M. Thoriqul Huda Forum Pemuda Lintas Agama Jatim/Dosen Studi Agama-Agama IAIN Kediri

Covid-19, Sobat Ambyar, dan Kesalehan Sosial

2 min read

Pada hari Sabtu 11/4/2020, saya melihat tayangan konser amal dari rumah yang diselenggarakan oleh Kompas TV bekerja sama dengan musisi kenamaan Didi Kempot (God Father). Lagu-lagu hits yang menjadi trending di jajaran musik Indonesia buah karya Didi Kempot satu persatu mulai dilantunkan, mulai lagu Kangen Bojo, Suket Teki, Cidro, Laying Kangen, hingga Stasiun Balapan. Sobat Ambyar—julukan penggemar Didi Kempot—di rumah mulai menikmati alunan musik khas Didi Kempot. Tidak lupa pemandu acara Rosiana Silalahi mengingatkan kepada Sobat Ambyar yang ada di rumah untuk berdonasi seikhlasnya guna membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak Covid-19. Betapa terkejutnya saya melihat total donasi dalam 2 jam konser yang mencapai 4 milliar lebih. Dana itu terkumpul dari puluhan ribu donatur dari ragam kalangan. Di akhir acara tak lupa Didi Kempot mengucap terima kasih kepada semua pemirsa yang sudah mendonasikan sebagian rezekinya dalam konser amal dari rumah ini.

Kepedulian terhadap pandemik Covid-19 ini tidak hanya dari Sobat Ambyar saja. Pejabat daerah juga mulai menyumbang gajinya untuk membantu meringankan beban masyarakat terdampak Covid-19, sebut saja Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang memberikan gajinya sampai akhir masa jabatan untuk penanganan Covid-19. Langkah yang sama dilakukan oleh Wakil Bupati Cilacap, Syamsul Aulia Rachman yang menyumbangkan gajinya selama 2,5 tahun. Terbaru Walikota Bogor, Bima Arya yang turut serta menyumbangkan gajinya untuk warga yang ekonomi dan kondisi sosialnya memprihatinkan.

Pandemik Covid-19 telah mengetuk hati masyarakat Indonesia dari beragam golongan untuk saling menguatkan, saling memberikan semangat untuk melawan pandemik, serta saling mengulurkan tangan untuk membantu saudara kita terdampak Covid-19. Solidaritas bersama diperlukan untuk mengatasi bencana nasional berupa Covid-19, semangat gotong royong yang menjadi nafas kehidupan bermasyarakat mulai kembali muncul, sekalipun masih ada persoalan kecil dari masyarakat yang menolak jenazah Covid-19, akan tetapi hal ini sudah mulai diluruskan dan diberikan pemahaman kepada masyarakat luas dari segi protokol kesehatan penanganan jenazah.

Baca Juga  Swafoto dan Jebakan Ego Narsistik

Emile Durkheim (1858) menyebutkan bahwa solidaritas yang tercipta di masyarakat didasarkan pada adanya perasaan moral yang sama. Dalam konteks menangani wabah ini, masyarakat Indonesia telah bersatu, bahu-membahu untuk bersama melawan wabah dengan mendonasikan sebagian yang dimilikinya. Masyarakat menyadari betul bahwa pandemik Covid-19 yang sedang dirasakan bersama berdampak menyeluruh terhadap semua sector sosial, budaya, ekonomi, dan seluruh dimensi kehidupan.

Dalam Islam, gotong royong dan saling bantu-membantu merupakan suatu kelaziman. Islam mengajarkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Daruqtni bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia”. Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjadi pribadi yang bermanfaat adalah karakter seorang Muslim yang baik.

Dalam hadis lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda; “Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih). Hadis ini dengan jelas memberikan jaminan kepada kita bahwa Allah akan membantu orang yang mau membantu keperluan saudaranya, tentu jika Allah sudah menjamin maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi bagi kita yang telah membantu saudara-saudara kita.

Dalam kondisi pandemik Covid-19 ini, saya melihat solidaritas masyarakat dalam mengatasi dampak Covid-19 semakin kuat. Kesalehan sosial masyarakat semakin meninggi. Dalam perspektif sosiologi, hal ini merupakan kesadaran moral sesama warga Indonesia untuk saling meringankan beban dalam mengatasi Covid-19. Adapun dalam pandangan teologis, muncul dan masifnya kesalehan sosial masyarakat dalam menghadapi dampak Covid-19 ini merupakan perintah agama agar saling meringankan dalam membantu saudara kita yang sedang terdampak Covid-19.

Dalam akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa sejatinya persoalan Covid-19 ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Wabah ini adalah persoalan bangsa yang perlu dihadapi bersama-sama. Dampak wabah ini memerlukan uluran tangan bersama untuk membantu saudara kita yang terdampak. Kesalehan sosial dalam beragama menjadi prioritas dalam melihat saudara kita yang berjatuhan melawan Covid-19. [MZ]

M. Thoriqul Huda Forum Pemuda Lintas Agama Jatim/Dosen Studi Agama-Agama IAIN Kediri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *