalah implementasi dari iman kita kepada Allah Swt.

Baca Juga  Khotbah Kang Chairil: Hikmah dan Keutamaan Niat Baik

Nilai-nilai inilah yang akhir-akhir ini mulai redup. Bahkan jika ada pertanyaan, masih adakah nilai rahmat dalam masyarakat kita?

Mungkin jawaban yang bisa kita rasakan adalah “tidak ada”. Kita merasakan perseteruan terjadi dimana-mana. Tidak hanya peserteruan antar negara saja, sesama anggota negara dan agama pun mereka saling berseteru, saling menyakiti bahkan saling membunuh.

Nilai rahmat yang seharusnya tertanam dalam setiap manusia beriman pun akhirnya luntur. Agama “Islam” masih ada, namun nilai yang harusnya ada di dalamnya sudah mulai pudar.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pudarnya nilai kasih sayang dalam masyarakat kita. Khususnya masyarakat muslim kita. Diantaranya adalah umat Islam yang hanya memerhatikan ibadah ritual saja.

Banyak masyarakat Muslim kita yang gagal memaknai hakikat ibadah. Mereka mengira bahwa ibadah adalah hanya tentang salat, puasa, haji dan ibadah ritual yang lainnya. Bahkan dalam melaksankannya seringkali saling menjegal dan menyalahkan satu dengan yang lainnya.

Mereka merasa bahwa ibadah merekalah yang paling benar. Mengira bahwa mereka adalah yang paling dekat dengan Allah. Seakan tidak boleh ada yang lebih dekat dengan Allah selain mereka. Seolah kunci surga telah dipegang oleh mereka.

Keegoisan beragama inilah yang justru menghambat bahkan melunturkan nilai kasih sayang kepada sesama. Saling menjatuhkan dengan motif berlomba dalam beribadah itu tidak pernah benarkan.

Mereka gagal memahami bahwa ibadah yang berwujud ritual harusnya tertuangkan dengan ibadah sosial kita. Salat, puasa, haji dan ibadah-ibadah yang lainnya harus tercerminkan dengan sifat belas kasih kita kepada sesama. Inilah yang akhirnya membuat nilai kasih sayang dapat tercurahkan sehingga kedamaian akan tercipta.

Bukankah sesuatu yang tumpah dari wadahnya adalah isinya? Begitulah seharusnya nilai Islam harus tertumpahkan dengan kedamaian dan kasih sayang kepada semesta alam. Hal ini tak lain karena “isi” dari wadah yang bernama “Islam” adalah kedamaian dan kasih sayang. [MZ]

Baca Juga  Sarung Sang Guru (3)
Muhammad Sya’dullah Fauzi
Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta