Akhlak terhadap Musafir

Sumber: Nu.or.id

Bepergian, dengan fasilitas ternyaman sekalipun, tetap saja terasa berat dan tidak menyenangkan. Makan, minum, istirahat dan berbagai bentuk kenyamanan lain yang biasa kita lakukan dan nikmati di rumah terpaksa harus terkurangi selama kita bepergian. Karena itulah, tidak berlebihan kalau Rasulullah menggambarkan bahwa bepergian itu adalah sebentuk siksaan (As-safaru qith’atun minal ‘Adzab).

Kiranya, karena ketidaknyamanan fisik dan psikologis inilah kemudian Allah begitu “care” dengan hamba-Nya yang bepergian. Berbagai kemudahan dan perlakuan khusus diberikan kepada mereka. Puasa Ramadhan yang wajib  boleh mereka tinggalkan dan diganti di lain hari. Salat fardhu yang empat rakaat didiskon 50% untuk mereka, sehingga tinggal dua rakaat. Dua salat dengan waktu berbeda boleh digabung dan dilakukan di waktu salah satu dari dua salat tersebut. Pemilihan waktunya pun longgar, boleh di waktu salat yang pertama atau di waktu salat yang kedua.

Tidak hanya itu, Allah memberi akses khusus buat mereka berupa doa agar semua beban mereka teratasi: berat dan capekanya perjalanan terasa ringan dan mudah, jauhnya jarak terasa dekat, pemandangan yang mengganggu selama perjalanan dihindarkan, serta harta dan keluarga yang ditinggal di rumah aman dan terjaga.

Fasilitas khusus tersebut masih ditambah lagi dengan jaminan Allah bahwa doa mereka selama perjalanan akan dikabulkan. Rasulullah saw menegaskan bahwa doa para musafir adalah salah satu doa yang pasti dikabulkan, selain doa orang yang terdzalimi dan doa orang tua untuk anaknya.

Begitulah. Betapa sayang dan perhatiannya Allah pada hamba-hamba-Nya yang sedang dalam perjalanan. Semua tentang mereka diperhatikan: fisiknya, perasaannya, hartanya, keluarganya, bahkan harapan dan keinginannya. Semua ini dicontohkan oleh Allah agar kita hamba-Nya meniru mengusung semangat yang sama: “care” terhadap saudara-saudara kita yang dalam perjalanan, dengan cara membantu mengurangi “siksaan” perjalanan yang mereka alami.

Jangan sampai kita justru menambah beban perjalanan mereka dengan cara yang kita sadari atau pura-pura tidak kita sadari. Misalnya dengan memarkir kendaraan di area terlarang, atau di area tidak terlarang tapi dengan cara yang menghambat pengguna jalan lain. Atau berkendara dengan cara yang tidak nyaman bagi orang lain, seperti mengendara dengan kecepatan tinggi, zig-zag dan main salip di antara pengendara lain. Atau berkendara dengan cara yang mengundang emosi pengguna jalan lain, seperti sering membunyikan klakson atau tidak pelan-pelan saat melewati genangan air sehingga memercikkan air kotor ke orang lain. Atau mengurangi bahkan menutup ruas jalan untuk acara atau kepentingan pribadi.

Yang disebut terakhir ini bisa jadi merupakan pemandangan yang tidak asing di sekitar kita. Betapa seringnya, terutama di musim pernikahan,  kita jumpai jalan-jalan yang ditutup separuh atau bahkan ditutup total untuk tenda  pernikahan. Pengguna jalan yang terganggu pun menggerutu atau mungkin memendam makian karena harus putar ke arah yang jauh, atau terpaksa putar balik ke arah semula yang mungkin ukuran jaraknya tidak seberapa, tapi ukuran beratnya di hati tidak terkira.

Yang seperti ini perlu kita hindari. Benar kita mungkin bisa mengantongi izin dari pihak terkait untuk menutup atau menyempitkan jalan demi suatu acara, tapi para pengguna jalan cenderung berpikir bahwa jalan adalah hak umum yang tidak boleh dipakai untuk kepentingan pribadi, walaupun hanya sebentar. Dan yang lebih penting lagi, dengan praktek semacam ini kita mengabaikan kepentingan orang-orang yang sedang dalam perjalanan yang begitu diperhatikan oleh Allah. Kita menambah beban fisik dan psikologis mereka, padahal Allah, dengan kemahamurahan-Nya, mengurangi beban-beban tersebut.

Ini intinya adalah soal tenggang rasa. Allah mengajari kita bagaimana merasakan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh mereka yang sedang dalam perjalanan, dan kemudian bagaimana mengurangi itu dan tidak justru menambahnya.

Tentang ini, saya tak akan melupakan pelajaran berharga dari seorang bapak tua beberapa tahun silam. Beliau tinggal di bangunan kecil antara bibir kali dan bahu jalan sekitar 2 km dari rumah saya. Ditemani kompressor lusuh dan sebuah bak hitam berisi air keruh, beliau bekerja sebagai penambal ban.

Suatu ketika, sepulang dari bepergian, saya mampir untuk menambah angin. Melihat kompressornya yang besar, saya yakin beliau juga melayani roda empat.

“Angin, Pak”, kata saya setelah meminggirkan mobil. Beliau merespon dengan gelengan kepala.

“Lo, kompressornya rusak?”, tanya saya heran. “Ngak, Mas. Tapi gak enak ngalangi jalan”, kata beliau menjelaskan.

Dengan rasa heran saya kembali ke belakang kemudi. Sekilas sempat saya amati ruas jalan yang terambil body mobil saya: hanya sekitar 50cm. Sekali lagi, hanya 50 an senti. Dan lagi, bahu jalannya tidak bergaris. Artinya, boleh berhenti di situ.

Bagi saya, bapak tua ini telah menunjukkan kepada saya bahwa begitulah semestinya kita memikirkan orang lain. Saat menolak mengisi angin mobil saya, beliau seakan menasihati saya, bahwa kepentingan kita jangan sampai mengganggu kepentingan orang lain.

Beliau tentu sadar, angin yang masuk ke ban mobil saya adalah rupiah yang mengalir ke kantongnya. Tapi, beliau lebih memilih logika tenggang rasa,  bahwa setiap mobil yang berhenti di hadapannya, walaupun hanya 5 menit, adalah gangguan bagi pengguna jalan lain.

Bapak tua ini telah mengajari saya sebuah sikap hidup yang mulia, yaitu tenggang rasa. Bahwa kita ada untuk orang lain, bukan untuk mengganggapnya tiada. Beliau mungkin tidak tahu bagaimana dan mengapa Allah memberi kemudahan kepada hamba-hamba-Nya yang musafir, tapi beliau menunjukkan pada saya contoh nyata bagaimana bersikap ‘care’ terhadap orang yang sedang dalam perjalanan, sebagaimana yang dicontohkan Allah. Wallahu A’lam.

0

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya; Founder www.lisanarabi.net; Kontributor Tetap Laman Pembelajaran Bahasa Arab di aljazeera.net

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.