Mualim Mengajar di MTs. NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus

Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Karl Von Smith dan Dakwah Islam (1)

2 min read

tebuirengonline

“Kalau bukan karena hubungannya dengan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, saya tidak akan mendapatkan taufiq untuk memeluk agama Islam,” (Karl Von Smith).

 

Karl Von Smith lahir di kota Hanover, Jerman, tahun 1902. Ia menempuh pendidikan sekolah dasar di sana. Karena pekerjaan orangtunya, ia pindah dan menetap di kota Delf, Belanda.

Ia masuk di fakultas Teknik Pembangunan Universitas Leiden. Ia lulus tahun  1925 dengan predikat baik sekali. Setelah itu, ia diterima bekerja di Kementerian Dalam Negeri Belanda. Kemudian, ia bergabung dengan perusahaan “Nedam,” perusahaan konstruksi yang terkenal milik pemerintah Belanda. Di perusahaan ini ia meniti karirnya. Kemampuan kerja yang baik membuatnya menjadi arsitek terkenal.

Tahun 1929 ia dikirim ke Indonesia. Ia bertugas menangani proyek-proyek pembangunan di Indonesia. Waktu itu Indonesia belum merdeka. Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah Belanda. Tentu, Bangsa Indonesia sedang berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajahan dan penindasan.

Di Indonesia Karl Von Smith berpindah-pindah tempat menyesuaikan dengan proyek pembangunan. Namun, pada akhirnya ia menetap di kota Surabaya, tempat para ulama mendeklarasikan organisasi Nahdlatul Ulama. Di kota ini ia menangani suatu proyek pembangunan.

Nah, di Surabaya inilah awal kisah yang menuntun ia tertarik dengan Islam. Ketertarikan dengan Islam melangkahkan kakinya untuk bertemu dengan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim), pendiri pondok pesantren Tebuireng dan juga Rais Akbar Nahdlatul Ulama.

Ceritanya bermula ketika ia sedang mengawasi pelaksanaan kerja bangunan. Ia memperhatikan beberapa pekerja bangunan ketika waktu istirahat pada siang hari. Dimana beberapa pekerja menggunakan waktu istirahat untuk pergi mencuci muka dan tangan mereka alias berwudhu. Kemudian mereka mengerjakan shalat. Sudah tentu shalat yang mereka lakukan adalah shalat dhuhur.

Baca Juga  Covid-19 dan Budaya Ketakutan Kita

Bagi Ir. Karl pemandangan beberapa pekerja mencuci muka, tangan, dan kemudian shalat merupakan pemandangan yang asing dan aneh.  Pemandangan ini menarik perhatiannya dan juga membangkitkan keingintahuannya. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia perhatikan perilaku beberapa pekerja tersebut. Ia merasa penasaran: sebenarnya apa yang mereka kerjakan.

Pada akhirnya rasa penasaran mendorongnya untuk menanyakan kepada para pekerja tentang bersuci dan shalat. Apa yang sebenarnya mereka lakukan dan ucapkan itu. Tentu pertanyaan-pertanyaan Karl Von Smith sangat kritis dan bersifat filosofis. Sehingga beberapa pekerja yang awam sudah barang tentu mereka kesulitan menjawab dan menjelaskannya. Dimana jawaban mereka berkaitan dengan bersuci dan shalat sebagai kewajiban agama tidak bisa memuaskan hati Ir. Karl.

Akan tetapi, seorang pekerja bangunan kemudian menyarankannya untuk menemui dan minta penjelasan kepada Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (Mbah hasyim). Saran ini tepat sekali. Sebab mbah Hasyim merupakan ulama yang mumpuni ilmunya. Selain itu, Beliau juga dikenal sebagai pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama, Rais Akbar. Kedalaman ilmu agama dan keluasan wawasan  Mbah Hasyim tentu tidak diragukan lagi.

Kedalaman ilmu dan keluasan wawasan Mbah Hasyim pernah diuji oleh Muhammad Asad Syihab, seorang penulis biografi mbah Hasyim. Asad sengaja datang kepada Mbah Hasyim untuk  memancing emosi, mengajak diskusi, dan menentang pendapat-pendapat Mbah Hasyim. Namun diluar dugaan, justru Mbah Hasyim melayani Asad dengan sabar, tenang, dan tidak terpancing emosi. Bahkan Mbah Hasyim mampu menjawab pembicaraan, sanggahan,  dan bantahan Asad dengan argumentasi-argumentasi yang bisa diterima dengan akal dan memuaskan. “Beliau bisa memberikan kepuasan kepada saya dengan cara-cara yang bijaksana,” kata Asad.

Dan benar Ir.  Karl  akhirnya menemui Mbah Hasyim pada tahun 1931. Selanjutnya insinyur berkebangsaan Belanda ini menjalin hubungan dan komunikasi yang intens dengan Mbah Hasyim. Ia bertanya dan berdiskusi tentang Islam dengan Mbah Hasyim dalam waktu yang cukup lama. Selain itu ia juga menghadiri majelis-majelis Mbah Hasyim. Kira-kira sepuluh bulan ia mulai merasa puas, memahami Islam, dan bisa menerima Islam.

Baca Juga  Ada Apa dengan Bilboard Kepak Sayap Kebhinekaan?

Ir. Karl merasa Mbah Hasyim mampu memahamkan Islam dengan mudah kepadanya. Gaya bahasa Mbah Hasyim yang halus dan menarik membuatnya mampu menangkap kebenaran Islam.  Lebih dari itu, hal-hal yang sulit mampu dijelaskan oleh Mbah hasyim dengan sederhana.  Sehingga orang yang mendengarkannya mudah memahami dan menerima apa yang disampaikan oleh Mbah Hasyim.

“Seandainya di dunia ini ada sepuluh orang saja seperti beliau yang mengkhususkan diri untuk dakwah Islam di Eropa umpamanya, dengan gaya bahasa beliau yang halus dan menarik, maka tidak diragukan lagi kita akan melihat hampir semua orang Eropa beragama Islam,” kata Ir. Karl.

Yang membuat Ir. Karl tertarik dengan Mbah Hasyim adalah pada awal-awal selama diskusi Mbah Hasyim justru menjelaskan Islam dengan berpijak pada buku-buku dan sumber-sumber yang pernah ia baca, bahkan dari agamanya, Nasrani. Mbah Hasyim tidak menggunakan buku-buku karangan orang Islam sebagai referensi berdiskusi dengannya. Bahkan Mbah Hasyim  sama sekali tidak pernah menyampaikan dalil-dalil Al Qur’an atau Hadis Rasulullah untuk menjawabnya.

Kenapa demikian? Karena Mbah Hasyim tahu bahwa Ir. Karl belum mempercayai Islam. Ir. Karl baru tahap awal ingin mengetahui Islam. Dengan demikian akan sia-sia jika Mbah Hasyim  menyampaikan dalil-dalil Al Qur’an atau Hadis kepada orang yang tidak percaya akan Islam. Sudah pasti Ir. Karl akan menolaknya. Karena itulah Mbah Hasyim menggunakan literatur-literatur yang Ir. Karl percayai dalam menjelaskan tentang Islam.

Baru ketika ia sudah memahami Islam dan mulai jatuh hati pada Islam Mbah Hasyim mulai memperkanalkan sedikit demi sedikit ayat-ayat Al Qur’an dan Hadis kepadanya.

  Selanjutnya: Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari… (2)

Mualim Mengajar di MTs. NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus