Muhammad Zaki Ahmad Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Hikmah Lockdown di Masa Rasulullah

2 min read

Foto: Kompasiana
Foto: Kompasiana

Pandemi yang melanda dunia saat ini, khusunya bangsa Indonesia, mengharuskan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)—atau katakanlah lockdown—oleh pemerintah, demi mencegah penyebaran koronavirus yang semakin meluas. Peristiwa seperti ini bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya, lockdown juga pernah terjadi dan dilakukan, dengan berbagai macam alasan yang melatarbelakangi. Tidak semata karena wabah atau pandemi. Salah satunya adalah peristiwa lockdown yang terjadi pada zaman Rasulullah dan para sahabat, ketika mereka giat memperjuangkan Islam.

Dakwah Rasulullah dalam menyampaikan risalah Islam tidaklah berjalan mudah. Kaum Quraisy, yang membenci kedatangan Islam pada masa itu, melakukan segala cara untuk menghentikan dakwah tersebut. Salah satu yang dilakukan mereka adalah memboikot Rasulullah, keluarga serta pengikutnya, secara ekonomi. Dalam buku Sirah Nabi Muhammad karya M. Quraish Shihab, tertulis bahwa pengumuman pemboikotan itu digantung di dinding ka’bah. Tertulis di dalamnya:

Tidak ada bantu membantu, tidak ada jual beli, tidak juga kawin-mawin, tidak ada damai sampai pendukung Muhammad bersedia menyerahkan secara sukarela untuk dicegah berdakwah atau untuk dibunuh.

Menurut perkiraan mereka, jalan pemboikotan ini lebih efektif daripada jalan penyiksaan fisik. Pemboikotan ini berjalan selama tiga tahun. Disebutkan dalam riwayat yang sahih bahwa pemboikotan ini mengakibatkan kaum muslimin kekurangan bahan makanan, hingga terpaka memakan dedaunan. Kelaparan dan rasa sakit dialami oleh Rasululah dan para sahabatnya. Dalam kondisi sulit seperti itu,Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk selalu bersabar dan ikhlas dalam menghadapi segala cobaan.

Cobaan itu datang dari Allah swt, seperti tertuang dalam QS. al-Baqarah [2]: 155. “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Cobaan itu diberikan agar kita menjadi kuat. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 139).

Baca Juga  Pengalaman dan Cinta Para Sufi yang Begitu Puitis

Cobaan juga mengajarkan kita untuk bersabar dalam kondisi apapun. “Allah mencintai orang-orang yang sabar.(QS. Ali ‘Imrān[3]: 146)Dan ayat, “Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.(QS. al-Thalaq [65]: 2-3).

Dalam masa sulit seperti itu Rasulullah juga mengajarkan untuk saling tolong menolong kepada para kerabat dan sahabatnya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Abu Thalib ketika mengundang Bani Hasyim dan mengajak meraka untuk menolong nabi dan kaum muslimin. Hakim bin Hizam, sepupu Sayidah Khadijah, Abul Ash bin Rabi’ dan Hisyam bin Umar membawakan gandum, kurma serta unta secara sembunyi-sembunyi sebagai bantuan.

Perlawanan Rasulullah dan para penolongnyamembuat ruang gerak kaum Quraisy semakin sempit. Akhir dari masa boikot ini adalah perlawanan sebagian orang Quraisy terhadap pemboikotan itu sendiri, untuk membantu kaum muslimin. Hisyam bin Amr, Zuhair bin Abi Umayyah, Muth’im bin Adiy, Abul Buhturiy, dan Zam’ah bin Al-Aswad adalah orang-orang yang bersepakat untuk membatalkan pemboikotan. Apalagi, pengumuman pemboikotan yang berada di dinding ka’bah itu juga telah dimakan rayap.

Rasulullah juga menganjurkan lockdown terkait wabah penyakit yang melanda suatu kaum. Seperti yang tertuang dalam hadis,“Bila kamu mendengar di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di Hadis lain dikatakan, “Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap di kampunya dengan penuh kesabaran dan mengetahui tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah swt tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Baca Juga  Sarung Sang Guru (4)

Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa lockdown yang menimpa Rasulullah serta para kerabat dan sahabatnya pada masa itu. Sebagai bangsa Indonesia, utamanya kaum muslimin, kita bisa mengambil ibrah dari peristiwa tersebut. Manusia adalah makhluk dinamis yang lahir dengan seperangkat potensi yang diberikan Allah. Dengan potensi itu, manusia harus selalu siap menjawab segala rintangan yang menimpa.

Alangkah baiknya kita bersabar, ikhlas, serta saling tolong menolong. Hilangkan rasa takut yang berlebihan terhadap masalah yang menimpa kita, karena sesunggunya “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.(QS. Al-Baqarah [2]: 286). Allah pasti akan memberi pertolongan atas musibah yang menimpa kita. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.”(QS. al-Thalaq [65]: 4). [AS, MZ]

Muhammad Zaki Ahmad Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *