Nuzulatul Afifah Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Isolasi Diri Adalah Cara Islam Saat Terjadi Wabah

2 min read

Foto: https://www.logique.co.id/
Foto: https://www.logique.co.id/

Beberapa bulan terakhir, penduduk dunia telah dikejutkan dengan fenomena yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Bermula dari Wuhan, China, virus Novel Korona atau yang jamak disebut Covid-19 menyebar dengan cepat ke seluruh daratan di muka bumi, menjangkiti jutaan orang, dan menewaskan ratusan ribu jiwa. Fenomena penyebaran Covid-19 ini kemudian ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemi, yang artinya wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas.

Virus Korona disinyalir berasal dari hewan-hewan yang diperjual-belikan di Pasar Huanan, Wuhan. Virus ini kemudian bermigrasi ke tubuh manusia dan menyerang organ paru-paru. Efek yang ditimbulkan adalah infeksi saluran pernafasan, pneumonia, hingga dapat mengakibatkan kematian. Gejala awal yang dapat dirasakan penderita, sangat mirip dengan flu biasa, yaitu: pilek, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, demam, dan badan pegal-pegal.

Penularan virus Korona terjadi melalui tetesan cairan (droplet) dari bersin atau batuk dan kontak fisik secara langsung atau melalui media. Penyebarannya terbilang sangat cepat. Sebab virus Korona dapat bertahan hidup cukup lama di permukaan benda. Lebih dari 200 negara yang sebagian warganya terinfeksi. Pemerintah di banyak negara harus bekerja keras mengatasi wabah ini. Segala upaya dikerahkan, bahkan sudah banyak negara yang menerapakan karantina wilayah (lockdown).

Sampai saat ini, tidak ada satu pihak pun yang mengklaim telah menemukan obat dan anti-virus untuk Covid-19. Meskipun ada, masih harus menunggu uji klinik yang butuh waktu tidak sebentar. Oleh karena itu, satu-satunya cara guna melawan Covid-19 ini adalah pencegahan terhadap penyebarannya yang massif. Karantina wilayah atau pembatasan sosial merupakan kebijakan yang banyak dilakukan. Namun, kebijakan ini pun berdampak signifikan pada kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Sebab segala aktivitas sosial, ekonomi, bahkan keagamaan menjadi terganggu.

Baca Juga  Menumbuhkan Toleransi Politik untuk Pemilu Damai

Di Indonesia, guna meringankan dampak kebijakan penanganan covid-19, terutama pada sektor ekonomi, pemerintah menelurkan beberapa kebijakan pendamping, seperti: pemberian bantuan pada masyarakat terdampak, penghematan belanja negara, penerbitan kartu prakerja untuk karyawan-karyawan yang telah di-PHK, pemberian diskon listrik 50% untuk pengguna 450 VA dan 900 VA, dan seterusnya.

Meskipun sekolah-sekolah dan kampus-kampus telah diliburkan, dan Work From Home (WFH) diberlakukan di instansi-instansi swasta dan negeri, ditambah lagi pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah, rasanya masih saja sebagian masyarakat yang tidak mengindahkan protokol-protokol dari pemerintah guna membatasi kontak fisik antarorang yang berpotensi memicu penyebaran Covid-19 dalam skala besar.

Memang tidak dipungkiri sebagian masyarakat yang abai terhadap anjuran dan kebijakan pemerintah sebab kondisi di mana masih harus bekerja di luar rumah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi tidak sedikit juga masyarakat yang memang terlihat menyepelekan kondisi pandemi ini. Hal itu terutama dilakukan oleh para muda-mudi yang masih sering keluar rumah untuk sekedar berkumpul bersama. Jika ditanya kenapa mereka tidak takut tertular virus ini?  Mereka sering menjawab, “mati itu di tangan tuhan, kematian akan datang jika memang sudah waktunya”.

Penyepelean sebagian orang terhadap Covid-19 membuat mereka mengabaikan anjuran dari pemerintah yang justru membahayakna bagi orang banyak. Tidak jarang beberapa pihak justru menyerang dan nyiyirin kebijkan-kebijakan pemerintah itu. Padahal kebijakan-kebijkan pemerintah tersebut diambil demi kemaslahatan bangsa dan negara. Dalam situasi seperti ini, solidaritas dan tekad bersama untuk mendukung langkah-langkah kebijakan pemerintah dalam melakukan penanganan pandemi Covid-19 adalah utama. Lebih-lebih bagi umat muslim.

Kaidah usul fikih menyebutkan, “dar’ al-mafâsid awlâ min jalb al-masalih (menghindarkan kerusakan/kerugian diutamakan atas upaya membawakan keuntungan/kebaikan). Dalam konteks pandemi Covid-19, kaidah ini menjadi dasar bahwa pencegahan terhadap penyebaran virus Korona lebih utama bagi umat Muslim dengan menerapkan protokol-protokol yang mengatur tata ibadah yang biasa dilakukan seperti salat berjemaah dan kegiatan-kegiatan ibadah lain yang melibatkan umat dalam jumlah besar. Bahkan Rasulullah sendiri mengajarkan bentuk kebijakan isolasi diri seperti dalam sabdanya:

Baca Juga  Bulan Syakban: Mengingat Kembali Peristiwa Perpindahan Arah Kiblat

إِذَا سَمِعْتُمُ بِالطِّاعُوْنِ بِأَرْضٍ فَلاَتَدْخُلُوهاَ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهاَ فَلاَتَخْرُجُوْا مِنْهاَ

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka janganlah tinggalkan tempat tersebut.” (HR Bukhari)

Hadis di atas merupakan bentuk kebijakan ketika terjadi wabah kusta pada zaman Rasulullah. Nabi Muhammad Saw menghimbau agar para penduduk kota Madinah tidak meninggalkan kota guna menghambat penularan yang semakin meluas. Dari sini kita bisa belajar bahwa jika dalam menjalani hidup tidak berusaha apapun dan hanya berpasrah diri saja, maka justru akan mendapatkan dosa. Sebaliknya, jika kita berusaha dalam menjalani hidup, selalu berbuat kebaikan, dan senantiasa beribadah kepada Allah Swt maka akan mendapatkan pahala.

Dalam menghadapi sebuah penyakit Islam juga menganjurkan kepada kita untuk selalu bersabar, berpikir positif, dan senantiasa berdoa kepada Allah Swt sambil mengisolasi diri until memutus mata ratai penularan. Perpaduan antara doa dan ikhtiar sama dengan mempercayai bahwa pertolongan Allah akan selalu ada untuk hamba-Nya yang tetap mau berusaha dan tidak putus asa. Tanamkan keyakinan bahwa setiap ujian yang Allah berikan pasti tidak akan melampaui batas kemampuan dari hamba-hamba-Nya. Wallahu A’lam [FM]

Nuzulatul Afifah Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *